ALLAH SWT menciptakan bumi ini dengan begitu indahnya. Bumi ini tidak hanya diisi dengan tanah yang rata, yang hanya boleh digunakan untuk membuat bangunan bagi tempat tinggal manusia. Tapi, ada pula gunung-gunung yang dipenuhi pokok-pokok sebagai tempat tinggal haiwan-haiwan tertentu.
Allah SWT menciptakan gunung-gunung sebagai paku bumi. Seperti layaknya paku, suatu benda berbahan kayu yang ditampal di dinding tidak akan bertahan lama jika tidak dipaku dengan baik. Begitu pula bumi. Jika pakunya sudah rosak, maka dapat dikatakan bumi ini pun tidak akan bertahan lama. Inilah yang akan terjadi di akhir zaman.
Rasulullah ﷺ sudah mewartakan bahawa salah satu tanda kiamat adalah lenyapnya gunung-gunung dari tempatnya. Baik kerana lenyap dengan sendirinya akibat ditelan bumi, tanah runtuh dan lain sebagainya. Maupun karena ulah manusia akibat pembangunan sehingga merobohkan gunung seperti yang teradi sekarang ini di beberapa negara.
Samurah RA meriwayatkan bahawa Rasulullah ﷺ bersabda, "Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga gunung-gunung lenyap dari tempatnya, lalu kalian menyaksikan kejadian-kejadian besar yang belum pernah kamu saksikan sebelumnya," (HR. Thabrani)
Para pengguna internet, tentunya mengenal betul dengan aplikasi Google Maps. Kecanggihan aplikasi ini dirancang khusus agar dapat digunakan untuk menemukan tempat atau lokasi dengan informasi peta yang telah ditawarkan.
Namun percayakah anda jika teknologi Google Maps ini ternyata mampu membuktikan kebenaran ucapan Rasulullah pada 14 abad yang lalu.
Ucapan Rasulullah yang mengatakan tentang jarak antara dua pintu surga yakni perjalanan dari kota Makkah-Hajar.
Dan pernyataan dari Rasulullah ini telah dibuktikan dengan kecanggihan aplikasi Google Maps seperti dikutip dari palingseru.com.
Dalam kecanggihan teknologi di dunia modern ini, Google Maps memperlihatkan hasil jarak yang sama dengan apa yang diucapkan oleh Rasulullah.
Dalam hasil tersebut memperlihatkan jarak dari Makkah ke dua kota dengan menunjukan angka 1.272 km.
Sebelumnya Rasulullah pernah bersabda didepan para sahabatnya tentang jarak perjalanan dari kota Makkah-Hajar dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhU.
Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam HR. Muslim no. 287 yang berbunyi :
"Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya! Sungguh jarak antara dua pintu (yang ada daun pintunya) dari pintu-pintu surga seperti antara Makkah dengan Hajar, atau seperti antara Makkah dengan Bushra." (HR. Muslim no. 287).
Dan jika dilihat dari Google Maps menunjukan jika jarak dari Makkah ke dua kota yang berbeda itu sama-sama menunjukan angka 1.272 km itu berarti jarak yang diucapkan oleh Rasulullah sesuai dengan hasil GPS, Satelit, Pesawat, UAV ataupun roket luar angkasa.
Ini pastinya menjadi mukjizat yang luar biasa.
Kenapa luar biasa? sebab dulu saat Rasulullah lahir di abad ke-7, belum ada satelit dan bahkan tidak ada alat-alat canggih seperti sekarang ini.
Namun wallahu a'lam jika hasil jarak antara Makkah dengan Hajar tersebut sama dengan hasil Google Maps.
Dalam pelbagai hadis sahih dijelaskan, akan senantiasa ada sekelompok umat Islam yang berpegang teguh di atas kebenaran. Mereka akan melaksanakan perintah Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan konsekuen, memperjuangkan tegaknya syariat Islam, dan meraih kemenangan atas musuh-musuh Islam, baik dari kalangan kaum kafir, maupun kaum munafik dan murtadin.
Kumpulan Islam ini disebut ath-thaifah al-manshurah, atau kelompok yang mendapat kemenangan. Kumpulan ini akan senantiasa ada sampai saat bertiupnya angin lembut yang mewafatkan seluruh kaum beriman menjelang hari kiamat kelak. Kumpulan ini bermula dari Rasulullah saw beserta segenap sahabat, berlanjut dengan generasi-generasi Islam selanjutnya, sampai pada generasi Islam yang menyertai imam Mahdi dan Nabi Isa dalam memerangi Dajjal dan memerintah dunia berdasarkan syariat Islam.
Hadis-hadis tentang ath-thaifah al-manshurah diriwayatkan banyak jalur dari sembilan belas (19) sahabat. Menurut kajian sejumlah ulama hadis, hadis-hadis tentang ath-thaifah al-manshurah telah mencapai derajat mutawatir.
Kumpulan umat Islam ini adalah kumpulan elit umat Islam. Mereka adalah sekumpulan kecil kaum yang sering disebut sebagai 'fundamentalis Islam', di tengah majoriti umat Islam yang lalai dari kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mereka adalah 'muslim-muslim militan', yang mampu membuat musuh-musuh Allah swt sangat cemas.
Rasulullah saw menamakan kumpulan ini ath-thaifah al-manshurah, kelompok yang mendapatkan kemenangan. Penamaan ini merupakan sebuah janji kemenangan bagi mereka, baik dalam masa yang cepat atapun lambat, baik kemenangan materi maupun spiritual.
Di antara hadis-hadis tentang ath-thaifah al-manshurah tersebut adalah sebagai berikut:
"Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang meraih kemenangan (karena berada) di atas kebenaran, orang-orang yang menelantarkan mereka tidak akan mampu menimbulkan bahaya kepada mereka, sampai datangnya urusan Allah sementara keadaan mereka tetap seperti itu." [1]
"Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas urusan Allah. Mereka mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka sampai datangnya kiamat, sementara keadaan mereka tetap konsisten seperti itu. "[2]
Ashabu Rayati Suud, Generasi Akhir Thaifah Mansurah yang dijanjikan
Dalam sebuah riwayat tentang Thaifah manshurah disebutkan, "Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka, sehingga akhirnya kumpulan terakhir mereka memerangi Dajjal. "[3]
Riwayat tersebut menjelaskan bahawa di akhir zaman, kumpulan Thaifah Manshurah adalah mereka yang bergabung dengan Al-Mahdi untuk memerangi musuh-musuh Islam, dimana Dajjal adalah salah satu yang akan dikalahkan oleh kumpulan ini. Parameter kebenaran saat itu adalah mereka yang bersama Al-Mahdi, sedang mereka yang menolak Al-Mahdi adalah munafik (hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis fitnah duhaima '). Sedang kumpulan Thaifah Manshurah yang memberikan sokongan kepada Al-Mahdi telah dijelaskan ciri-ciri mereka dalam beberapa riwayat yang kemudian dikenal dengan nama Ashabu Rayati Suud, Pasukan Panji Hitam dari Khurasan.
Membicarakan kemunculan Al-Mahdi tidak boleh terlepas dari membicarakan satu kumpulan manusia yang menamakan dirinya pasukan panji hitam (Ashhabu Rayati Suud / The Black Banner). Kumpulan ini mempunyai beberapa ciri khusus yang akan lebih memudahkan bagi seseorang untuk mengenalinya. Walaupun demikian, tidak mudah bagi seseorang untuk menjustifikasi kumpulan tertentu sebagai Ashhabu Rayati Suud, sebab ciri-ciri tersebut juga banyak dimiliki oleh banyak manusia dan kelompok, sedang riwayat yang menunjukkan asal kewujudan mereka (Khurasan) merupakan sebuah wilayah luas yang dihuni banyak manusia.
Siapakah sebenarnya Ashahbu Rayati Suud yang kelak menjadi penyokong Al Mahdi?
Benarkah riwayat yang membicarakan kemunculan kumpulan ini?
Ada beberapa riwayat yang menjelaskan kewujudan kumpulan ini, di antaranya adalah sebagai berikut
"Akan keluar sebuah kaum dari arah Timur, mereka akan memudahkan kuasa bagi Al Mahdi."
"Dari Khurasan akan keluar beberapa bendera hitam, tak sesuatu pun boleh menahannya sampai akhirnya bendera-bendera itu ditegakkan di Iliya (Baitul Maqdis)."
"Akan keluar manusia dari Timur yang akan memudahkan jalan kuasa bagi Al 'Mahdi."
Namun riwayat-riwayat tersebut mempunyai cacat, baik dari sisi sanad dan juga periwayatannya. Sedangkan riwayat tentang Ashhabu Rayati Suud yang sampai pada derajat hasan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban:
"Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berjaya menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu. "Kemudian beliau saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda:" Maka jika kamu melihatnya, berbai'atlah walaupun dengan merangkak di alas salji, kerana dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi.
Riwayat tersebut tidak banyak menjelaskan ciri-ciri fizikal tertentu secara terperinci sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat lain. Tentang maksud perbendaharaan dalam riwayat tersebut Ibnu Katsir berkata, "Yang dimaksud dengan perbendaharaan di dalam hadits ini ialah perbendaharaan Ka'bah. Akan ada tiga orang putera khalifah yang berperang di sisinya untuk memperebutkannya hingga datangnya akhir zaman, lalu keluarlah Al-Mahdi yang akan muncul dari negeri Timur.
Zaman Kemunculan Ashabu Rayati Suud
Berdasar riwayat Tsauban di atas, kemunculan Ashhabu Rayati Suud adalah di saat kemunculan Al-Mahdi. Riwayat tersebut mengisyaratkan bahawa kewujudan Ashhabu Rayati Suud dan embrionya sudah muncul jauh-jauh hari sebelum kemunculan Al-Mahdi. Sebab, kemunculan sebuah kumpulan yang kelak mewakili satu-satunya kumpulan yang haq di antara kumpulan umat Islam yang ada jelas tidak mungkin muncul dengan sekejap, sim salabim. Kehadiran mereka sudah ada dan embrio mereka terus berkembang di tengah kerasnya kecamuk perang dan debu-debu mesiu.
Ciri khas mereka dalam riwayat di atas -memiliki kemampuan membunuh lawan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum sebelumnya - menggambarkan betapa dahsyatnya daya tempur dan strategi ketenteraan yang mereka miliki.
Riwayat ini juga mengisyaratkan bahawa aktiviti mereka sebelum kemunculan Al-Mahdi adalah perang dan pembunuhan, perkara yang menjadi ciri khas thaifah manshurah di akhir zaman.
Riwayat Tsauban di atas juga mengisyaratkan bahawa kemunculan Ashabu Rayati Suud dari Khurasan ini berlaku di saat kematian seorang raja Saudi yang dilanjutkan dengan pertikaian tiga putra khalifah untuk memperebutkan Kaabah.
Siapakah yang dimaksudkan dengan Ashabu Rayati Suud?
Sangat panjang membincangkannya dalam meneliti siapa yang dimaksudkan. Yang jelas, mereka adalah para mujahidin yang terlatih dalam seni berperang, yang senantiasa dikotori oleh debu-debu mesiu, dan bibirnya selalu basah oleh takbir dan tahmid, mereka selalu menjadi sasaran fitnah sebagai pelaku pengganas yang dicap oleh musuh-musuh tauhid, baik Barat atau penguasa munafikin.
Boleh saja mereka itu berasal dari satu induk kekuatan Mujahidin, yang Barat menyebutnya sebagai Al-Qaeda, kerana kumpulan inilah yang sentiasa menyemarakkan semangat jihad melawan musuh musuh Islam dalam beberapa dasa warsa terakhir.
Al-Qaeda sekarang ini tlah terbahagi menjadi beberapa puak perjuangan, seperti Taliban di Afghanistan dan Pakistan, Islamic State di Iraq dan Syria, Jabhah Nusra di Syria, dan beberapa mujahidin Syam lain, seperti Ahrar Syam dan Jabhah Islamiyah, dan beberapa puak mujahidin di Yaman AQAP, mujahidin di Maghribi AQIM, dan mujahidin Sinai di Mesir.
Dengan terbaginya beberapa puak, kekuatan kaum munafik selalu ingin melemahkan kaum Mujahidin ini dengan aneka fitnah untuk memecah belah. Persis yang kaum munafikin lakukan terhadap kekuatan Mujahidin Afgahnistan di era 80-an, sehingga kekuatan Mujahidin yang pernah memukul mundur kekuatan Soviet menjadi lemah, berpecah-belah, dan dikalahkan oleh perpecahan puak yang ada. Amat disayangkan, kini Afghanistan dikuasai kembali oleh pemerintahan sekular.
Sebab itu, eramuslim merasa perlu membuat satu sebutan bagi para Mujahidin yang sedang berjuang dengan panggilan yang diramalkan juga oleh Rasulullah SAW dengan sebutan Ashabu Rayati Suud atau Mujahidin Panji panji hitam. Eramuslim berharap dan mendoakan, agar mereka boleh bersatu di bawah panji tauhid, bersama-sama menegakkan kalimat Allah swt, selaras dengan hadis-hadis Rasulullah SAW tersebut.
Penyatuan sebutan ini juga sekaligus untuk mematahkan pendapat perpecahan yang dihembuskan oleh pihak kafir dan munafik Laknatullah, yang berkeinginan cahaya Islam menjadi malap dan musnah.
Pembaca, izinkanlah kami, Eramuslim, akan menuliskan mereka para mujahidin dalam setiap artikel kami sebagai Mujahidin Panji Hitam! Allahu Akbar.
[3]. HR. Abu Daud: Kitab al-jihad no. 2125, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1959.
[4] Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan Bab Khurujil Mahdi 2: 1467: Mustadrak Al-Hakim 4: 463-464. Dan dia berkata, "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain." (An-Nihayah fit Firan 1:29 dengan tahqiq DR. Thana Zaini).