Lirik Kuno Navajo (10) : Bantuan kawan lama

Tuk!

Sebuah perkenaan kecil membuat bola golf itu meluncur mendekati lubang. Sayang sekali, kurang dari 10 cm menuju lubang, bola itu berhenti. Dua orang pria paruh baya yang berdiri sekitar 6 yard dari lubang tersebut memberikan respon yang berbeda satu sama lain atas kegagalan bola tersebut untuk mencapai lubang.

“Aaarggghhh!!!”, seru pria pertama yang baru saja memukul bola tersebut dengan stik yang dipegangnya. Sambil mengepalkan jemarinya, dia mengayunkan lengannya seperti sedang meninju sesuatu, dia menunjukkan expresi kekesalannya.
“Wuuuhhuuu…”, seru pria yang seorang lagi senang. “Kini giliranku dan kamu tidak akan mendapatkan ‘Birdie’ kawan”.

Yang dimaksudkan oleh pria kedua tersebut adalah sebuah istilah skor dalam olahraga golf. Jelas sekali mereka berdua sedang bertanding golf.


“Rumputnya tidak dipotong dengan benar,” keluh pria pertama yang sepertinya masih belum menerima kegagalannya memasukkan bola.
“Ah Alex… itu karena pukulanmu seharusnya sedikit lagi ditambah tenaganya.”

Mereka berdua berjalan mendekati lubang yang ditandai dengan bendera. Pria yang dipanggil Alex adalah Alexander Spearwood, seorang pengacara sukses yang memiliki reputasi yang dikenal luas. Sementara pria yang satu lagi adalah Walter Greg, atau biasa dipanggil Walt, seorang ahli pemetaan udara yang telah memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya.

Mereka belum lama bertemu kembali, yaitu sekitar seminggu sebelumnya, setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Keduanya berasal dari universitas yang sama namun berbeda fakultas. Keduanya memiliki prestasi yang baik di fakultas masing-masing dan aktif dalam kegiatan olahraga bersama. Setelah 15 tahun lewat, secara kebetulan mereka bertemu lagi dalam sebuah lelang barang antik dan saling bertukar kontak.

Setelah seminggu, mereka memutuskan untuk bermain golf bersama sekaligus bersantai sambil mengenang masa lalu. Namun bukannya menjadi lebih santai, Alex malah mendapatkan berita yang membuatnya menjadi berpikir keras. Alex mendapatkan informasi samar dari Walter tentang gambaran pekerjaan yang sedang dilakukan Peter adiknya. Walter juga mengabarkan resiko pekerjaan yang bisa saja diterima oleh adiknya. Walter memiliki informasi tersebut karena dia pun pernah bekerja untuk pihak yang sama yang saat itu juga sedang mempekerjakan Peter.

Tadinya Alex ingin menggali lebih banyak lagi informasi namun sayang Walter mendapat panggilan urgen yang harus segera dipenuhinya. Mereka pun berpisah dan tidak menyelesaikan permainan golf mereka hingga lubang yang terakhir. Mereka berjanji akan bertemu kembali pada kesempatan berikutnya. Dalam perjalanan pulang, Alex memikirkan semua informasi yang diterimanya dari Walter. Dia jadi sangat memikirkan tentang apa dan bagaimana kabar Peter adiknya saat itu berdasar informasi tersebut. Namun informasi tersebut semuanya bersifat tidak pasti dan Alex belum benar-benar memahami keseluruhan ceritanya. Karena itulah, Alex sangat menantikan waktu pertemuan berikutnya dengan teman lamanya itu dan akan menanyakan lebih banyak lagi informasi yang dibutuhkan agar semuanya menjadi jelas.
Lirik Kuno Navajo (10) : Bantuan kawan lama
Lirik Kuno Navajo (10) : Bantuan kawan lama
Sungguh sayang, pertemuan tersebut yang merupakan pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun ternyata juga sekaligus adalah pertemuan terakhir mereka. Walter secara misterius meninggal di kamar tidurnya pada malam hari setelah pertemuan tersebut. Keesokan harinya, Alex mendapat informasi di telepon genggamnya yang mengabarkan tentang meninggalnya Walter akibat serangan jantung pada malam sebelumnya. Pesan tersebut dikirimkan ke semua kontak dalam telepon genggam Walter oleh putra dari Walter sebagai notifikasi untuk semua kolega. Sontak Alex pun kaget mendapatkan kabar duka yang mengejutkan tersebut.

Sehari sebelumnya Walter terlihat sangat sehat dan sama sekali tidak menunjukkan gejala sakit. Dia bahkan bercerita tentang kebiasaan lamanya yang masih dijaganya yaitu berjoging setiap 3 hari. Tidak seperti Alex yang dua kali dirawat di rumah sakit karena penyakit lamanya kambuh dalam setahun terakhir, Walter bahkan tidak pernah sekalipun mengalami sakit pada tahun itu. “Jika dia begitu sehat, mengapa dia bisa terkena serangan jantung”, demikian pikir Alex.

Rasa curiga Alex pun muncul. Jika bukan karena sakit jantung lalu karena apa? Sebagai seorang pengacara yang biasa berurusan dengan pihak berwenang, Alex mengetahui bahwa terdapat banyak “cara” untuk membuat seseorang mengalami serangan jantung. Apalagi Walter baru saja menyelesaikan sebuah proyek “futuristik” yang seharusnya di rahasiakannya dengan rapat. Selama ini Walter memang mampu menjaga kerahasiaan informasi ini, namun kemarin Walter menceritakannya kepada Alex pada saat sedang bermain golf.

Perasaan curiga itu kemudian semakin kuat karena pada saat melayat dan menghadiri pemakaman Walter, Alex melihat dan mendengar beberapa hal yang dirasakannya ganjil. Karena itulah sepulang dari pemakaman Walter, Alex mulai memikirkan cara untuk “mengeluarkan” Peter dari tempat dia bekerja saat itu. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari Shannon, istri Peter, Alex mulai menghubungi kolega-koleganya yang mungkin dapat membantu upayanya tersebut.

*******************

“Disini radio Pajarito Country menyapa anda. Ingatlah, meski apa yang datang dari langit tidak selalu indah, tapi hidup harus terus berjalan. Jadi tetaplah bertahan, tangguh, dan bijaksana. Terima kasih dan sampai jumpa lagi. Selamat malam.”

“Nakai, kamu masih ingat tuan Alex? Dia yang membela kita dalam kasus pencemaran sungai dekat reservasi sekitar 12 tahun lalu.”, demikian kalimat perkenalan yang dikatakan kepala suku Charanimo terhadap Nakai ketika baru saja selesai membawakan acara radionya.
“Ya… Nakai tentu saja ingat. Ada kepentingan apakah seorang Navajo yang jauh menyapa kami yang dekat di malam penuh bintang begini?”, Nakai menjawab.

“Tuan Nakai, kamu membawakan acara radio yang menarik. Saya suka mendengarkannya. Bagus sekali.”, Alex pun membuka pembicaraan dengan Nakai yang disaksikan oleh kepala suku Charanimo.
“Terimakasih. Nakai hanya ingin menyadarkan banyak orang bahwa kita hidup dalam bahaya dan harus senantiasa berhati-hati.”
“Tepat sekali. Karena itulah saya membawa banyak informasi yang dapat membuat acaramu menjadi lebih semarak.”
“Informasi apakah itu? Tentunya berhubungan dengan acara yang dibawakan Nakai kan?”
“Tentu saja. Informasi yang lebih detail tentang begitu banyak konspirasi yang terjadi di negara ini maupun di dunia luar.”
“Nakai ingin mendengar dulu seperti apa informasi-informasi itu.”
“Tentu. Kita bisa berbicara tentang itu nanti. Saya juga akan membantu radiomu agar memiliki pemancar yang lebih kuat dengan waktu siaran yang lebih lama jika kamu berkenan.”

Nakai terdiam sejenak sebelum kemudian berbicara, “Hmmm… Nakai berpikir untuk apakah tuan Navajo yang jauh mau melakukan itu untuk Nakai?”

“Begini….”, kata Alex mulai bercerita. Sambil bercerita, Alex juga mengeluarkan foto-foto adiknya dan beberapa dokumen lainnya untuk melengkapi ceritanya.

*******************

Apa yang diceritakan Walter? Wajarkah kematiannya? Dan apa yang dibicarakan antara Alex, Nakai dan sang kepala suku?

Tunggu lanjutan “dongeng” Navajo ini berikutnya….

By patsu Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar by Google dan Patsus Citox

http://patriotgaruda.com/2016/03/04/lirik-kuno-navajo-10-bantuan-kawan-lama/

Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru

“Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehku?”, Peter seperti merutuki dirinya sendiri. “Sudah 3 bulan berlalu dan saya baru menemukan ide ini sekarang.”

Di ruang depan lab quantum, Peter seorang diri mengutak-atik “dekoder” yang tersambung ke pesawat TV. Dia sedang menentukan setting pencarian frekuensi pencarian lewat komputer laptopnya yang tersambung ke alat tersebut. Setelah menentukan frekuensi mula pencarian pada frekuensi FM, dia pun mulai melakukan pencarian. Di pesawat televisi hanya terlihat cahaya biru namun dengan suara yang berganti-ganti pada setiap siaran radio yang tertangkap. Pada setiap siaran radio yang terdengar, Peter mendengarkan dengan seksama seolah menunggu sesuatu. Jika dia merasa dia tidak yakin dengan apa yang didengarkannya maka dia pun meneruskan pencarian dengan memindahkan pada frekuensi berikutnya yang tertangkap.

Saat itu sudah hampir jam 2 malam dan seluruh ruangan berada dalam kesunyian. Kemungkinan besar semua pekerja telah tidur atau berada di kamarnya masing-masing. Mungkin masih ada beberapa orang di ruang workstation atau ruang experimen namun nyaris tak ada suara yang terdengar dari semua ruangan. Tidak ada lagi yang berlalu lalang di dalam lab maupun pada koridor-koridor penghubung antar lab. Meskipun akses pada setiap ruang workstation, ruang experimen dan kamar hanya berlaku bagi individu yang bekerja dalam lab tersebut, pintu-pintu utama dan ruang depan laboratorium bisa diakses oleh seluruh pekerja yang diizinkan memasuki “Hive”. Sarang atau “hive” adalah istilah bagi seluruh area gedung bawah tanah yang dapat diakses satu sama lain lewat koridor utama. Terdapat 6 lantai dalam “sarang” yang setiap lantainya dapat diakses lewat lift tengah. Sedangkan untuk ke permukaan terdapat lift khusus pada ujung koridor setiap lantai yang dapat diakses setelah melewati 3 bagian yang masing-masing dibatasi oleh sebuah pintu baja anti ledakan, pintu kaca tebal anti peluru dan koridor panjang.

“Dimana frekuensi radiomu pak tua? Apakah radiomu masih memancarkan siaran di jam begini malam?”, Peter berbicara kepada dirinya sendiri.

Setelah berkali-kali mengganti frekuensi pencarian, menajamkan filter dan mencoba berbagai wilayah penerimaan modulasi, Peter sepertinya sudah menemukan yang dicarinya. Pada jeda dari siaran radio yang sedang didengarkannya saat itu, terdengar sebuah yodel Navajo yang diiringi dengan tetabuhan khasnya. Meskipun tidak begitu lama, Peter merasa bahwa itulah siaran radio yang dicarinya. Namun siaran tersebut tidak lagi dilayani oleh seorang penyiar dan hanya berupa kumpulan lagu-lagu country dengan sesekali diselingi yodel-yodel yang khas Navajo tersebut. Kemungkinan karena waktu siaran tersebut sudah terlalu larut malam maka tidak ada lagi penyiar yang menungguinya.

“Baiklah… sepertinya inilah radio tersebut. Aku akan coba dengarkan lagi besok ketika ada kesempatan. Semoga si Indian tua Nakai itu juga sedang siaran. Mungkin saja ada informasi yang bisa aku dapatkan!”, demikian yang dipikirkan Peter. Peter mencatat frekuensi radio tersebut yang berada dalam rentang FM dan ternyata dipancarkan masih di sekitar Los Alamos. Diapun meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya untuk tidur.

*****
Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
“Disini radio Pajarito Country menyapa anda. Ingatlah, meski apa yang datang dari langit tidak selalu indah, tapi hidup harus terus berjalan. Jadi tetaplah bertahan, tangguh, dan bijaksana.”

Peter mendengarkan kalimat sapaan radio tersebut dengan seksama. Dia semakin yakin bahwa ini adalah siaran radio yang diawaki oleh Nakai, si Indian tua yang dilihatnya di televisi 3 bulan lalu. Setelah seharian sibuk dengan urusan pekerjaan, Peter bersegera menuju ruang depan lab quantum tempat dimana TV dan dekoder tersebut berada. Mujur baginya tidak ada pekerja lain yang sedang menonton TV. Sebenarnya ruang depan pada setiap lab juga tersedia pesawat TV namun hanya ruang ini yang memiliki dekoder dengan kemampuan lebih. Salah satu kemampuan tersebut adalah memilah sinyal-sinyal radio dari berbagai arah yang tertangkap ladang antena di permukaan dan memperdengarkannya.

“.. dan kini kita telah bersama ‘Si Penatap Bintang’ Nakai Stargazer yang akan menjawab berbagai pertanyaan anda tentang fenomena aneh yang sulit untuk ditemukan penjelasannya.”

Kemujuran memang sedang berpihak kepada Peter. Inilah radio yang dicarinya. Dan bukan hanya itu, tepat saat itu si Indian tua yang ditontonnya waktu itu sedang bersiap untuk memulai acaranya. Ternyata memang benar dugaannya, Nakai membawakan acara yang berhubungan dengan fenomena-fenomena aneh yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Jika dia hidup dan tinggal di seputar sini maka bukanlah sesuatu yang mengherankan apabila dia memiliki informasi yang berhubungan dengan kegiatan ladang antena yang berada di permukaan “sarang”. Siapa tau saja akan ada juga penjelasan tentang sinyal-sinyal aneh beberapa hari lalu yang terpancar dari ladang antena tersebut dan terekam dalam komputernya.

“Ya… mari kita dengarkan penelepon pertama”, kata penyiar yang mendampingi Nakai.
“Nakai, kamu sudah dengar tentang seorang peternak di Oregon yang menemukan sapi-sapinya telah terpotong bagian perutnya dengan potongan yang sangat rapi dan hilang semua organ dalamnya?”, tanya penelepon pertama.
“Ya… itu sudah sering terjadi. Organ-organ itu diambil untuk menggandakan mahluk-mahluk jahat itu.”, jawab Nakai yakin.
“Saya tidak yakin tentang itu Nakai tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Ketika peternak itu mendekati sapi-sapinya yang telah mati. polisi malah menembaknya. Mereka menuduhnya menghalangi pemeriksaan dan mengancam petugas dengan senjata. Padahal istrinya jelas sekali bersaksi bahwa suaminya pada saat itu tidak membawa senjata sedangkan senjata yang ditemukan di dekat mayat suaminya bukanlah senjatanya. Apa lagi ini? Kenapa bisa seperti itu?”, penelepon pertama tersebut menjelaskan dan bertanya dengan panjang lebar.
“Jelas sekali. Itu sebuah konspirasi. Seperti yang selalu saya katakan, pemerintah dan aparatnya telah bekerjasama dengan mahluk-mahluk jahat itu.”, Nakai menyimpulkan sendiri.

Demikianlah setiap penelepon mengadukan dan menceritakan semua pendapat mereka tentang berbagai pengalaman aneh baik yang dialami sendiri maupun bukan. Ada yang berbicara tentang piring terbang, mahluk yang tiba-tiba saja muncul dari sebuah portal, pengalaman pindah lokasi setelah hilang kesadaran dan berbagai pengalaman aneh lainnya. Tidak ada yang berbicara tentang ladang antena apapun dengan sinyal-sinyal aneh yang dihasilkannya. Sampai akhirnya pertanyaan dari penelepon yang kesekian menarik perhatian Peter.
Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
“Nakai... apakah kamu melihat bayangan malaikat yang muncul di langit beberapa hari lalu?”, tanya penelepon itu.
“Ya saya melihatnya. Saya sedang tidur sampai kemudian suara-suara gaduh membangunkan saya. Orang-orang berkata, ‘Nakai…nakai… kamu harus melihat itu’.”
“Menurutmu apakah itu? Apakah itu malaikat sungguhan? Mungkinkan malaikat itu yang akan menolong kita dari mahluk-mahluk jahat itu?”
“Sama sekali tidak. Itupun tipuan mereka. Itu adalah bagian dari proyek sinar biru. Sebuah proyek yang memproyeksikan seolah sesuatu yang agung datang dari langit. Mereka berharap kita percaya dan tertipu. Sama sekali tidak… jangan percaya itu.”

Sebuah “malaikat”? Itukah proyeksi obyek berbentuk “X” atau “Y” yang terlihat saat itu? Peter berpikir sambil terus mendengarkan.

“Bagaimana cara kerjanya? Saya tidak melihat ada lampu sorot dipancarkan”
“Saya juga tidak tahu tapi saya yakin ada hubungannya dengan ladang antena yang ada di Los Alamos sana.”

Jawaban Nakai itu membuat Peter semakin keras berpikir dan bertanya dalam hati. Apakah salah satu kegunaan ladang antena itu memang untuk hal seperti itu? Untuk menipu masyarakat? Setelah masyarakat tertipu dengan obyek palsu yang terlihat di langit lalu apakah yang terjadi selanjutnya? Peter semakin resah membayangkan bahwa dia mungkin telah bekerja untuk sebuah proyek konspirasi yang membahayakan masyarakat maupun dunia.

Beberapa penelepon lagi menanyakan hal-hal yang berbau konspirasi dan Nakai sedapat mungkin berusaha menjawabnya. Tidak seluruh jawabannya masuk akal tapi itu bisa dipahami mengingat hal-hal yang ditanyakanpun banyak yang diluar nalar. Seluruh proses interaksi antara Nakai dan para peneleponnya didengarkan Peter dengan seksama hingga penelepon terakhir selesai. Peter hanya bisa menghela nafas membayangkan “hiruk pikuk” yang terjadi jika semua yang dikatakan para penelepon tersebut benar adanya. Yang dia butuhkan sekarang adalah berbaring sejenak dan memikirkan semua kemungkinan yang ada, termasuk kemungkinan untuk melarikan diri.

Dan ketika Peter bersiap untuk meninggalkan ruangan itu dan baru saja akan mematikan TV, Peter tersentak dengan kata-kata penutup dari Nakai si Indian tua pembawa acara itu. Nakai mengatakan sesuatu dalam bahasa Navajo dan pesannya dengan sangat jelas dimengerti oleh Peter. Kalimat penutup dari Nakai tersebut adalah

“Untukmu Piataru, larilah. Kamu tidak aman!”

APA???

Piataru adalah jelas sebutan untuk seseorang bernama Peter dalam aksen Navajo. Seorang “Peter” yang harus lari dari situasinya karena tidak aman. Kepada siapakah pesan Nakai ini ditujukan? Jika memang untuk dirinya, bagaimana mungkin si Indian tua ini sampai dua kali secara khusus mengirimkan pesan untuknya? Ini jelas bukan lagi kebetulan karena ini yang sudah kedua kalinya. Siapa sebenarnya Nakai ini dan apakah dia memang mengenalku, Dan darimana dia tahu kalau aku mendengarkan? Peter sibuk menduga-duga di tengah keterkejutannya.

*******

Seperti biasa, “dongeng”nya bersambung lagi
By Patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar by Google dan Patsus Dede Sherman

http://patriotgaruda.com/2016/02/21/lirik-kuno-navajo-9-proyek-sinar-biru/

Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru

diambil dari patriotgaruda.com

Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
================================================

“Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehku?”, Peter seperti merutuki dirinya sendiri. “Sudah 3 bulan berlalu dan saya baru menemukan ide ini sekarang.”

Di ruang depan lab quantum, Peter seorang diri mengutak-atik “dekoder” yang tersambung ke pesawat TV. Dia sedang menentukan setting pencarian frekuensi pencarian lewat komputer laptopnya yang tersambung ke alat tersebut. Setelah menentukan frekuensi mula pencarian pada frekuensi FM, dia pun mulai melakukan pencarian. Di pesawat televisi hanya terlihat cahaya biru namun dengan suara yang berganti-ganti pada setiap siaran radio yang tertangkap. Pada setiap siaran radio yang terdengar, Peter mendengarkan dengan seksama seolah menunggu sesuatu. Jika dia merasa dia tidak yakin dengan apa yang didengarkannya maka dia pun meneruskan pencarian dengan memindahkan pada frekuensi berikutnya yang tertangkap.
 Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
 Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
Saat itu sudah hampir jam 2 malam dan seluruh ruangan berada dalam kesunyian. Kemungkinan besar semua pekerja telah tidur atau berada di kamarnya masing-masing. Mungkin masih ada beberapa orang di ruang workstation atau ruang experimen namun nyaris tak ada suara yang terdengar dari semua ruangan. Tidak ada lagi yang berlalu lalang di dalam lab maupun pada koridor-koridor penghubung antar lab. Meskipun akses pada setiap ruang workstation, ruang experimen dan kamar hanya berlaku bagi individu yang bekerja dalam lab tersebut, pintu-pintu utama dan ruang depan laboratorium bisa diakses oleh seluruh pekerja yang diizinkan memasuki “Hive”. Sarang atau “hive” adalah istilah bagi seluruh area gedung bawah tanah yang dapat diakses satu sama lain lewat koridor utama. Terdapat 6 lantai dalam “sarang” yang setiap lantainya dapat diakses lewat lift tengah. Sedangkan untuk ke permukaan terdapat lift khusus pada ujung koridor setiap lantai yang dapat diakses setelah melewati 3 bagian yang masing-masing dibatasi oleh sebuah pintu baja anti ledakan, pintu kaca tebal anti peluru dan koridor panjang.


“Dimana frekuensi radiomu pak tua? Apakah radiomu masih memancarkan siaran di jam begini malam?”, Peter berbicara kepada dirinya sendiri.

Setelah berkali-kali mengganti frekuensi pencarian, menajamkan filter dan mencoba berbagai wilayah penerimaan modulasi, Peter sepertinya sudah menemukan yang dicarinya. Pada jeda dari siaran radio yang sedang didengarkannya saat itu, terdengar sebuah yodel Navajo yang diiringi dengan tetabuhan khasnya. Meskipun tidak begitu lama, Peter merasa bahwa itulah siaran radio yang dicarinya. Namun siaran tersebut tidak lagi dilayani oleh seorang penyiar dan hanya berupa kumpulan lagu-lagu country dengan sesekali diselingi yodel-yodel yang khas Navajo tersebut. Kemungkinan karena waktu siaran tersebut sudah terlalu larut malam maka tidak ada lagi penyiar yang menungguinya.

“Baiklah… sepertinya inilah radio tersebut. Aku akan coba dengarkan lagi besok ketika ada kesempatan. Semoga si Indian tua Nakai itu juga sedang siaran. Mungkin saja ada informasi yang bisa aku dapatkan!”, demikian yang dipikirkan Peter. Peter mencatat frekuensi radio tersebut yang berada dalam rentang FM dan ternyata dipancarkan masih di sekitar Los Alamos. Diapun meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya untuk tidur.

*****

“Disini radio Pajarito Country menyapa anda. Ingatlah, meski apa yang datang dari langit tidak selalu indah, tapi hidup harus terus berjalan. Jadi tetaplah bertahan, tangguh, dan bijaksana.”

Peter mendengarkan kalimat sapaan radio tersebut dengan seksama. Dia semakin yakin bahwa ini adalah siaran radio yang diawaki oleh Nakai, si Indian tua yang dilihatnya di televisi 3 bulan lalu. Setelah seharian sibuk dengan urusan pekerjaan, Peter bersegera menuju ruang depan lab quantum tempat dimana TV dan dekoder tersebut berada. Mujur baginya tidak ada pekerja lain yang sedang menonton TV. Sebenarnya ruang depan pada setiap lab juga tersedia pesawat TV namun hanya ruang ini yang memiliki dekoder dengan kemampuan lebih. Salah satu kemampuan tersebut adalah memilah sinyal-sinyal radio dari berbagai arah yang tertangkap ladang antena di permukaan dan memperdengarkannya.

“.. dan kini kita telah bersama ‘Si Penatap Bintang’ Nakai Stargazer yang akan menjawab berbagai pertanyaan anda tentang fenomena aneh yang sulit untuk ditemukan penjelasannya.”

Kemujuran memang sedang berpihak kepada Peter. Inilah radio yang dicarinya. Dan bukan hanya itu, tepat saat itu si Indian tua yang ditontonnya waktu itu sedang bersiap untuk memulai acaranya. Ternyata memang benar dugaannya, Nakai membawakan acara yang berhubungan dengan fenomena-fenomena aneh yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Jika dia hidup dan tinggal di seputar sini maka bukanlah sesuatu yang mengherankan apabila dia memiliki informasi yang berhubungan dengan kegiatan ladang antena yang berada di permukaan “sarang”. Siapa tau saja akan ada juga penjelasan tentang sinyal-sinyal aneh beberapa hari lalu yang terpancar dari ladang antena tersebut dan terekam dalam komputernya.
 Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
 Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru

“Ya… mari kita dengarkan penelepon pertama”, kata penyiar yang mendampingi Nakai.
“Nakai, kamu sudah dengar tentang seorang peternak di Oregon yang menemukan sapi-sapinya telah terpotong bagian perutnya dengan potongan yang sangat rapi dan hilang semua organ dalamnya?”, tanya penelepon pertama.
“Ya… itu sudah sering terjadi. Organ-organ itu diambil untuk menggandakan mahluk-mahluk jahat itu.”, jawab Nakai yakin.
“Saya tidak yakin tentang itu Nakai tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Ketika peternak itu mendekati sapi-sapinya yang telah mati. polisi malah menembaknya. Mereka menuduhnya menghalangi pemeriksaan dan mengancam petugas dengan senjata. Padahal istrinya jelas sekali bersaksi bahwa suaminya pada saat itu tidak membawa senjata sedangkan senjata yang ditemukan di dekat mayat suaminya bukanlah senjatanya. Apa lagi ini? Kenapa bisa seperti itu?”, penelepon pertama tersebut menjelaskan dan bertanya dengan panjang lebar.
“Jelas sekali. Itu sebuah konspirasi. Seperti yang selalu saya katakan, pemerintah dan aparatnya telah bekerjasama dengan mahluk-mahluk jahat itu.”, Nakai menyimpulkan sendiri.

Demikianlah setiap penelepon mengadukan dan menceritakan semua pendapat mereka tentang berbagai pengalaman aneh baik yang dialami sendiri maupun bukan. Ada yang berbicara tentang piring terbang, mahluk yang tiba-tiba saja muncul dari sebuah portal, pengalaman pindah lokasi setelah hilang kesadaran dan berbagai pengalaman aneh lainnya. Tidak ada yang berbicara tentang ladang antena apapun dengan sinyal-sinyal aneh yang dihasilkannya. Sampai akhirnya pertanyaan dari penelepon yang kesekian menarik perhatian Peter.

“Nakai... apakah kamu melihat bayangan malaikat yang muncul di langit beberapa hari lalu?”, tanya penelepon itu.
“Ya saya melihatnya. Saya sedang tidur sampai kemudian suara-suara gaduh membangunkan saya. Orang-orang berkata, ‘Nakai…nakai… kamu harus melihat itu’.”
“Menurutmu apakah itu? Apakah itu malaikat sungguhan? Mungkinkan malaikat itu yang akan menolong kita dari mahluk-mahluk jahat itu?”
“Sama sekali tidak. Itupun tipuan mereka. Itu adalah bagian dari proyek sinar biru. Sebuah proyek yang memproyeksikan seolah sesuatu yang agung datang dari langit. Mereka berharap kita percaya dan tertipu. Sama sekali tidak… jangan percaya itu.”

Sebuah “malaikat”? Itukah proyeksi obyek berbentuk “X” atau “Y” yang terlihat saat itu? Peter berpikir sambil terus mendengarkan.

“Bagaimana cara kerjanya? Saya tidak melihat ada lampu sorot dipancarkan”
“Saya juga tidak tahu tapi saya yakin ada hubungannya dengan ladang antena yang ada di Los Alamos sana.”

Jawaban Nakai itu membuat Peter semakin keras berpikir dan bertanya dalam hati. Apakah salah satu kegunaan ladang antena itu memang untuk hal seperti itu? Untuk menipu masyarakat? Setelah masyarakat tertipu dengan obyek palsu yang terlihat di langit lalu apakah yang terjadi selanjutnya? Peter semakin resah membayangkan bahwa dia mungkin telah bekerja untuk sebuah proyek konspirasi yang membahayakan masyarakat maupun dunia.

Beberapa penelepon lagi menanyakan hal-hal yang berbau konspirasi dan Nakai sedapat mungkin berusaha menjawabnya. Tidak seluruh jawabannya masuk akal tapi itu bisa dipahami mengingat hal-hal yang ditanyakanpun banyak yang diluar nalar. Seluruh proses interaksi antara Nakai dan para peneleponnya didengarkan Peter dengan seksama hingga penelepon terakhir selesai. Peter hanya bisa menghela nafas membayangkan “hiruk pikuk” yang terjadi jika semua yang dikatakan para penelepon tersebut benar adanya. Yang dia butuhkan sekarang adalah berbaring sejenak dan memikirkan semua kemungkinan yang ada, termasuk kemungkinan untuk melarikan diri.

Dan ketika Peter bersiap untuk meninggalkan ruangan itu dan baru saja akan mematikan TV, Peter tersentak dengan kata-kata penutup dari Nakai si Indian tua pembawa acara itu. Nakai mengatakan sesuatu dalam bahasa Navajo dan pesannya dengan sangat jelas dimengerti oleh Peter. Kalimat penutup dari Nakai tersebut adalah

“Untukmu Piataru, larilah. Kamu tidak aman!”

APA???


Piataru adalah jelas sebutan untuk seseorang bernama Peter dalam aksen Navajo. Seorang “Peter” yang harus lari dari situasinya karena tidak aman. Kepada siapakah pesan Nakai ini ditujukan? Jika memang untuk dirinya, bagaimana mungkin si Indian tua ini sampai dua kali secara khusus mengirimkan pesan untuknya? Ini jelas bukan lagi kebetulan karena ini yang sudah kedua kalinya. Siapa sebenarnya Nakai ini dan apakah dia memang mengenalku, Dan darimana dia tahu kalau aku mendengarkan? Peter sibuk menduga-duga di tengah keterkejutannya.

*******

Seperti biasa, “dongeng”nya bersambung lagi
By Patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar by Google dan Patsus Dede Sherman

 http://patriotgaruda.com/2016/02/21/lirik-kuno-navajo-9-proyek-sinar-biru/

Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

diambil dari patriotgaruda.com

Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
================================================

“Huuuuuffffhhhh……”

Peter membungkukkan badannya dan menyandarkan dahinya ke meja kerjanya sedikit di depan keyboardnya. Sudah 2 hari dia berusaha menemukan sesuatu yang berarti dari sinyal-sinyal yang direkamnya dari dekoder di ruang lab riset quantum. Hari itu pun dia masih terus berusaha keras meski jam sudah menunjukkan pukul 1.30 pagi. Namun semua upaya kerasnya itu terbentur pada keterbatasan sarana. Dekoder tersebut ternyata hanya mampu menerima sinyal sampai batasan frekuensi tertentu. Di samping itu kemampuan algoritma software yang digunakannya juga memiliki keterbatasan pendekatan matematis.
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

“Ah… jika saja aku bisa mengontak Martin….”

Peter teringat akan keponakannya Martin, putra dari kakaknya Alexander, yang memiliki kemampuan pemrograman yang luar biasa. Mereka pernah bekerja bersama-sama dalam suatu proyek penelitian.
Peter untuk menyelesaikan doktoral mikroseismik-nya sedangkan Martin untuk menyelesaikan pemrograman enkripsi sinyal bagi program sarjananya. Di situlah Peter bisa melihat kecemerlangan keponakannya itu.
Selain jago dalam pendekatan matematis dan pemrograman, Martin juga memiliki kepiawaian dalam meretas sistem, baik sistem berbasis jaringan maupun sistem berbentuk file tunggal. Sebagai kenang-kenangan pekerjaan mereka bersama, Peter mengoleksi beberapa skrip “berbahaya” milik Martin yang dapat digunakan untuk meretas sistem.


Sudah 16 bulan Peter tidak bisa mengontak Martin dan siapapun di dunia luar. Semua komunikasi keluar dilarang demi menjaga kerahasiaan proyek yang sedang dikerjakan. Di dalam situ hanya tersedia jaringan intranet dengan extranet yang terbatas. Akses internet keluar dibatasi hanya pada daftar tautan tertentu. Bahkan email dan pesan pribadi pun tidak bisa dilakukan. Peter hanya diijinkan mengirimkan dan menerima rekaman video dari dan ke istrinya sebulan sekali. Itupun rekaman tersebut dibatasi hanya maksimal 10 menit dan Peter tidak diijinkan untuk menceritakan pekerjaannya. Kalaupun dia memaksakan untuk menceritakan tentang pekerjaannya maka dipastikan tim penyaring akan mengedit dan membuang bagian itu sebelum dikirimkan ke Shannon istrinya.

Pekerjaannya memang penuh kerahasiaan karena berhubungan dengan satelit dengan kemampuan khusus. Divisinya “Terra Quark” bertugas menciptakan alat yang bisa memperkirakan kapan terjadinya gempa berdasarkan emisi radioaktif maupun elemen lain yang dilepaskan ke udara menjelang terjadinya gempa. Namun yang tidak dia pahami adalah jika hasil risetnya digabung dengan riset tim Quantum maka satelit tersebut tidak hanya bersifat pasif namun juga bersifat “aktif”. Satelit tersebut dapat melakukan “pemanasan” pada zona gempa sehingga memudahkan terjadinya gempa. Disinilah letak kebingungan dan kekhawatiran Peter. Untuk apa menciptakan sebuah alat yang bisa memancing gempa jika tidak akan dijadikan senjata?

Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

Lalu apakah pemancar yang ada di ladang antena diatas bertugas untuk memancarkan gelombang “pemancing” sehingga terjadi gempa? Kemana? Tidak mungkin disini karena Peter tahu bahwa di daerah tempat lab tersebut berada bukanlah zona gempa. Lalu untuk apa memancarkan gelombang seperti itu? Dan jika yang dipancarkan adalah bukan gelombang seperti dugaannya maka apakah yang dipancarkan 2 hari lalu itu? Untuk apa dan kemana? Lalu apakah sebenarnya bentuk “X” atau “Y” yang samar tertangkap oleh antena yang kemudian dikirimkan ke dekoder dan terlihat di siaran TV di ruang lab quantum?

Begitu banyak pertanyaan memenuhi benaknya sampai sebuah suara mengagetkannya.

“Masih terjaga ya?”

Peter menoleh. Di ujung dekat koridor, rekan kerjanya Tawfeeq Al-Fawwaz tersenyum kepadanya sambil berjalan keluar dari arah dapur dengan membawa segelas kopi. Ahli graviti-magnetik berbadan tambun asal Mesir itu memang sangat suka kopi. Sehari-harinya dia mungkin lebih banyak minum kopi daripada air putih. Peter pernah mengingatkan tentang bahayanya kebiasaan itu namun dijawab dengan santai. “Kopi membuatku tetap terjaga sehingga aku bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Tapi, baiklah, aku akan mempertimbangkan untuk berhenti minum kopi jika bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.” Ketika Peter menanyakan maksud kata-katanya yang terakhir, Tawfeeq bilang dia hanya bergurau dan itu adalah sebuah hiperbolisme. Waktu itu Peter pun menganggap bahwa itu hanya candaan namun kini Peter menduga bahwa sebenarnya ada sesuatu yang serius di dalam kata-kata rekan kerjanya itu dan sepertinya dia tahu suatu rahasia namun tidak berani dikatakannya.

“Yah… begitulah. Kopi tengah malam?”, kata Peter.
Tawfeeq hanya tersenyum, “Keberatan saya bergabung?”
“Tidak sama sekali. Silahkan.”

Sebelum Tawfeeq mendekatinya, Peter menutup layar-layar program yang berhubungan dengan pengolahan sinyal-sinyal “misterius” dari dekoder yang sedang dikerjakannya. Setelah berada di dekat Peter, Tawfeeq menarik kursi yang berdekatan dengan workstation Peter dan duduk dengan santai.

“Mengejar deadline ya?”
“Yah… begitulah.”, Peter tidak ingin menceritakan yang sebenarnya. Dia teringat janjinya dengan Boghdan.
“Saya harap semuanya lancar.”
“Well… kamu tahulah bagaimana pekerjaan. Kadang lancar, kadang ada hambatan. Bagaimana denganmu? Mengejar deadline juga?” Peter berusaha mengalihkan fokus pembicaraan.
“Ah.. tidak. Aku baru saja sembahyang. Setelah kopi ini habis, aku akan mencoba kembali tidur.”
“Setelah meminum segelas kopi yang penuh begitu kamu berharap akan tidur nyenyak setelahnya?”, Peter merasa geli dengan ide itu.
“Hahaha… jika tidak bisa, aku akan memasang headset dan memutar lagu-lagu kesukaanku hingga jatuh tertidur kembali.”
“Ya. Ide itu lebih baik sepertinya. Siapa penyanyi kesukaanmu?”
“Kamu mungkin tidak mengenalnya. Dia Amr Diab, seorang penyanyi Mesir terkenal. Ah… andai saja ada caranya aku bisa mendengarkan radio-radio Mesir, hari-hari disini tidak akan terlalu membosankan. Juga dapat mengobati kerinduanku akan kota Alexandria.”

Peter terkesiap. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalanya. Ya… benar! Mungkin itu solusinya! Aku harus lakukan itu sekarang juga.

Peter segera berdiri dan berpamitan kepada Tawfeeq.

“Terimakasih kawan. Saya harus ke ruang lab quantum sebentar.”
“Apa??? Di jam begini malam? Bukankah mereka semua sudah tidur? Atau ada pertandingan bola yang seru untuk ditonton disana?”. Tawfeeq ikut berdiri. Kebingungan.
“Tidak. Bukan karena itu. Terimakasih telah menemani.”

Peter berjalan bergegas menuju pintu keluar ruangan workstation.

“Apakah ada sesuatu yang salah yang kuucapkan?”

Pada saat itu Peter sudah hampir keluar dari ruangan kerja area workstation mereka.

“Tidak. Sama sekali tidak. Kamu justru telah memberi saya sebuah ide brillian…”
“Ide brillian?”, Tawfeeq semakin bingung. Akhirnya dia hanya mengangkat bahu, duduk kembali dan menghabiskan kopinya sendirian.

Peter sudah meninggalkan ruangan.

*********************

Ternyata ide yang diberikan oleh Tawfeeq benar-benar berguna. Peter pun mampu menemukan jawaban dari misteri sinyal-sinyal aneh yang direkamnya. Peter bahkan menemukan lebih dari sekedar solusi yang dicarinya.
Ide apakah itu dan untuk apakah sebenarnya sinyal-sinyal tersebut dipancarkan?

Sabar ya… jawabannya ada di edisi berikutnya dari serial “dongeng” ini.
Salaam…

By patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar ilustrasi by Google dan Patsus Citox

 http://patriotgaruda.com/2016/01/31/lirik-kuno-navajo-8-sebuah-ide-yang-brillian/


Lirik Kuno Navajo (7) : Pola-pola yang aneh

cerita ini diambil dari http://patriotgaruda.com/2016/01/07/lirik-kuno-navajo-7-pola-pola-yang-aneh/

“Oke… jadi bagaimana cara menggunakan ini?”
“Mudah saja… ini seperti dekoder di ruangan lain. Disini panel angka untuk memasukkan base frekuensinya dan pilih besaran frekuensinya. Lalu ini untuk melakukan pencarian maju atau mundur.”

Saat itu Peter meminta Boghdan untuk mengajarinya cara mengoperasikan alat mirip dekoder yang digunakan tim Riset Quantum mengkonversi sinyal yang didapatkan dari ladang antena dipermukaan untuk menjadi tampilan visual di TV.

“Lalu bagaimana cara mengenali pola-pola gelombang yang rumit, melakukan lompatan antar frekuensi dan menyaring beberapa sinyal?”
“Untuk apa kamu ingin mengetahui itu? Kamu ingin membajak sebuah satelit? Hahaha….”
“Hahaha… aku hanya penasaran. Itu saja.”
“Atau kamu mencari cara untuk melarikan diri dari tempat ini? Hahaha… sejak kamu menonton Indian gila itu di TV, engkau seperti sering resah kawan. Hahaha…”
“Ayolah… jangan konyol. Aku hanya penasaran Boggy. Matt bilang dengan alat ini kita bisa melakukan hal-hal yang aku tanyakan tadi.”
“Ya memang… tapi tidak dengan alat ini saja. Kita harus melakukannya dengan komputer dan alat ini sebagai interface-nya. ”

“Nah… itu baru masuk akal. Jadi.. apa yang di dapatkan Matt? Selain siaran TV tentunya…”
“Yah… tidak banyak yang menarik. Mungkin jika dia mau meretas sinyal yang diterima, akan ada sesuatu yang bisa didapatkan tapi….. untuk apa?”

Peter mengangguk paham. Hari itu dia memang sedang tidak begitu sibuk dan dia butuh sesuatu untuk hiburan. Dia merasa bosan dengan pilihan saluran tontonan yang tersaji di ruangan lab-nya sendiri. Rasa ingin tahunya yang besar juga membuatnya penasaran dengan kemampuan alat itu seperti yang dikatakan oleh kedua temannya tersebut sekitar 2 bulan sebelumnya.
Lirik Kuno Navajo (7) : Pola-pola yang aneh
Lirik Kuno Navajo (7) : Pola-pola yang aneh

“Hey…”, Boghdan meneruskan pembicaraan, “sebenarnya alat ini biasa saja. Seorang lulusan sarjana elektronika pun bisa membuatnya.. tapi……..”

Kata-katanya terputus sejenak dan sesaat dia memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sepertinya dia ingin meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka.

“Ladang antena di atas…”, lanjut Boghdan lagi. Kali ini suaranya sangat pelan dan cenderung hanya berupa bisikan lirih.
“Ya?”
“Di ladang antena itu sepertinya banyak pemancar berkekuatan tinggi.”
“Lalu kenapa? Sepertinya itu wajar saja bukan?” , kata Pete bingung.
“Pemancar-pemancar ini berbeda. Mereka memancarkan sesuatu yang aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Sesaat sebelum sesuatu ini dipancarkan, dekoder ini tidak menangkap frekuensi apapun. Seolah seperti hilang daya. ”

Boghdan berhenti berbicara ketika seseorang melintas di luar laboratorium.
“Lalu?”
“Lalu beberapa detik kemudian, berbagai pola-pola noise tampak di layar TV. Anehnya, pada kali terakhir kita mendapatinya, ada sedikit samar gambaran visual yang terlihat di televisi ini ditengah berbagai noise.”
“Gambaran apa?”

Belum sempat Boghdan menjawabnya, pintu ke arah lab utama terbuka. Keduanya menoleh ke arah pintu itu.

Seseorang dari balik pintu yang merupakan rekan kerja Boghdan muncul, “Hey Boggy… disitu kau rupanya! Kemarilah… kita butuh bantuanmu.”

Boghdan pun beranjak sambil berkata kepada Peter, “Oke…. kutinggalkan dirimu. Maaf kami tidak bisa selalu menemanimu. Semoga tontonanmu menyenangkan.”

Ketika rekan Boghdan telah kembali masuk, Peter menghentikan Boghdan sebentar dan bertanya, “Apa yang terlihat di televisi Boghdan?”

Boghdan menghela nafas. Sebelum berbalik, dia sempat membisikkan sesuatu. “Obyek yang mirip pesawat antariksa”.

Sambil meletakkan jari telunjuk diatas bibirnya memberikan isyarat bahwa apa yang mereka bicarakan barusan tidak untuk diceritakan kepada siapapun, Boghdan meninggalkan Peter yang termangu di depan TV dalam area depan laboratorium tersebut.

*****

arman28

Di sela waktu kesibukannya, Peter pun memanfaatkan TV di area depan lab Riset Quantum untuk mencari tontonan sebagai hiburan. Namun sebenarnya ada alasan lain dibalik itu. Peter tertarik atau lebih tepatnya penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Boghdan. Sejak melihat sang Indian tua Nakai di televisi, entah kenapa, Peter merasa ada banyak yang salah dengan laboratorium tempat mereka bekerja. Itulah sebabnya Peter merasa tertantang untuk mengetahui lebih banyak tentang apapun yang dirasakan ganjil dan menyimpan misteri dalam tempat tersebut.

Karena itu dalam beberapa kesempatan, Peter pun menyambungkan alat dekoder yang terhubung ke ladang antena di ruang TV dengan komputer laptopnya dan melakukan analisa gelombang yang masuk. Sebagai seorang ahli geofisika, Peter sudah sangat terbiasa dengan pemrosesan sinyal dan gelombang. Namun tanpa pengetahuan yang memadai tentang parameter sinyal-sinyal itu, Peter tidak dapat langsung mengerti maksud dari sinyal-sinyal tersebut. Karena itu dia hanya merekam sinyal-sinyal yang masuk ke dalam komputernya untuk dianalisa nanti. Namun hasil analisa Peter tidak pernah menemukan sesuatu yang berarti. Tanpa parameter analisa yang jelas maka hasil pengolahan sinyal yang dilakukannya juga tidak pernah memberikan hasil yang pasti.

Setelah beberapa waktu terus merekam dan menganalisa namun tidak mendapatkan hasil yang berarti, Peter sebenarnya sudah hampir memutuskan untuk menyerah sampai akhirnya terjadilah kejadian “tersebut”.

*****

arman29

Kurang lebih sebulan setelah pembicaraan rahasianya dengan Boghdan, Peter mendapatkan apa yang selama ini dicarinya. Pada saat sedang asyik menonton acara musik, tiba-tiba TV yang ditontonnya kehilangan gambar dan hanya menampilkan noise. Mulanya Peter mengira ada kabel yang terlepas namun baru saja akan memeriksanya, di layar TV terlihat beberapa noise yang polanya lebih teratur. Insting Peter bekerja dan dia segera menghubungkan alat dekoder tersebut dengan komputer laptop yang digunakannya bekerja sambil menonton.

Sambil merekam pola-pola sinyal tersebut ke dalam komputernya, Peter terus memperhatikan dengan seksama layar TV untuk melihat pola-pola noise yang muncul. Dan tidak berapa lama kemudian, Peter seperti melihat garis pola yang membentuk sebuah obyek solid terpampang dengan samar namun stabil diantara noise-noise yang terlihat. Peter berusaha memperkirakan bentuk yang terlihat seperti huruf Y atau X tersebut. Setelah bersusah payah mengamati obyek yang terlihat tersebut, Peter tetap tidak berhasil menyimpulkan apa obyek sebenarnya dari bentuk yang terlihat itu.

Kurang dari 5 menit, pola-pola noise yang teratur itupun menghilang dari layar TV dan hanya tersisa tampilan noise yang umum terlihat ketika sebuah TV belum mendapatkan sinyal pemancar. Sejurus kemudian, acara musik yang sedang ditonton Peter sebelumnya telah kembali terlihat di layar TV. Namun Peter sudah tidak tertarik untuk menontonnya. Setelah mencabut kabel yang menghubungkan ke laptopnya, Peter pun kembali ke ruangannya. Disana dia akan menganalisa sinyal-sinyal noise aneh yang baru saja direkamnya.

*****

Berhasilkah Peter menentukan obyek yang dilihatnya? Lalu apa sebenarnya fungsi ladang antena diatas laboratorium bawah tanah tempat mereka bekerja?
Jangan kemana-mana ya… nantikan kelanjutan “dongeng” ini.

By Patsus Namraenu biro Jabodetabek
Gambar by Google dan patsus Citox

sumber: http://patriotgaruda.com/2016/01/07/lirik-kuno-navajo-7-pola-pola-yang-aneh/

Lirik Kuno Navajo (6) : Pesan Mengkhawatirkan

cerita ini diambil dari http://patriotgaruda.com/2015/12/28/lirik-kuno-navajo-6-pesan-mengkhawatirkan/


“Hahaha…. hahaha….hahaha….”
“Hahahahahaha…. hahaha….hahahahaha”

Dua orang ilmuwan dari divisi Riset Quantum sedang asyik menonton sebuah acara televisi sambil tertawa geli ketika Peter melewati area laboratorium mereka. Peter yang baru saja melakukan pemeriksaan manifest penerimaan material riset ikut tersenyum melihat tawa lepas 2 orang yang dia kenal baik itu. Kedua orang itu melambaikan tangan dari balik kaca laboratorium mereka. Salah seorang diantaranya kemudian memanggil Peter yang sepertinya ingin tahu apa yang mereka sedang tertawakan.

“Hai Peter…. Peter… kemarilah!”, kata Matthew Callahan, atau Mat, memanggil.

“Acara apa? Sepertinya lucu sekali”, Peter berkomentar setelah memasuki area depan lab tempat kedua orang temannya itu berada.

“Ini acara favorit kita… Debunk The Skunk!”


“Tentang apa?”

“Lihat saja”

****
Lirik Kuno Navajo (6) : Pesan Mengkhawatirkan
Lirik Kuno Navajo (6) : Pesan Mengkhawatirkan

Di layar TV nampak seorang lelaki gemuk berkacamata dan seorang tua yang sepertinya seorang warga asli Amerika atau Indian sedang duduk mengobrol di atas sofa. Dari judulnya sepertinya itu adalah sebuah acara yang mengulas hal-hal yang tidak umum terjadi atau bersifat konspiratif namun dengan nuansa yang satir dan skeptis.

“Jadi tuan Nakai apakah pendengar radiomu menganggap hal-hal aneh yang anda bicarakan itu sebagai sesuatu yang menarik?”, tanya sang lelaki gemuk berkacamata.
“Demikianlah yang mereka katakan dan yang saya bicarakan bukanlah hal-hal yang aneh. Itu adalah kenyataan yang ditutup-tutupi”, jawab sang Indian tua itu.
“Berapa banyak pemirsa yang mendengarkan acaramu?”
“Saya tidak tahu. Saya tidak pernah menghitungnya”
“Sebagai seorang pembicara di radio, anda seharusnya punya gambaran berapa jumlah pemirsa anda.”
“Itu cuma acara radio lokal. Saya tidak terlalu perduli. Lebih tepatnya saya tidak tahu cara menghitung jumlah pemirsaku.”
“Saya punya usul. Anda ingin tahu caranya?”
“Bagaimana?”
“Minta tolong pada kawan anda yang barusan anda katakan.”
“Kawan yang mana? Saya tidak bicara apa-apa soal kawan-kawanku.”
“Kawan anda yang membawa kapsul metalik untuk terbang dengan kecepatan supersoniknya berkeliling dari rumah ke rumah sambil mencatat.”

Hahahaha…..

Penonton di studio ruang siar acara itu tertawa dan demikian pula kedua rekan Peter yang menonton acara tersebut lewat TV. Peter hanya tersenyum kecut. Sebagai seorang keturunan Navajo, dia tidak begitu nyaman melihat seorang Indian, yang jika dilihat dari atributnya sepertinya juga seorang Navajo, dipermalukan dalam sebuah acara TV seperti itu.Peter menduga si Indian tua itu baru saja bercerita tentang alien atau UFO yang kemudian dijadikan bahan olok-olokan oleh sang pembawa acara.

“Jadi seperti apa rupa kawan anda itu ketika anda sedang ‘fly’ saat melihatnya?”, sang pembawa acara bertanya kembali.
“Pertama, dia bukan kawan saya. Itu jelas bukan manusia. Kedua, saya dalam keadaan sadar sepenuhnya. Saya sudah katakan tadi!”, Nakai merespon dengan kesal.
“Anda tadi katakan matanya besar berwarna hitam dengan bentuk yang runcing keatas?”
“Ya… seperti itu yang lihat.”
“Anda yakin itu bukan Oxley (merek kacamata) model terbaru yang mereka sedang kenakan?”

Hahahaha…..

Kembali penonton tertawa mendengar celetukan sinis dari sang pembawa acara. Juga kedua teman Peter.

Demikianlah, sepanjang acara tersebut segala perkataan sang nara sumber dijadikan bahan lelucon oleh sang pembawa acara. Nakai si Indian hanya duduk tegang dengan expresi kesal namun tetap mampu menguasai emosinya.

“Baiklah… sebelum kita akhiri, anda punya pesan kepada para penonton?”

Nakai tidak langsung menjawabnya. Dia merenung cukup lama sambil memejamkan mata. Dia tidak perduli ketika sang pembawa acara masih mengganggunya.

“Ayolah… jangan ‘fly’ di sini. Ini acara siaran langsung.” Hahahahaha….

Akhirnya Nakai membuka mata dan tampaknya akan mengatakan sesuatu.

“Meski ini ditonton oleh semua orang, namun pesan saya ini ditujukan hanya untuk 1 orang. Kamu…. seorang Navajo yang terjebak di negeri bawah tanah. Kamu mengira kamu sedang mengerjakan sesuatu yang hebat. Tidak. Kamu mengerjakan sesuatu yang sangat berbahaya. Berhati-hatilah. Dan begitu engkau tidak dibutuhkan maka engkau tidak akan pernah bertemu keluargamu lagi seperti juga yang terjadi pada teman-temanmu.”

“WOOOWW…. negeri bawah tanah? Dimanakah itu? Apakah di Disney Land?”. Hahahahaha….

Sang pembawa acara segera saja memanfaatkan kata-kata sang nara sumber untuk kembali dijadikan lelucon.

“Dan orang yang kamu maksud ini, siapa dia? Apa istimewanya dia? Apakah dia satu-satunya orang di dunia ini yang tidak tahu bahwa dia terjebak di kehidupan ini?” Hahahaha…
“Saya tahu dia siapa. Dia pasti ‘Jim Carey’ saat memerankan ‘The Truman Show’.” Hahahaha…

“Baiklah. Terimakasih tuan Nakai atas hiburannya. Anda berbakat sekali. Dan penonton… jika anda melihat sesuatu yang aneh atau tidak bisa di jelaskan dengan akal sehat, pastikan dulu, bahwa anda…..TIDAK SEDANG ‘FLY’ (=skunk)”.

Penonton sekali lagi terbahak dan bertepuk tangan ketika sang pembawa acara menyebutkan tagline acara itu sekaligus menutupnya.

****

Hingga akhir acara, Nakai sang nara sumber terus saja dipermalukan dan dijadikan bahan lelucon. Peter yang merasa kesal melihat perlakuan sang pembawa acara terhadap si Indian Nakai yang menjadi tamunya, kemudian mencoba beranjak untuk pergi.

“Hey Pete… mau kemana?”, kata Matthew berusaha menahan Peter untuk tetap tinggal.
“Harus kembali bekerja. Acara itu sudah habis bukan?”
“Kita masih banyak acara hiburan kawan. Santailah sejenak. Hari ini adalah weekend. Jangan habiskan seluruh hidupmu dengan bekerja.”
“… dan pergi kemana? Kita 200 meter dibawah tanah dengan ijin keluar yang begitu sulit untuk didapatkan.”
“Kita masih punya itu”, kata Boghdan rekan Matthew yang sejak tadi hanya tertawa-tawa. Dia menunjuk sebuah alat yang tersambung ke TV yang sedang mereka tonton.
“Dengan alat ini, kita bisa memilih untuk menonton saluran TV di seluruh dunia. Bahkan yang berbayar sekalipun.”, Boghdan menyambung.
“Ya…itu sebuah dekoder kan?”, tanya Peter memastikan. Setelah berbulan-bulan mereka bertugas di laboratorium bawah tanah tersebut, Peter memang tidak pernah menanyakan kegunaan alat yang mirip dekoder itu.
“Ini memang mirip dekoder, namun dengan kemampuan lebih. Dengannya kita dapat memilih dan menerjemahkan secara visual apa yang dikirimkan oleh ladang antena kita di luar.”, Matthew menjelaskan.
“Oke. Aku mengerti. Alat ini menerjemahkan sinyal siaran TV apapun yang ditangkap ladang antena diluar. Lalu dimana kelebihannya?”, Peter bertanya sekaligus menyimpulkan.
“Bukan hanya siaran TV. Kamu ingin yang lebih mengasyikkan? Kita bisa mengintip saluran komunikasi visual militer di seluruh dunia jika kita tahu saluran gelombang, arah, pola dan kode enkripsinya”, Matthew menyambung,
“Atau melakukan hal yang lucu seperti menguping komunikasi selular antar dua orang remaja dan mendengarkan mereka bertengkar di telepon. Hehehe…”, kata Boghdan menimpali.
“Benarkah? Pernahkah kalian melakukannya?”, Peter nampaknya belum yakin.

Matthew dan Boghdan berpandang-pandangan sebelum Matthew kemudian akhirnya menanggapi.
“Yah beberapa kali…. namun seringnya setelah lelah mencari saluran gelombang yang cocok, yang kita dapatkan hanyalah gelombang noise yang dipancarkan dari sebuah oven microwave yang sedang menghangatkan pizza yang dingin.”..
“Kalau kasusnya seperti itu, kembali bekerja adalah hal kedua terbaik yang bisa dilakukan.”, Peter menutup pembicaraan sambil berlalu.

****

Di laboratoriumnya, Peter yang berencana untuk memotong sebuah Zirkon dengan laser hanya termangu di meja laboratoriumnya. Entah kenapa dia memikirkan kata-kata sang Indian Nakai yang dilihatnya di TV barusan. Profil orang yang menjadi tujuan pesan dari si Indian tua itu cocok dengan dirinya. “Seorang Navajo yang terjebak di dalam kota bawah tanah”. Namun, bagaimana mungkin Nakai mengetahui keberadaan dirinya? Mereka berdua tidak saling kenal satu sama lain, tidak pernah berjumpa atau melakukan kontak apapun sebelumnya.

Ah… mungkin ini hanya sebuah kebetulan, Peter mencoba menenangkan dirinya. Tapi lanjutan pesan dari Nakai rasanya masih menyinggung dengan apa yang dilakukannya. Peter menyadari bahwa apa yang sedang dilakukannya merupakan sebuah terobosan dalam ilmu pengetahuan. Sebuah terobosan yang jika dipegang oleh pihak yang salah maka dapat dijadikan sebuah senjata yang sangat berbahaya.

Lalu apa yang dimaksud dengan bagian pesan yang dikatakan Nakai tentang nasib mereka yang tidak dibutuhkan dan tidak akan bertemu keluarganya lagi? Ah… sudahlah. Dia mencoba untuk tidak membayangkannya. Dia harus berfokus pada pekerjaannya sekarang agar dia segera mendapat pembayaran besar yang dijanjikan dan bertemu keluarganya kembali. Semoga itu hanya sebuah pesan acak tidak bermakna dari seorang Indian tua yang gila.

****

Benarkah itu sebuah hanya sebuah pesan asal-asalan dan tidak ditujukan kepada Peter?

Mari kita temukan jawabannya pada edisi-edisi berikutnya.
smile emotikon

Ingat… ini cuma dongeng. Yang juga berada di dalam sebuah dongeng.

by Patsus Namraenu biro Jabodetabek
Gambar by Google dan Patsus Citox

sumber: http://patriotgaruda.com/2015/12/28/lirik-kuno-navajo-6-pesan-mengkhawatirkan/

Lirik kuno Navajo (5) : Kota bawah tanah

 cerita ini di ambil dari http://patriotgaruda.com/2015/12/19/lirik-kuno-navajo-5-kota-bawah-tanah/

Alkisah, dunia ini terbagi atas 4 bangsa yaitu bangsa kulit putih, kulit merah, kulit hitam dan kulit kuning. Kesemua bangsa itu saling hidup rukun dan damai. Mereka saling bantu membantu dan berhubungan baik satu sama lain. Mereka terhubung dalam satu ikatan kuat yang membentuk sebuah keseimbangan yang terpusat pada keyakinan akan adanya Tuhan yang mengawasi semua perbuatan mereka.

Namun rupanya Tuhan juga menciptakan bangsa lain yang keberadaannya tidak disadari oleh ke-4 bangsa yang ada.

Bangsa ini tinggal di tempat-tempat tersembunyi yang tidak dapat dijangkau oleh ke 4 bangsa yang lain. Mereka bersembunyi atau disembunyikan oleh Tuhan karena sifat mereka yang kejam dan merusak. Mereka tinggal di gua, di balik gunung yang sulit dijangkau, di balik reruntuhan benteng-benteng tua dan tempat-tempat lain yang tidak jamak untuk ditempati manusia. Dari semuanya, kelompok yang tinggal di bawah tanah dari golongan bangsa ini lah yang paling jahat dan paling berbahaya.


Namun meskipun memiliki sifat yang jelek, mereka sangat cerdas dan cenderung licik. Karena itu meski mereka tinggal di tempat-tempat yang tidak umum, mereka tetap mampu membangun kehidupan di manapun mereka bermukim. Dan, kembali, kelompok yang tinggal di bawah tanah dari bangsa ini adalah yang paling cerdas diantara semuanya.

Sebenarnya kemampuan mereka membangun “peradaban” di tempat-tempat yang aneh itu tidak melulu karena kehebatan atau kecerdasan mereka. Sebagaimana yang dikatakan diatas, mereka cerdas namun juga licik. Sesekali mereka menyamar dan mendatangi tempat manusia-manusia dari ke-4 bangsa lain untuk mencari tahu siapa diantara mereka yang pintar dan dibutuhkan keahliannya. Jika mereka sudah menemukannya maka mereka akan menawari orang tersebut untuk bekerja di tempat mereka dengan bayaran yang tinggi, tentu tanpa mengatakan darimana asal mereka sebenarnya.

Tidak semua orang yang ditawari itu mau untuk menerimanya karena umumnya masyarakat ke-4 bangsa itu lebih suka bekerja di negeri mereka sendiri. Karena itu untuk membuat penawaran mereka semakin menarik, mereka menawari dengan berbagai upeti lainnya. Namun jika masih juga ditolak maka mereka tidak segan-segan untuk menculiknya. Mereka yang menerima penawaran tersebut maupun yang diculik paksa baru menyadari mereka bekerja untuk sebuah bangsa yang jahat setelah mereka melihat sendiri tempat tinggal yang asli dari bangsa “asing” tersebut.

Demikianlah, bangsa yang jahat itu akhirnya dengan berbagai upaya berhasil mengumpulkan banyak manusia dengan keahlian yang mereka butuhkan dari ke-4 bangsa yang ada untuk dipekerjakan di tempat mereka. Karena keberadaan mereka yang jauh didalam tanah dan sulit untuk keluar karena ketatnya penjagaan maka terpaksalah manusia-manusia yang sebenarnya memiliki sifat baik ini harus menurut kepada bangsa jahat yang menipu dan menculik mereka. Pembayaran yang mereka terima juga akhirnya tidak mampu mereka nikmati karena mereka terkurung di dalam tanah dan tidak bisa membelanjakannya.
Lirik kuno Navajo (5) : Kota bawah tanah
Lirik kuno Navajo (5) : Kota bawah tanah
Bahkan banyak diantara mereka yang belum menerima apa yang dijanjikan. Dikatakan kepada mereka bahwa mereka baru akan menerima upah mereka ketika mereka sudah selesai sepenuhnya dengan pekerjaan mereka dan kembali ke atas permukaan. Banyak diantara mereka yang memang telah menyelesaikan pekerjaannya, menerima upahnya dan kembali ke “permukaan”. Harapan untuk bertemu kembali keluarga dan menerima upah yang dijanjikan akhirnya membuat semua yang dipekerjakan oleh bangsa jahat ini akhirnya mau menuruti apapun yang diperintahkan.

****************
Salah satu diantara mereka yang juga tertipu adalah seorang pemuda dari bangsa kulit merah yang bernama Piataru si Rusa Gunung. Sebagai seorang yang cerdas dan punya keinginan untuk menerapkan ilmunya yang mampu membaca bumi, Piataru pun tertarik untuk menerima penawaran itu. Piataru memang suka mendengar bumi bernyanyi dalam kesunyian. Sehingga ketika seseorang mengajaknya untuk membuat alat yang mampu mendengar bumi bernyanyi setiap waktu, tanpa pikir panjang Piataru pun menerimanya. Di awal Piataru memang sangat antusias membuat alat itu. Dia membuat gambarnya dan meminta pihak yang mempekerjakannya untuk mengumpulkan benda-benda untuk membuat alat itu.

Namun setelah dua musim salju berlalu, Piataru mulai kehilangan minatnya. Dia merasa pihak yang mempekerjakannya mengubah alat yang dibuatnya. Dia tidak mengetahui alat itu akan dibuat menjadi apa namun sepertinya untuk sesuatu yang membahayakan. Apalagi setelah dia melihat di ruangan yang lain, berbagai alat yang aneh dan mengerikan juga sedang dibuat. Dia mendapat kabar bahwa berbagai alat aneh itu akan semakin kuat dengan bantuan alat yang dibuatnya.

Piataru pun mulai gelisah. Dia khawatir alat yang dibuatnya bisa membahayakan negeri 4 bangsa. Ini jelas tidak seperti harapannya. Karena itulah dia mulai mempelajari keadaan sekitarnya dan alat-alat lain yang juga sedang dibuat disitu. Jika sebelumnya Piataru adalah seorang pemuda yang tidak terlalu perduli pada sekitarnya dan hanya memikirkan alat yang dibuatnya, kini tidak lagi. Piataru pun diam-diam menyusun rencana untuk mempelajari alat-alat disitu terutama alat yang akan digabung dengan alat yang dibuatnya. Dan jika terbukti benar alat-alat itu akan digunakan untuk sesuatu yang membahayakan 4 bangsa, Piataru akan mencoba mencegahnya semampunya.
Lirik kuno Navajo (5) : Kota bawah tanah
Lirik kuno Navajo (5) : Kota bawah tanah

****************
Seperti apakah perjuangan Piataru di dalam kota bawah tanah itu? Berhasilkah dia dengan rencananya?
****************
Nantikan kelanjutan dongeng yang sedang diceritakan oleh kepala suku Charanimo kepada Martin tersebut!

By Patsus Namraenu biro Jabodetabek
Gambar by Google dan Patsus citox


sumber: http://patriotgaruda.com/2015/12/19/lirik-kuno-navajo-5-kota-bawah-tanah/

Lirik kuno Navajo (4) : Dongeng kakek tua

“Jadi? Apa maksud lagu Indian tua itu? Engkau sudah memecahkan kodenya?”

Pagi itu Shannon mengantar Martin yang naik ke mobilnya untuk menuju ke toko yang kemarin mereka datangi.

“Sebuah petunjuk bi. Namun saya belum yakin hingga bertemu dia.”, jawab Martin membuka pintu mobilnya.
“Ingat bi. Jangan pernah membicarakan tentang hal ini di dalam rumah.”

Shannon mengangguk.

****
Lirik kuno Navajo (4) : Dongeng kakek tua
“Antarkan aku ke daerah Pajarito!”

Mendengar permintaan Martin, Nakai menghentikan nyanyiannya yang terdengar seperti gumaman itu.


“Tidak ada apa-apa di Pajarito.”, jawab Nakai tanpa membuka mata.

Nakai lalu meneruskan nyanyian gumamannya itu seolah tidak perduli dengan keberadaan Martin.

“Ah… ayolah! Apa maksudmu menyanyikan lagu aneh itu kemarin? Itu sebuah kode lokasi kan?”, Martin mulai tidak sabar.

Nakai kembali menghentikan nyanyiannya yang terdengar seperti gumaman itu. Kali ini dia membuka matanya dan menatap Martin dengan tajam.

“Jadi engkau keponakan sang penyingkap tabir?”

Martin menyadari bahwa yang dimaksudkan oleh Nakai sebagai penyingkap tabir adalah pamannya. Dia heran dari mana Indian tua ini tahu bahwa dia adalah keponakannya.

Apakah dia telah bertemu dengan pamannya semalam lalu menceritakannya? Martin menjadi sangat penasaran. Dia kini yakin bahwa dia telah berhasil memecahkan kode dalam lagu si Indian tua itu.

“Ya! Bagaimana kau tahu? Engkau tahu dia dimana? Apakah dia ada di Pajarito?”

Nakai tidak menjawabnya. Dia malah menutup matanya kembali dan kembali bergumam sesuatu dalam bahasa Navajo.

“Mata hitam mengawasi. Lepaskan diri dari mata hitam. Ketika gelap mendekat, bayang rajawali kayu mengikutinya. Maka temui Nakai di kaki lembah di ujung bayangnya…”

“Apa maksudmu?”, Martin menanggapinya juga dalam bahasa Navajo.

Nakai kembali tidak menjawab. Dia lalu mengambil sebuah seruling dalam tasnya. Dia memainkan seruling itu dengan gaya jemari yang tidak biasa. Jari yang tidak menutup lubang seruling itu seolah menunjuk ke sebuah arah. Martin menoleh ke arah yang ditunjuk Nakai. Martin tersenyum. Kini dia paham apa yang dimaksud oleh Nakai.

Di seberang jalan dari toko swalayan itu terdapat sebuah patung kayu yang tinggi yang berbentuk seperti susunan orang yang berbentuk pahatan menjulang ke atas. Di puncak dari patung kayu itu terdapat burung rajawali yang besar. Saat pagi seperti itu bayangan patung itu berada di depannya maka yang dimaksud dengan “bayang rajawali kayu mengikutinya” tentulah waktu sore “Ketika gelap (waktu malam) mendekat”.

“Oke, aku akan kembali sore hari nanti. Aku akan mencari cara untuk meloloskan diri dari para pengintai.”

Nakai menghentikan permainan sulingnya dan menunjuk ke atas. “Penyingkap tabir berkata, mata di langit juga mengawasi.”

Martin paham maksudnya. Dia kini yakin bahwa pamannya Peter terlibat masalah dengan sebuah kekuatan yang memiliki pengaruh besar. Kekuatan yang membuat media dan pihak berwenang tidak berdaya untuk menghadapinya. Kekuatan ini juga mampu menggerakkan satelit mata-mata untuk mengawasi wilayah atau bahkan individu tertentu. Martin sebenarnya khawatir bahwa dia tidak akan menang melawan mereka dan bahwa urusan ini juga akan membahayakan keselamatannya. Namun janjinya kepada ayahnya, hubungan baiknya dengan pamannya serta rasa ibanya terhadap bibi dan anak-anaknya menguatkan tekadnya untuk melawannya.

****

“Bagaimana?”, tanya Shannon dengan penuh antusias ketika Martin baru saja turun dari mobilnya.
“Sepertinya petunjuknya benar dan dia akan mengantarku ke sana.”
“Apakah Peter ada disana?”
“Aku tidak tahu bi. Dia sangat pelit bicara. Sulit sekali menggali informasi darinya.”
“Moga Peter disana. Moga dia disana. Kapan engkau akan kesana?”
“Nanti sore, tapi aku butuh bantuan Buck bi…”
“Bantuan apa? Tidak bisa aku saja?”
“Nanti aku ceritakan ketika Buck sudah kembali dari menjemput anak-anak. Aku ingin menyusun rencana terlebih dahulu..”
“Rencana apa?”
“Rencana untuk meloloskan diri.”
“Meloloskan diri???”

****

“Bagaimana Buck? Kamu siap?”
“Siap!”
“Teman-temanmu juga?”
“Tentu! Mereka telah menunggumu.”
“Ayo bergerak!”

****

Dengan mengucap doa dan memohon perlindungan dari Yang Maha Esa, Martin melangkah mendekati mobil Chrysler yang diparkir tidak jauh dari rumah mereka. Martin kemudian mengetuk kaca penumpang depan mobil itu yang seluruhnya tertutup kaca gelap pekat.

Kaca mobil bagian yang diketuk Martin itupun diturunkan. Didalamnya terdapat sepasang pria dan wanita yang keduanya mengenakan kaca mata hitam.

“Ya ada apa?”, tanya si wanita yang berada di sisi penumpang. Nampak jelas dia tidak senang dengan keberanian Martin mendekati mereka.
“Ini masih negara bebas bukan?”, tanya Martin.
“Apa???”
“Ini masih negara bebas kan? Sebuah negara dimana warganya harusnya bisa bebas dari ketakutan dan kekhawatiran.”

Kedua orang di dalam mobil itu segera menyadari bahwa Martin menyindir mereka.

“Hey anak muda! Pergi dari sini. Jangan ganggu tugas kami. Kami sedang menunggu seseorang.”, pria yang berada di bagian kemudi menghardik Martin dengan kasar.
“Apa ada tulisan ‘bodoh’ di keningku? Aku tau kalian memata-matai kami. Kalianlah yang seharusnya jangan mengganggu kami.”
“Cukup omong kosong ini!”, sambil berkata begitu pria tersebut menekan sebuah tombol untuk menaikkan kembali kaca mobil tersebut.
“Hey tunggu! Aku punya informasi yang kalian butuhkan…”, seru Martin kemudian.

Pria tersebut segera menghentikan tindakannya menutup kaca mobil. Keduanya memperhatikan ketika Martin mengambil sesuatu dalam tas. Sambil membelakangi mereka, Martin mempersiapkan sesuatu. Ketika nampaknya telah siap, Martin berbalik dan langsung memotret mereka. Ternyata yang Martin persiapkan adalah sebuah kamera.

“Aku akan muat foto kalian berdua di koran lokal. Aku akan katakan bahwa kalian adalah sepasang penculik anak.”

Pria yang berada di bagian kemudi nampak marah. Dia segera turun dari mobil dan mendekati Martin.

“Berikan kamera itu!”, bentaknya dengan keras.
“Tidak!”, Martin balik membentaknya.
“Saya bilang, berikan kamera itu”, sambil berkata demikian pria tersebut mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya ke arah Martin.
“Hans… kendalikan dirimu.”, wanita yang berada di bagian penumpang ikut turun dan mengingatkan rekannya.

“Ya Hans… kendalikan dirimu. Engkau akan semakin terkenal di kota ini dengan videomu yang telah menodongku.”
“Video??? Video apa?”, tanya pria yang bernama Hans itu kebingungan.

Martin menunjuk ke beberapa arah. Di tiap arah yang ditunjuk Martin, terdapat beberapa kamera yang tampaknya merekam mereka.

“Ah…Kamu hanya menggertak!”, kata Hans. Namun dia telah menurunkan todongan pistolnya ke arah Martin.

Sebuah mobil kemudian mendekati mereka. Mobil yang dikemudikan teman Buck itu kemudian berhenti di dekat Martin.

“Terserah apa yang engkau percayai Hans tapi aku tahu setiap pasal yang bisa menuntutmu atas apa yang baru saja kamu lakukan.”, kata Martin sambil membuka pintu mobil yang mendekat tersebut.

Martin kemudian naik ke mobil itu dan sebelum menutup jendelanya, Martin berkata “Ayahku mengajari banyak tentang hukum. Atasanmu pasti punya informasi tentang aku dan ayahku. Jadi kamu tahu bahwa kamu tidak ingin berurusan dengan firma hukum milik ayahku. Sekarang permisi dulu, saya ada janji dengan seseorang.”

Mobil yang ditumpangi Martin pun pergi.

“Anak muda sok tahu! Ayo…kita ikuti dia.”, Hans yang masih kesal rupanya belum puas berurusan dengan Martin.
“Sudahlah! Kita disini saja mengawasi rumah itu.”, rekannya yang wanita berusaha menenangkannya.
“Tidak akan ada apa-apa dirumah itu Audrey! Sudah 6 bulan kita mengawasinya dan tidak ada yang aneh! Saya yakin anak muda itu bisa membawa kita ke sebuah petunjuk!”

Audrey mengangkat bahu, “Ok…ok…tenanglah…baiklah, kita ikuti saja anak muda itu.”

Mereka kemudian mengikuti mobil yang ditumpangi Martin. Namun tidak lama kemudian mobil yang dibawa Hans mogok. Hans kebingungan sambil melihat panel kendalinya. Dia melihat lampu petunjuk bahan bakar yang telah menunjukkan angka nol. “Aarrggghh!!! Bagaimana mungkin??? Bensinnya masih sangat cukup tadi?”. Dia memukul kemudinya dengan kesal.

Yang tidak diketahui Hans adalah ketika dia turun untuk mengejar Martin tadi, Buck menyusup kebawah mobil memotong selang bensin mobil tersebut sehingga bocor dan membuat bensin mobil itu habis dengan sangat cepat.

*******

Untuk berjaga-jaga kemungkinan mereka “diintip” dari langit, mobil yang ditumpangi Martin masuk ke sebuah gudang. Tidak lama kemudian dari dalam gudang tersebut keluar 3 mobil yang berbeda-beda arahnya. Ketiga mobil tersebut dikemudikan oleh teman-teman Buck dan ditujukan untuk membingungkan pengintaian. Namun Martin tidak ada di dalam salah satu mobil tersebut.

Dia turun lewat ruang bawah tanah yang umum terdapat pada banyak rumah dan keluar lewat belakang rumah itu yang tertutup pepohonan yang rimbun. Dia berjalan menyusuri hutan lalu muncul lewat jalan setapak tempat dimana sebuah mobil milik salah seorang teman Buck menunggu. Dengan mobil inilah Martin menjemput Nakai dibawah bukit di belakang pepohonan di seberang toko swalayan sebagaimana perjanjian mereka sebelumnya.

*******

“Jadi apakah pamanku masih hidup?”
“Nakai tidak akan bicara. Charanimo sang kepala suku yang akan bercerita.”

Perjalanan selama hampir 1 jam itu lebih banyak diisi dengan kesunyian. Martin harus bersabar untuk mendapatkan jawaban dari segala pertanyaannya. Dia sebenarnya memiliki kekhawatiran tentang nasib pamannya namun dia segera menepisnya. Semoga saja Pajarito adalah tempat dimana pamanku bersembunyi, demikian pikirnya. Namun ternyata Nakai tidak menuntun Martin ke Pajarito melainkan ke arah pusat penampungan Indian Navajo di Quzenito, 3 kilometer sebelum Pajarito.

*******

Setiba di Quzenito, mereka berjalan ke arah rumah kepala suku. Nakai dan terutama Martin mendapat tatapan tajam dari para penghuni reservasi Navajo tersebut. Beberapa ada yang bertanya dalam bahasa Navajo kepada Nakai.

“Nakai, kenapa kamu pulang? Siapa dia?”
“Dia seorang Navajo. Dia adalah keponakan sang pembuka tabir.”
“Apa??? Benarkah? Apakah dia akan membawa kesulitan juga seperti pamannya?”
“Biar Charanimo yang memutuskan.”, jawab Nakai sambil terus berjalan. Martin ikut berjalan dibelakangnya.
“Charanimo masih sakit. Dia tidak akan bisa memutuskan apa-apa.”

*******

Akhirnya setelah menunggu sebentar di ruang tamu, Martin dipersilahkan masuk menemui Charanimo, sang kepala suku Quzenito, yang sedang terbaring sakit di pembaringannya. Sebelumnya Martin membuka topi baseballnya dan sedikit membungkukkan badannya ketika bertatap mata dengan Charanimo untuk pertama kalinya.

“Kamu Martin keponakan Peter?”
“Ya pak kepala suku.”, jawab Martin sambil sekali lagi sedikit membungkukkan badannya.

Sebagai seorang keturunan Navajo, Martin mengerti dengan baik bagaimana bersikap dan bertutur kepada seorang kepala suku.

“Duduklah…”. Martin pun duduk di sebuah bangku di dekat kepala Charanimo.

Setelah duduk, Martin membuka percakapan. “Saya minta maaf mengganggumu dalam keadaan seperti ini. Tapi ini sangat penting bagi keluarga kami.”

Charanimo mengangguk pelan.

Martin pun meneruskan percakapan dan bertanya. “Anda tentu sudah mengerti tujuanku kemari. Dimanakah pamanku Peter pak kepala suku?”.

Sejenak Charanimo menghela nafas panjang.

“Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti. Bersabarlah sejenak. Sebelumnya aku ingin menceritakan terlebih dahulu sebuah cerita. Sebuah kisah tentang raja yang sangat jahat yang memiliki ribuan mata yang membuat semua penghuni bumi, bahkan bumi itu sendiri, menangis dalam penderitaan dan kesedihan yang luar biasa. Maukah kamu mendengarkan?”

Martin mengangguk. Dia tahu kisah yang akan diceritakan oleh Charanimo ini pasti berhubungan dengan nasib pamannya. Dia mengerti bahwa sudah menjadi tradisi dalam suku Indian, termasuk pada Indian Navajo, untuk menyamarkan sebuah peristiwa penting dalam bentuk kisah dongeng.

*******

Seperti apakah dongeng kakek kepala suku Charanimo itu? Dan sebenarnya dimanakah Peter, paman Martin, berada? Masih hidupkah? Atau jangan-jangan ……

Ya sudah, sebagaimana Martin yang bersabar mencari pamannya, harap bersabar juga ya untuk menunggu sambungannya..

*******

Ingat! Ini cuma dongeng dan sepertinya “tidak ada” kaitannya dengan keadaan nyata.

By Patsus Namraenu biro Jabodetabek
Gambar Ilustrasi By Google dan Citox Bae-Jeh
http://patriotgaruda.com/2015/12/11/lirik-kuno-navajo-4-dongeng-kakek-tua/

Semua cerita ini diambil dari www.patriotgaruda.com

Lirik kuno Navajo (3) : Koordinat tersembunyi

DI SUATU WAKTU PADA 20 TAHUN LALU

Lirik kuno Navajo (3) : Koordinat tersembunyi
“Hey Alex… alat penjejak lokasi ini keren juga”
“Ya dan itu tidak untuk digunakan sembarangan Peter. Simpan itu. Kita sudah selesai disini.”
“Sebentar… sebentar… aku suka pemandangan disini. Aku ingin mencatat kordinatnya.”
“Untuk apa?”
“Karena aku ingin mendatangi lagi tempat ini dan persis melihat pemandangan indah yang ada dibawah.”

Peter menunggu alat itu menunjukkan hasil penjejakannya. Setelah itu dia terlihat mencatat kordinat hasil penjejakan alat tersebut.

“Kamu sudah selesai?”
“Sebentar Alex… aku akan coba 1 kordinat lagi.”


Peter kemudian bergeser agak lebih ke atas dan mengulangi kembali penjejakan serta pencatatan koordinat di tempat tersebut.

“Ah ayolah! Kita tidak ada waktu untuk bermain-main Peter. Masih banyak titik patok yang harus kita catat.”
“Ok… ok… aku sudah selesai. Bergeser sedikit ke arah atas memberikan pemandangan yang lebih indah. Di samping itu, kombinasi angka kordinat di atas mendekati urutan tanggal lahirku.”, kata Peter setelah mendekat.
“Huh! Dasar mahasiswa dan romantisme orang muda! Ayo kita pindah ke lokasi berikutnya.”

Saat itu, sekitar 20 tahun lalu, Alex yang masih bekerja di sebuah kantor pengacara sebagai petugas lapangan, ditugaskan mendampingi suku Navajo dalam kasus protes mereka terhadap rencana pembuatan jalan provinsi yang melintasi area reservasi daerah Pajarito, New Mexico. Meski penugasannya bersifat profesional namun tidak bisa dipungkiri faktor latar belakang Alex sebagai keturunan Indian menjadi salah satu pertimbangan utama penugasan tersebut. Dengan pemahamannya yang baik atas kebudayaan dan bahasa Navajo, Alex tidak menemui banyak kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Khusus untuk masalah pemetaan batas-batas area reservasi, Alex meminta bantuan Peter adiknya yang saat itu masih sedang kuliah bidang kebumian.

==============================================================

“Oke bi… sampai dimana pembicaraan kita tadi?”
“Tentang Indian tua itu?”
“Maksudku pembicaraan sewaktu di rumah tadi.”
“Daftar belanja untuk renovasi galeri Navajo? Atau sebelum para pemindah barang datang?”
“Ah ya… tentang paman Peter dan hal yang sedang dikerjakannya di laboratorium nasional”
“Oh iya itu.” kata Shannon. Ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkannya.
“Jadi apa yang sedang dikerjakannya waktu itu.”

“Aku tidak tahu pasti tapi, semoga aku mengingatnya dengan benar,…”, lanjut Shannon, “… Peter pernah mengatakan tentang sebuah satelit yang mampu memecah partikel bebatuan”

Martin terkejut mendengar hal itu. Dia tidak menyangka pamannya akan bekerja dalam sebuah proyek satelit. Apalagi jika satelit tersebut memiliki teknologi perang bintang. Namun dia tidak berkata apa-apa. Dia menunggu penjelasan Shannon selanjutnya. Disamping itu ada hal lain yang juga menarik perhatiannya.

Ketika mereka baru saja melintasi sebuah mobil yang sedang diparkir dipinggir jalan, tiba-tiba saja Martin teringat dengan pesan Nakai akan “mata hitam” yang mengawasi. Mobil Chrysler itu memiliki kaca yang sangat gelap diseluruh sisinya. Tidak ada seorangpun yang turun dari mobil itu dan seperti menunggu sesuatu. Martin teringat dalam suatu kasus yang pernah ditangani ayahnya dahulu dimana ada mobil dengan profil yang serupa juga selalu mengikuti kegiatan ayahnya. Saat itu ayahnya menyadari bahwa dia diawasi sepanjang waktu dan menceritakannya kepada seluruh anggota keluarga, termasuk Martin. Kini Martin pun memiliki perasaan yang sama bahwa mereka sedang diawasi.

“Martin? Kamu masih mendengarkan?”
“Ya..ya…tentu bi. Saya sedang memikirkan seperti apa satelit itu dan untuk apa kegunaannya.”
“Saya pun sering memikirkan hal itu. Yah… apapun yang sedang dikerjakan Peter, saya berharap mereka tetap membiarkannya hidup setelah penelitiannya selesai.” Suara Shannon terdengar murung.
“Kita akan berusaha terus bi. Selama kita belum menemukannya maka harapan itu masih ada.”
“Yah… semoga kamu benar. Terkadang aku merasa semua upaya pencarian ini sia-sia saja.”

Martin hanya terdiam. Setelah upaya pencarian selama 2 tahun yang tidak membuahkan hasil ditambah dengan semua penelusuran petunjuk membentur batu karang, Martin bisa memaklumi apa yang dikatakan oleh bibinya. Siapapun yang berada dalam situasi tersebut dapat dimengerti jika suatu saat mereka merasakan patah semangat.

“Bi… aku tidak tahu apakah ini bisa menjaga harapanmu.”, kata Martin
“Ketika ayahku wafat, dia berpesan kepadaku untuk melakukan yang terbaik dalam menemukan adiknya. “, lanjut Martin.”Semenjak paman Peter hilang, kesehatan ayah menurun drastis karena terus memikirkannya. Keadaan ini diperparah dengan penyakit lamanya yang kambuh dan akhirnya membuat keadaannya tidak tertolong lagi. Aku telah menyanggupi permintaan ayahku itu. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk mencari paman. Bahkan jika itu harus dilakukan bertahun-tahun.”

Shannon nampak terhibur dengan kata-kata Martin, “Terimakasih Martin. Bagaimanapun aku harap itu tidak akan memberatkanmu. Meskipun kamu telah berjanji kepada ayahmu, aku harap itu tidak mengganggu kehidupanmu. Bagaimanapun kamu juga punya kehidupan yang harus dijalani.”

“Tidak apa-apa Bi. Ini bukan hanya soal janji dengan ayahku. Tapi lebih dari itu. Hubunganku dengan paman Peter sudah sangat akrab jauh sebelum dia menikah. Bibi tau kan dia yang sangat membantuku sewaktu penelitian sehingga aku bisa memperoleh gelar terbaik di kampusku?”

Shannon mengangguk. “Jadi apa langkah kita selanjutnya? Menurutmu Indian tua itu tahu sesuatu…”

“Kita lihat saja besok bi. Tapi satu hal yang ingin saya tekankan pada bibi…”. Martin diam sejenak. Dia memikirkan kata-kata terbaik untuk menyampaikan sesuatu kepada bibinya.

“Jangan pernah membicarakan tentang Peter atau upaya pencariannya atau apapun tentang Peter di rumah ataupun di mobilmu dengan siapapun. Tidak dengan saya. Tidak juga dengan anak-anak dan Buck.”
“Kenapa?”
“Entah mengapa… Saya punya perasaan rumah dan mobilmu telah disadap. Dan sepertinya…. selama ini keluargamu selalu diawasi.”
“APAA??? Oleh siapa?”
“Saya belum tahu. Tapi yang penting bibi harus selalu berhati-hati.”
“Ya Tuhan! Kamu tidak sedang mencoba menakut-nakutiku kan? Kamu tidak bercanda kan? Siapa… apa tujuan mereka?”, Shannon yang panik bertanya tanpa henti.
“Sepertinya mereka mencari sesuatu. Dan apapun yang mereka cari belum mereka temukan dan menurut mereka petunjuk itu ada pada keluargamu.”

“Pantas saja selama ini aku memang selalu merasa was-was jika meninggalkan rumah. Itulah kenapa aku memanggil Buck untuk menemaniku dan anak-anak setelah dia lulus kuliah tahun lalu. Disamping karena dia juga belum mendapat pekerjaan, dia bisa sambil membantu aku mengelola kedai dan motel. ”

Hening sejenak sebelum Shannon melanjutkan, “Tapi… petunjuk apa yang mereka cari? Rumah itu baru aku beli setelah pindah kesini dan tidak ada barang Peter yang berasal dari pekerjaannya di laboratorium itu.”

******************************************

Lirik kuno Navajo (3) : Koordinat tersembunyi
Di rumah setelah selesai mengobrol dengan Buck dan bermain dengan sepupu-sepupunya yang jauh lebih muda, Martin beristirahat di salah satu kamar motel yang tidak terisi. Di kamar dia berusaha mengingat kembali lagu yang dibawakan oleh Nakai, si Indian tua itu. Lagu itu hanya beberapa kata namun hampir seluruhnya berubah pelafalannya kecuali satu dua kata saja. Setelah mencatat pola perbedaan pelafalan yang dinyanyikannya, Martin mendapatkan susunan angka yang membingungkan. Dia berusaha memastikan bahwa dia memang tidak salah ingat. Sebagai seorang keturunan Indian Navajo yang memang terkenal kuat dalam mengingat urutan kata, Martin meyakinkan dirinya bahwa ingatannya telah benar.

Apakah ini nomor telepon? Tidak. Pola nomor telepon tidak seperti ini dan ini terlalu panjang.
Apakah ini tanggal lahir? Tanggal lahir siapa? Terlalu aneh. Dan juga terlalu panjang untuk sebuah tanggal lahir.
Jam? Waktu? Tidak. Masih aneh. Masih terlalu panjang.

Apa yang mungkin? Apakah Indian tua itu hanya bermain-main? Atau Indian tua itu tidak mengingat lagunya dengan baik?
Ah.. tidak mungkin. Dia seorang Indian tua yang sangat serius. Dia bahkan tidak sedikitpun pernah tersenyum. Dan tidak mungkin dia salah mengingat lagunya. Seorang Navajo setua itu pasti mengetahui dengan benar lagu-lagu rakyat mereka yang terkenal. Kalaupun dia membuat kesalahan tidak mungkin begini banyak.

Dia memperhatikan pola itu kembali. Seluruh kata itu berubah lafalnya kecuali pada 2 kata yaitu kata kedua dan kata kesepuluh. Kata pertama bergeser 1 lafal, kata ketiga bergeser 6 lafal, kata keempat dan seterusnya Martin memperhatikan 1 per 1 dengan baik. Untuk kata yang digunakan dengan benar, Martin tidak memberi tanda apapun. Dia menyusun angka pergeserannya dibawah lafal lagunya. Sejauh ini pola tersebut dimulai dengan “1 6265 …” dan seterusnya.

Bagaimana jika dia mengganti tanda spasi tersebut dengan “x”? “1×6265 …”? Hmm… apa maksudnya ini? Membingungkan.
Lalu dia menggantinya dengan tanda “-“. “1-6265 …”? Tetap sulit dimengerti.

Sebuah ide terpikir olehnya. Kata yang tidak digeser berarti pergeserannya adalah “0”. Bagaimana jika dia menggantinya dengan kata “0”?
“106265 …”? Akhirnya susunan sebuah angka yang kelihatannya lebih masuk akal. Tapi apakah yang dimulai dengan angka “106…”?

Martin tersenyum. Dia telah melihat pola dari angka-angka itu. Dia yakin angka “106265 …” maksudnya adalah “”106.265″.
Tidak salah lagi, ini adalah data koordinat. Martin teringat dahulu sewaktu pamannya itu membantu mengerjakan tugasnya, data yang paling banyak diberikan kepadanya saat itu adalah data koordinat. Dan dengan melihat pola yang terlihat di awal maka ini seharusnya adalah data koordinat latitude yang berdekatan dengan Los Alamos.

Selanjutnya dia dengan relatif mudah bisa memecahkan maksud urutan angka sisanya. Setelah memecahkan teka-teki tersebut, Martin mencari sebuah titik koordinat dalam peta offline di laptopnya. Benar saja. Programnya menunjukkan suatu tempat di dalam negara bagian New Mexico. Tempat tersebut relatif masih berada di dekat kota Los Alamos. Hey.. sebentar… inikah tempat yang pernah diceritakan oleh pamannya dulu? Apakah benar ini tempatnya? Apakah pamannya berada disini?

Besok dia harus menemui Nakai dan menanyakannya dari mana dia memperoleh informasi koordinat ini. Atau siapa yang mengajarkan lagu yang aneh itu kepadanya. Apakah pamannya ada disitu? Apakah Nakai mengenalnya? Dan yang terpenting… apakah pamannya masih hidup?

Sejuta pertanyaan memenuhi benaknya. Dan dia tidak sabar menunggu hari berganti untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.

=================================================================

Ya baiklah kalau begitu. Kita tunggu saja hari berganti ya. Hehehe…
grin emotikon

Bersambung ke bagian (4)

Inga’… inga’…. inga’…. ini cuma dongeng. Clink!

By Patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar Ilustrasi By Google dan Patsus Dede Sherman
http://patriotgaruda.com/2015/12/03/lirik-kuno-navajo-3-koordinat-tersembunyi/

Lirik kuno Navajo (2) : Lagu yang aneh

Lirik kuno Navajo (2) : Lagu yang aneh
“Wah… Martin! Sebanyak ini barang yang engkau berikan?”
“Ah ini bukan apa-apa. Maksudku… mereka akan lebih berguna disini.”
“Tapi barang-barang ini bagian dari warisan untukmu kan?”
“Ya… hanya saja tidak ada lagi tempat di apartemenku untuk barang-barang antik ini. Jadi saya pikir lebih baik barang ini bisa berguna di tempat lain.”
“Terimakasih sekali Martin. Kedaiku akan terasa istimewa karena tema tentang pribumi Amerika akan terasa sangat kuat disini.”

Martin Spearwood adalah putra ketiga dari pasangan yang berayah keturunan Amerika pribumi dan ibu kulit putih. Keluarga Spearwood adalah satu dari sedikit keturunan Amerika pribumi yang berhasil masuk ke jajaran elit Amerika modern. Meskipun jumlah mereka tidak banyak namun sebagian besar di antara mereka menjadi orang-orang yang sukses.

Salah satu diantaranya adalah ayah Martin, Alexander Spearwood atau yang biasa dipanggil Alex, yang merupakan seorang pengacara terkenal. Reputasinya terutama pada pembelaan hak-hak sipil masyarakat pribumi Amerika atau biasa disebut Indian. Selain sebagai pengacara sukses, Alex juga adalah seorang kolektor barang-barang antik bertemakan Indian. Alex mengoleksi begitu banyak koleksi bertema Indian mulai dari item-item kecil seperti gelang, sabuk dan ikat rambut hingga yang memakan tempat cukup besar seperti tenda, topi dan jubah bulu binatang. Barang-barang tersebut kini diwariskan secara merata kepada Martin dan kedua saudarinya sesudah wafatnya Alex 2 bulan sebelumnya.

Setelah selesai menempatkan koleksi barang-barang Indian baik di kedai maupun motel sesuai arahan Martin dan Shannon, para pemindah barang pun meninggalkan mereka.

“Oke… kamu sudah punya kedai yang sangat bertema pribumi Amerika, apa lagi yang kita perlukan?”
“Aku ingin melakukan sedikit perbaikan disana-sini. Aku rasa aku perlu ke toko untuk membeli beberapa peralatan.”
“Baik, aku akan mengantarmu dan membantumu jika memang diperlukan.”
“Terimakasih Martin. Aku tidak perlu menunggu Buck kalau begitu.”

Pria yang di maksudkan oleh Shannon adalah adiknya yang tinggal di rumah itu membantu mengerjakan segala urusannya.

“Eh iya jam berapa Buck pulang?”
“Dia masih menyebar flyer di kota sampai siang setelah itu dia akan menjemput anak-anak di sekolah. Mungkin selepas makan siang baru dia sampai rumah.”

Di parkiran toko yang cukup besar, mereka melewati seorang Indian tua yang duduk bersila sambil menyanyikan dengan pelan lagu-lagu dalam bahasa yang asing. Nampaknya dia seorang pengemis yang mengisi waktunya dengan menyanyikan lagu-lagu Indian. Di depannya terdapat sebuah kantung untuk menerima recehan atau uang kertas dari para pejalan kaki yang lewat dihadapannya. Dia nampak tidak perduli dengan keadaan sekitar dan kebanyakan orang yang melintas dihadapannya juga tidak memperhatikannya.

Namun, begitu Shannon melewatinya, tiba-tiba Indian itu menyanyikan lagu yang lain dengan agak lebih keras. Martin agak terperanjat dengan perubahan sikap pengemis itu yang tiba-tiba. Namun melihat Shannon yang tidak memperdulikannya dan berlalu begitu saja, Martin pun tidak menanggapi dan hanya menatap Indian itu sebentar lalu meninggalkannya.

“Kenapa dia?”
“Tidak usah diperdulikan! Dia hanya seorang Indian tua yang gila.”
“Seorang gila?”
“Ya.. ketika aku pertama kali pindah kesini, aku juga pernah mencari informasi darinya. Dan dia hanya meracau kata-kata yang aku tidak mengerti.”
“Dalam bahasanya atau bahasa kita?”
“Dalam bahasa kita. Namun aku tidak mengerti maknanya.”

Entah mengapa Martin memiliki firasat orang tua Indian tersebut mengetahui sesuatu yang penting. Dia berhenti dan mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.

“Bi, gunakan kartu belanja ini. Nomor pin-nya dijepit pada kartunya. Itu dari almarhum ayahku untukmu. Limitnya lumayanlah jadi belanjalah sesukamu. Aku ingin berbicara sebentar dengan Indian itu.”
Lirik kuno Navajo (2) : Lagu yang aneh
Shannon yang heran bercampur dengan rasa terimakasih menjawab dengan kebingungan “Eh… aku tidak bisa menerimanya Martin.”

Namun Martin tidak menanggapinya dan berbalik arah kembali ke arah orang tua Indian itu.

“Tapi Indian itu tidak memiliki informasi yang berguna…”, lanjut Shannon lagi setengah berteriak.

“Tidak apa-apa, aku hanya penasaran. Belanjalah! Aku akan menunggumu di parkiran…”

Shannon hanya memandangi kartu itu sebentar, mengangkat bahu dan meneruskan langkahnya masuk ke dalam toko besar itu.

Ternyata sejak tadi Indian tersebut terus memperhatikan mereka. Menyadari Martin kembali untuk menghampirinya, Indian itu mengangkat kantung dihadapannya dan menengadahkannya ke arah Martin.

Setelah memberikan Indian tua itu selembar dollar, Martin berjongkok dihadapannya dan bertanya, “Apa yang kamu ketahui tentang kecelakaan bus di Toppenish Creek 2 tahun lalu?”.

Sambil menggetuk-getukkan tongkatnya, Indian tua itu menjawab “Nakai tidak berbicara dengan orang asing.”

Seolah tidak memperdulikan keberadaan Martin, orang tua Indian yang bernama Nakai itu lalu mulai bernyanyi. Lagu yang dinyanyikannya adalah lagu folklor Navajo yang umum dikenal oleh semua orang yang pernah bersentuhan budaya dengan suku Indian Navajo. Merasa Nakai tidak memperhatikannya, Martin lalu berdiri dan bermaksud meninggalkannya. Sampai dia mendengarkan keganjilan pada lagu itu.

Sebagai seorang keturunan Navajo, Martin mengenal baik lagu itu. Ayahnya dulu pernah mengajarkannya dan bahkan merekamkannya ke dalam kaset sewaktu dia masih kecil.

“Engkau menyanyikannya tidak sepenuhnya benar. Beberapa kata-katanya tidak seperti itu…”.

Martin pun meninggalkannya dan kembali ke mobil untuk menunggu Shannon kembali berbelanja. Sebelum pergi, Martin masih sempat mendengarkan Nakai berkata, “Dua mata hitam yang jahat mengawasi. Berhati-hatilah.”. Martin menoleh dan menatap Nakai mencari penjelasan namun pria tua Navajo itu hanya meneruskan lagu yang sedang dinyanyikannya.

Sewaktu menunggu Shannon, dia melihat Nakai akhirnya meninggalkan tempatnya duduk. Nakai menyeberang dan berjalan ke arah lembah yang masih dipenuhi pepohonan.

Sepertinya dia pulang karena matahari telah mulai menyinari dengan terik di bagian tempat dia duduk sebelumnya.

******
Lirik kuno Navajo (2) : Lagu yang aneh
Sambil membantu Shannon memuat belanjaan ke bagasi mobil, Martin menceritakan kejadian barusan.

“Kamu benar… dia cuma seorang tua Indian yang tidak tahu apa-apa. Aku bertanya dan dia tidak mau menjawab. Dia malah mulai bernyanyi dengan lagu yang aneh.”
“Lagu yang aneh? Aneh bagaimana?”
“Kamu tahu kami bangsa Navajo memiliki suku kata yang sangat banyak. Urutan yang berdekatan antar suku kata tersebut mirip pelafalannya satu sama lain.”

Dia berhenti sejenak untuk memindahkan sebuah barang yang cukup berat.

“Lalu?”, tanya Shannon kemudian.
“Nah… pada bebarapa frasa lagu dia menggunakan suku kata yang dekat dengan kata yang sebenarnya pada lagu namun bukan kata itu sendiri. Sepintas tidak ada yang tahu bedanya jika tidak memperhatikannya dengan seksama. Namun aku tahu…”

“Ada yang bedanya 2 urutan, ada yang 1 urutan dan ada juga yang …. “, Martin melanjutkan penjelasannya namun tiba-tiba menghentikan omongannya.

“Ya?”, Shannon kebingungan melihat Martin yang memutus begitu saja ucapannya sendiri. Expresi Martin pun memperlihatkan dia sedang memikirkan sesuatu.

“Kecuali kalau … “, Martin seolah berbicara sendiri sambil berpikir keras.
“Kecuali apa Martin? Ada yang salah?”
“Apakah dia setiap hari berada di tempat itu?”, tanya Martin kemudian.
“Indian tua itu? Ya… sepertinya begitu. Kenapa?”, jawab Shannon.
“Aku akan kembali lagi besok mencarinya.”
“Keberatan menjelaskan ada apa?”
“Tidak Shannon bukan begitu! Aku cuma takut aku salah menafsirkan. Kita lihat saja besok.”

============================================================

Ya udah ok deh. Kita lihat saja besok ya rekan-rekan sekalian. Hehehe…

Bersambung ke bagian (3)

PERINGATAN : Masih sama dengan yang kemaren.: [ Membaca terlalu banyak dongeng menyebabkan kecanduan. Apalagi jika dalam dongeng tersebut melibatkan rahasia sebuah satelit, kisah pelarian seorang ilmuwan, kode-kode bahasa Indian kuno dan upaya perlindungan sebuah keluarga dari konspirasi jahat yang mengintai mereka.]

By Patsus Namraenu biro jabodetabek
Gambar by Google
http://patriotgaruda.com/2015/11/25/lirik-kuno-navajo-2-lagu-yang-aneh/

Mengenai Saya