Ini Dia Ciri-Ciri dan Klasifikasi Echinodermata

Echinodermata merupakan salah satu filum yang dari invertebrata yang banyak di jumpai di laut yang merupakan hewan yang memiliki kulit berduri.

Echinodermata berasal dari bahasa Yunani yang artinya Kulit Berduri. Filum Echinodermata, kelompok hewan ini ditemukan di hampir semua kedalaman laut. Echinodermata adalah filum hewan terbesar yang tidak memiliki anggota yang hidup di air tawar atau darat.
Salah satu echinodrmata
Echinodermata mempunyai kulit berduri, simteri radial dan bergerak lamban dengan bantuan kaki tabung. Dalam ekosistem, Echinodermata berperan sebagai hewan pemakan bangkai.


Sistem Peredaran darah pada echinodermata masih belum jelas, masih ddeskripsikan secara sederhana, yaitu pembuluh darah berawal dari yang mengelilingi mulut, kemudian berjabang pada setiap kaki tabung.

Sistem Pernapasan Echinodermata dilakukan dengan menggunakan insang atau pupula (tonjolan dari rongga tubuh)

Sistem persarafan terdiri dari saraf berbentuk lingkaran (cincin) yang mempersarafi mulut, dan saraf radial seperti tali yang mempersarafi bagian lengan atau kaki tabung.
struktur umum echinodermata
struktur umum echinodermata

Sistem Reproduksi Echinodermata berlangsung secara seksual, yaitu hewan jantan dan betina melepaskan sel gametnya ke air laut, dan proses fertilisasi berlangsung secara eksternal (di dalam air laut).

Echinodermata merupakan hewan yang hidup secara bebas artinya habitat hewan ini dapat dimana saja, bisa di laut pantai sampai laut dalam. Makanan tergantung kepada jenisnya, contoh makannya adalah plankton, atau organime yang mati / membusuk.

Secara umum ciri-ciri Echinodermata adalah sebagai berikut:

  1. Mempunyai sistem ambulakral
  2. Memiliki sistem penceranaan yang sempurna kecuali bintang laut yang tidak memiliki anus.
  3. Tidak memiliki sistem ekskresi.
  4. Tubuh Echinoderamta terdiri dari 3 lapisan dan memiliki rongga tubuh atau disebut triploblastik selomata.
  5. Bentuk tubuh simetri bilateral pada saat masih menjadi larva, dan pada saat dewasa bentuk tubuhnya simetri radial.
  6. Kulit tubuh terdiri dari zat kitin.
  7. Perkembangbiakan terjadi secara seksual

Klasifikasi Echinodermata

Echinodermata dibagi menjadi  lima kelas yaitu Asteiodea, Ophiuroidea, Echinoidea, Holothuroidea, dan Crinoidea

1. Asteroidea

Asteroidea merupakan kelas dari Echinodermata yang tubuh terdiri dari cakram sentral dengan lima lengan dan membentuk segilima, sehingga disebut juga bintang laut. Tubuhnya dapat dibedakan sisi oral (sisi bawah) di mana terdapat mulut dan sisi aboral (sisi atas) di mana terdapat anus. Sisi aboral tertutup oleh duri-duri dan terdapat lubang madreporit.
Struktur Asteroidea
Struktur Asteroidea
Pada permukaan tubuhnya terdapat duri-duri pendek dan tumpul. Duri-duri ini berasal dari endoskeleton. Tubuh Asteroidea yang berbentuk bintang ini berpusat pada cakram pusat.
Contoh: Asterias forbesi, Linckia laevigata. Achantester sp., Linckia sp., dan Pentaceras sp.
Asterias forbesi
Asterias forbesi

Linckia laevigata
Linckia laevigata

Acanthaster ellisii
Acanthaster ellisii

2. Ophiuroidea

Ophiuroidea adalah kelas yang bentuknya menyerupai bintang laut, namun memiliki lengan yang lebih panjang dan lebih kurus dan cakram pusat tubuh yang lebih jelas. Apabila kakinya digerakkan maka pergerakannya menyerupai ular, oleh karena itu Kelas Ophiuroidea juga disebut Bintang Mengular.

Kaki tabungnya tidak memiliki penyedot dan juga bergerak dengan mencambukkan kakinya sehingga kaki ini lebih mudah patah. Ophiuroidea memiliki lengan yang lebih pipih dan fleksibel dibandingkan dengan classis Asteroidea.

Lengan Ophiuroidea apabila putus dapat tumbuh kembali karena memiliki daya regenerasi yang tinggi Kaki / lengan ini juga berfungsi untuk menangkap mangsanya kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Beberapa jenis pemakan cacing, moluska, suspensi atau bangkai. Hewan ini tidak memiliki anus dan biasanya hidup di sela bebatuan.

Contoh kelas ophiuroidea : Ophiopholis aculeata dan Ophiothrix flagilis
Ophiopholis aculeata
Ophiopholis aculeata
Ophiothrix flagilis
Ophiothrix flagilis

3. Echinoidea

Echinoidea adalah Echinodermata yang tubuhnya dipenuhi bagian berbentuk seperti duri. Duri dari Echinoidea terbentuk oleh zat kapur. Tubuh Echinoidea memiliki otot yang berfungsi untuk memutar duri tersebut sehingga dapat membuatnya bergerak. Mulut dari hewan ini mempunyai struktur mirip rahang yang membantu dalam memakan mangsa.

Pada umumnya, anggota Echinoidea memiliki bentuk tubuh seperti bola dan ada beberapa yang berbentuk pipih. Classis yang berbentuk bulat, pada bagian permukaan tubuhnya dipenuhi dengan duri-duri yang panjang.

Contoh: yaitu landak laut (Arbacia punctulata) dan bulu babi (Diadema setosum).
Arbacia punctulata
Arbacia punctulata
Diadema setosum
Diadema setosum
Echinarachnius parma
Echinarachnius parma

4. Holothuroidea

Holothuroidea memiliki tubuh lunak berbentuk seperti kantung memanjang. Dalam tubuhnya terdapat papan-papan berkapur. Mulut terdapat di ujung anterior yang dikelilingi oleh tentakel bercabang-cabang, adapun anus terdapat di ujung posterior. Jenis kelamin terpisah yang jantan dan betina, namun ada yang hermaprodit. Larva mentimun laut dapat berenang bebas.

Banyak di antara anggotanya yang berperan besar dalam ekosistem laut, terutama ekosistem litoral pantai berbatu, terumbu karang, perairan dangkal, dan palung laut. Spesies bintang laut Pisaster ochraceus misalnya, menjadi predator utama di ekosistem pantai berbatu di pesisir barat Amerika Utara, spesifiknya mengendalikan populasi tiram biru (Mytilus edulis)sehingga spesies yang lain dapat menghuni pantai tersebut dan bivalvia tersebut tidak mendominansi secara berlebihan.

Contoh lain adalah Acanthaster planci yang memakan polip karang di perairan Indo-Pasifik. Kendati sering dianggap desktruktif, ada beberapa teori yang mengatakan bahwa A. planci sebenarnya adalah predator yang penting untuk ekosistem terumbu karang, sehingga terjadi rekruitmen karang baru yang menggantikan koloni-koloni tua, juga mengurangi tekanan kompetisi antara satu spesies karang dengan yang lain.

Contoh: Holothuria scabra, Cucumaria sp., dan Bohadschia argus.
Holothuria scabra,
Holothuria scabra
Cucumaria piperata
Cucumaria piperata
Bohadschia argus
Bohadschia argus

5. Crinoidea

Crinoidea memiliki bentuk tubuh seperti tumbuhan, hidup melekat di suatu tempat, tapi ada juga yang dapat berpindah tempat. Tubuhnya memiliki semacam akar untuk melekatkan diri pada suatu tempat yang disebut cirri.

Mulutnya terdapat di ujung tubuh, dikelilingi lengan/tentakel. Pemakan plankton yang ditangkap dengan bantuan tentakelnya. Gonade terdapat di ujung lengannya. Hewan ini mengalami fertilisasi internal di mana zigot berkembang dalam tubuh.

Crinoidea disebut juga lili laut yang merupakan classis dari phylum Echinodermata ini memiliki morfologi seperti tumbuhan. Tubuh Crinoidea adalah simetri radial. Hewan Holothuroidea juga memiliki lengan berjumlah lima atau kelipatannya dan terdiri atas cabang-cabang kecil yang disebut pinula. Lili laut hidup pada kedalaman kurang lebih 100 m.

Contoh: Antedon sp (hidup bebas), Metacrinus rotundus (lili laut), Oxycomonthus benefn (bintang laut berbulu)

Antedon sp
Antedon sp
Metacrinus rotundus
Metacrinus rotundus

Baca juga materi terkait lainnya mengenai invertebrata

Cara Membuat Rumusan Masalah Yang Baik

A. Perumusan Masalah

1. Menetukan dan merumuskan masalah

Rumusan masalah merupakan suatu peryataan rinci, lengkap, dan jelas mengenai ruang lingkup permasalah yang akan diteliti. Masalah penelitian harus dirumuskan secara jelas dan lengkap agar dapat dicari jalan penyelesainnya dengan tepat. Perumusan masalah merupakan langkah untuk menyederhanakan masalah sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasannya, kedudukannya, dan alternatif untuk memecahkan masalah.
rumusan masalah
perumusan maslaah
Pembuatan rumusan masalah dilakukan dengan membuat pertanyaan-pertanyaan dari masalah yang diteliti. Sebuah pertanyaan dari rumusan masalah bisa berupa apakah, bagaimana, mengapa, dan dimana.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Batasan masalah: Pembatasan masalah sangat diperlukan agar sebuah penelitian yang dilakukan tidak melebar kemana-mana sehingga bsia berakibat penelitian tersebut menjadi tidak fokus.
  2. Pilihan permasalahan yang penting dan menarik untuk diteliti
  3. Pilih masalah yang dapat dipecahkan
Rumusan masalah yang baik hendaknya memenuhi beberapa persyaratan diantaranya adalah sebagai berikut
  1. Dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Kalimat Tanya yang sering digunakan untuk perumusan masalah adalah kata apakah. “ apakah ada hubungan antara pemberian pupuk urea yang berbeda-beda konsntrasinya terhadap pertumbuhan tanaman padi? “
  2. Mengisyaratkan variabel yang akan diteliti: variabel adalah faktor yang ikut menentukan perubahan. Contoh pada rumusan masalah tersebut memiliki variabel bebas: pemberian pupuk urea yang berbeda-beda konsentrasinya, sedangkan variabel terikatnya adalah pertumbuhan tanaman padi
  3. Dinyatakan secara ekplisit, singkat, dan jelas
  4. Keterangan dimensi subjek lebih spesifik lebih baik, contohnya jenis kelamin, kelompok umur, jenis spesies.
  5. Menunjukkan dimensi tempat, waktu, dan kecenderungan /trend
  6. Spesifikasi/keunikan masalah penelitian yang akan diteliti seperti difokuskan pada penelitian yang belum pernah dilakukan orang lain
Perumusan masalah bertujuan untuk memperjelas suatu permasalahan yang akan dipecahkan. Syarat masalah penelititian antara lain:
  1. Fisibel dari segi dana, waktu, alat, keahlian penelitian, dan subjek penelitian yang dibutuhkan
  2. Intersesting bagi peneliti
  3. Novel: menguatkan , membantah, melengkapi penelitian sebelumnya
  4. Etika penelitian tidak dilanggar
  5. Relevan bagi perkembangan ilmu pengetahuan

Sebuah peristiwa dapat dijadikan suatu permasalahan dalam suatu penelitian jika:

a. Untuk mencari tahu status atau untuk mendeskripsikan suatu kejadian alam
b. Untuk membandingka dua kejadian alam atau lebih
c. Untuk mencari tahu hubungan antara dua gejala alam yang terjadi

2. Cara mudah untuk memilih sebuah topik

Sumber suatu permasalah bisa berasal dari bahan bacaan, fenomena alam, kegiatan manusia, berasal dari penelitian lama, dan diskusi ilmiah. Topik permsalahan dapat diperoleh dengan dari pengamatan terhadap alam sekitar kita. Pengamatan dilakukan untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan dari objek atau peristiwa. Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat indra dinamakan dengan pengamatan kualitatif. Hasil pengamatan yang dilakukan dapat memberikan deskripsi yang lengkap tentang objek yang diamati.

Contoh pengamatan observasi disekitar lingkungan biotik adalah
a. Tanaman yang disiram secara teratur tumbuh dengan baik
b. Tanaman yang tidak disiram akan kering dan mati
c. Tanaman yang terlalu sering disiram pertumbuhannya tidak begitu baik

Penelitian yang baik adalah penelitian yang mampu memberikan suatu topik yang manarik baik bagi peneliti maupun pembaca dan kebermanfaatannya bai lingkungan.

Topik penelitian menurut Narbuko dan Achmadi(2002) yang perlu dikembangkan adalah:
a. Apakah topik tersebut dapat di kuasai
b. Apakah bahan-bahan atau data-data tersedia dengan cukup
c. Apakah topik tersebut penting untuk diteliti
d. Apakah topik tersebut menarik untuk di kajin

B. Merumuskan masalah yang ditemukan dengan jelas

Suatu masalah dapat dirumuskan dalam penelitian apabila masalah-masalah tersebut memiliki kriteria sebagai masalah penelitian yang baik.

Kriteria masalah dalam penelitian yang baik antara lain

  1. Mempunyai kontribusi teoritis dan praktis artinya hasil penelitian memberikan kontribusi dalam bidang profesi atau keilmuan
  2. Mempunyai derajat keunikan dan keaslian, menemukan keaslian permasalahan yang muncul merupakan hal yang sangat penting. Namun kadang diperlukan beberapapengulangan penelitian agar hasilnya lebih maksimal.
  3. Layak dilakukan, melaksanakan penelitian memerlukan waktu, biaya, sarana, dan prasarana. Penelitian ekpreimen ataupun deskriptif membutuhkan subjek penelitian untuk memperoleh data. Jika data pendukung awal kurang dan sangat sedikit maka penelitian tersebut lebih baik jangan dilakukan.

Pertimbangan atau pedoman yang perlu diperhatikan dalam pemilihan masalah antar lain:

1. Pilihan masalah yang paling menarik untuk diteliti.
2. Peneliti cukup memilih keahlian teknik untuk mengerjakan percobaan/penelitian tersebut
3. Pilih percobaan yang dapat dilakukan dengan keberadaan waktu yang tersedia bagi peneliti
4. Kegunaan dari apa yang diteliti parktis atau pengembangan teori
5. Layak diteliti, baik ditinjau dari segi finansial, waktu, dan pengetahuan
6. Percobaan hendaknya sesuai dengan tingkat kematangan dan pengetahuan peneliti
7. Usahakan sarana pendukung mudah diperole
8. Masalah yang diteliti tidak mengandung bahaya bagi peneliti

Secara umum masalah penelitian menurut NotoAtmodjo(2002) adalah suatu suatu kesenjangan antara yang seharusnya dengan apa yang terjaditentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta harapan dan kenyataan.

Perumusan masalah hendaknya memperhatikan beberapa petunjuk di bawah ini

  1. Rumusan masalah hendaknya mempertanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih
  2. Rumusan masalah hendaknya dinyatakan dengan jelas dan tidak menimbulkan penafsiran ganda
  3. Rumusan masalah hendaknya dapat dijawab secara empiris atau dengan pengamatan
  4. Rumusan masalah hendaknya memuat pertanyaan karakteristik variabel, gejala, atau objek yang diamati
  5. Rumusan masalah hendaknya memberikan gambaran bagaimana kemungkinan mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan tersebut.
----------------------------------------
Lembar Diskusi Siswa
----------------------------------------
Perhatikan gambar tanaman padi berikut ini. Silahkan berandai andai terhadap tanaman padi yang ada di gambar tersebut. Buatlah lima permasalahan yang bisa dimunculkan dari gambar tanaman padi di bawah ini, kemudian buatlah lima rumusan masalah yang bisa dimunculkan dari permasalahan tersebut.
Tanaman Padi
Siswa yang mampu memunculkan suatu permasalah dan rumusan masalah yang original dan memiliki kebermanfaatan bagi kehidupan manusia berhak mendapatkan nilai tambah yang lebih banyak.


Sikap Ilmiah dan Kerja ilmiah

C. Sikap Ilmiah

Seorang peneliti dalam melakukan penelitian selain harus menggunakan metode ilmiah, juga harus menggunakan sikap ilmiah dalam bekerja. Sikap ilmiah yang harus dimiliki seorang peneliti diantaranya adalah:

1. Rasa ingin tahu

Seorang peneliti harus memiliki sifat rasa ingin tahu yang sangat besar sebagai dasar jika ingin melakukan suatu penelitian. Apa, bagaimana, mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, yang pada akhirnya seorang peneliti dapat mengungkapkan fenomena yang terjadi melalui suatu penelitian sehingga mendapatkan suatu jawaban atau hasil yang memuaskan.
Ilustrasi sikap ilmiah

2. Jujur

Peneliti harus jujur dalam melakukan penelitian, data-data yang didapatkan harus sesuai dengan apa yang diteliti, tidak boleh melakukan manipulasi data. Sehingga hasil yang didapatkan dapat dipertanggungjawabkan

3. Tekun

Tidak mudah putus asa dalam melakukan penelitian. Kadang suatu penelitian harus diulang beberapa kali hingga mendapatkan hasil yang diharapkan, hal ini menyebabkan seorang peneliti harus memiliki sifat tekun dan pantang menyerah

4. Teliti

Bertindak berhati-hati dan tidak ceroboh, sehingga kesalahan kesalahan dalam penelitian dapat dihindari.

5. Objektif

Hasil dari penelitian tidak boleh dipengaruhi perasaan pribadi sehingga dapat menyebabkan data yang bersifar subjektif. Semua data yang diperoleh harus didasarkan pada fakta yang ditemukan dilapangan.

6. Terbuka

Peneliti harus memiliki sifat tebuka dengan mau menerima pendapat dari orang lain, sehingga diaharapakan penelitian yang dilakukan dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya

7. Toleran

Seorang ilmuwan harus bersedia menerima gagasan dari orang lain dan mau belajar serta membandingkan pendapatnya dari orang lain, dan tidak boleh memaksakan pendapat kepada orang lain.

8. Optimis

Seorang ilmuwan harus memiliki sifat optimis terhadapat penelitian yang sedang dilakukannya, tidak boleh memiliki sifat pesimis karena dapat menyebabkan peneiltian yang sedang dijalankan tidak akan berhasil karena dari awal sudah pesimis dengan penelitiannya.

9. Pemberani

Ilmuwan harus berani melawan semua ketidakbenaran, penipuan, dan kepura-puraan yang akan menghambat kemajuan.

10. Peduli lingkungan

Sikap peduli lingkungan juga harus dimiliki oleh ilmuawan agar lingkungan yang dijadikan tempat penelitian dan sekitarnya tidak mengalami kerusakan.

D. Kerja ilmiah

Ketrampilan kerja ilmiah harus dimiliki seorang peneliti antara lain adalah:

1. Kemampuan melakukan pengamatan(observasi)

Observasi dapat dilakukan dengan melalui pengamatan, pendenaran, perabaan, dan penciuman.


2. Kemampuan mengelompokkan objek-objek yang diteliti

Mengelompokkan atau mengklasifikasi meupakan kegiatan untuk memudahkan dalam mempelajari sesuatu. Setiap pengelompokkan memiliki dasar dan tujuan tertentu. Sebagai contoh:

  1. Pengelompokkan hewan berdasarkan cara perkembangbiakan, berdasarkan jenis makanan, atau bentuk kakinya
  2. Pengelompokkan daun berdasarkan ujung daun, ukuran daun, bentuk tulang daun

3. Kemampuan menafsirkan dan memprediksi

Menafsirkan adalah upaya untuk menjelaskan arti sesuatu yang kurang jelas dari hasil suatu pengamatan/observasi. Memperdiksi berarti meramalkan mengenai sesuatu yang akan terjadi berdasarkan hasil pengamatan.

4. Kemampuan mengidentifikasi variabel

Variabel adalah faktor-faktor yang berpengaruh yang memiliki nilai atau ukuran dan dapat berubah atau diubah. 3 jenis variabel:
a. Variabel bebas: variabel yang sengaja diubah atau dibuat bervariasi
b. Variabel terikat: variabel yang berubah sebagai akibat dari variabel bebas
c. Variabel kontrol: variabel yang tidak diberikan perlakuan ata dibuat sama

5. Kemampuan dalam mengajukan pertanyaan

Pertanyaan merupakan kalimat interogatif yang membutuhkan jawaban. Sedangkan bertanya merupakan kegiatan meminta jawaban atau penjelasan suatu pertanyaan. Mengajukan pertanyaan dapat membantu dalam kerja ilmiah yaitu pada saat melakukan perumusan masalah. Pertanyaan dalam kegiatan ilmiah dibagi menjadi empat macam pertanyaan yang perlu dikembangkan oleh peneliti, diantaranya:
1. Pertanyaan untuk mengungkap fakta
2. Pertanyaan tentang prosedur
3. Pertanyaan tentang penggunaaan alat dan bahan
4. Pertanyaan untuk merancang kegiatan
6. Kemampuan dalam merencanakan percobaan

Kemampuan merencanakan percobaan sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pelaksanaan penelitian. Perencaan penelitian meliputi tujuan penelitian, variabel yang akan dilibatkan, langkah kerja, dan cara menganalisis data.

7. Kemampuan mengkomunikasikan hasil penelitian

Seorang peneliti harus bisa mengkomunikasikan hasil penelitian yang telah dilakukannya. Komunikasi hasil penelitian bisa dalam bentuk grafik, lisan, tulisan, gambar, dan diagram. Komunikasi yang paling penting adalah ketika melakukan publikasi ilmiah terhadap penelitiannya dalam bentuk laporan ilmiah, jurnal ilmiah, dan seminar ilmiah.

E. Kegunaan metode ilmiah

Metode ilmiah sangat penting untuk memajukan ilmu pengetahuan, karena setiap ilmu pengetahuan yang didapatkan terjadi melalui proses proes ilmiah menggunakan metode ilmiah. Tujuan dilakukan penelitian adalah untuk mencari jawaban dari suatu permasalahan atau memecahkan suatu masalah yang sedang dihadapi.

Beberapa kegunaan metode ilmiah diantaranya:
1. Membantu pemecahan masalah dengan penalaran dan pembuktian yang memuaskan
2. Menguji ulang hasil penelitian orang lain sehingga diperoleh kebenaran yang objektif
3. Memecahkan atau menentukan jawaban dari rahasia alam yang sebelumnya masih menjadi teka teki.

Belum lengkap jika belum belajar ini:


Langkah-Langkah Metode Ilmiah

B. Langkah langkah metode ilmiah

1. Observasi

Observasi merupakan kemampuan mendeskripsikan(menguraikan ciri-ciri) suatu objek beserta perubahannya atas fakta-fakta yang diperoleh. Observasi merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki seseorang dalam penyelidikan ilmiah. Dengan observasi maka semua informasi yang ada pada suatu gejala alam dapat diperoleh untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dimilikinya.
metode ilmiah
Scientific method

Secara umum observasi dapat dibagi menjadi dua:

a. Observasi kualitatif

Observasi kualitatif adalah jenis observasi yang dilakukan secara langsung menggunakan alat-alat indra seperti warna, gerak, bentuk, suara, bungi rasa, perabaan permukaan objek, dan indra penciuman.

b. Observasi kuantitatif

Observasi kuantitatif merupakan observasi tidak langsung yang menggunakan alat bantu seperti penggaris, neraca, thermometer, kertas lakmus, dan timbangan. Hasil dari observasi kuantitaif berupa angka dan tidak subjektif.

Menurut pelaksanaan, obsorvasi dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu
a. Observasi partisipasi: observasi dimana peneliti ikut berpartisipasi pada aktifitas yang sedang diamati.
Observasi partisipasi dibagi menjadi dua yaitu
    1. Partisipasi sebagian: dimana observer tidak melibatkan diri sepenuhnya. Hanya pada saat tertentu saja pada saat pengambilan data dianggap perlu
    2. Partisipasi penuh: observer melibatkan diri sepnuhnya ke dalam objek pengamatan atau penelitiannya

b. Observasi non partisipasi: observer tidak meibatkan diri ke dalam objek. Observer mendapatkan gambaran tentang objek yang sedang ditelitinya melalui pengamatan tidak langsung

Beberapa syarat yang perlu dipahami dalam menggunakan metode observasi
  1. Observasi merupakan cara untuk mengumpulkan data oleh karena itu perlu dilakukan dengan cermat, jujur dan objektif, serta terfokus pada data yang relevan
  2. Dalam menentukan variabel harus mengingat bahwa semakin banyak objek yang diamati semakin sulit proses pengamatan dan hasilnya juga akan semakin rumit namun akan menghasilkan data yang sangat kompleks
  3. Sistem dan prosedur yang dilakukan dalam pengamatan harus bedasarkan panduan yang tersedia.
  4. Agar pelaksanaan observasi lancar maka harus dibuat catatan catatan terhadap data yang dikumpulkan.

Pencatatan hasil observasi dilakukan dengan mengisi formulir dengan maksud:
  1. Mencatat segala kejadian, proses social, atau gejala yang muncul yang didapatkan di lapangan
  2. Memudahkan penelitian dalam merekam kejadian proses yang terjadi
  3. Dapat diformulasikan kembali sehingga dapat menggambarkan suatu keadaan
Pencatatan observasi akan lebih mudah jika dibantu dengan video, perekam suara, atau kamera sehingga dapat terdokumentasikan dengan baik sehingga memudahkan dalam membuat gambar, grafik, tabel, ataupun diagram

2. Menentukan dan merumuskan masalah

Perumusan masalah dilakukan setelah melakukan observasi. Perumusan masalah digunakan untuk membatasi objek penelitian yang akan dilaksanakan. Rumusan masalah berisi kalimat yang mempertanyakan hubungan dua variabel atau lebih. Sehingga rumusan masalah berupa kalimat tanya.

3. Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah-masalah yang sudah dirumuskan. Hipotesis merupakan dugaan tentang pengaruh apa yang akan diberikan oleh variabel manipulasi terhadap respon. Hipotesis dirumuskan dengan kalimat pernyataan.

4. Merancang eksperimen

Eksperimen adalah percobaan yang harus dilakukan untuk menguji hipoteis yang sudah dibuat. Dalam perancang penelitian harus dijabarkan mengenai metode yang digunakan, alat dan bahan, teknik analisis data yang digunakan.

5. Pelaksanaan eksperimen

Pelaksanaan eksperimen dapat berjalan dengan baik jika perancangan eksperimen sudah dilakukan dengan baik pula. Pelaksanaan penelitian adalah proses peneilitian yang menghasilkan data-data eksperimen yang dianalisis untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang sudah dirumuskan.

6. Pelaporan penelitian

Setelah dilakukan penelitian maka akan dirumuskan suatu kesimpulan yang akan menjadi konsep teori. Secara keseluruhan pelaporan penelitian berisi tentang rumusan masalah hingga hasil akhir dari seluruh proses penelitian. Mengkomunikasikan hasil penelitian dapat dilakukan secara tertulis dan lisan dalam bentuk penyampaian data-data, analisis hasil penelitian, dan kesimpulan yang didapatkan.

Contoh metode ilmiah

No
Metode ilmiah
Penerapan
1
Observasi
Anda melihat bahwa tumbuhan mangrove dapat bertahan hidup pada kondisi air asin, dan tanah yang berlumpur
2
Perumusan masalah
Apakah yang menyebabkan tumbuhan mangrove dapat bertahan hidup pada kondisi air asin?
3
Penyusun kerangka berfikir
Membaca teori mengenai tumbuhan mangrove, berbagai jenis tanah, dan struktur tumbuhan mangrove, serta fisiologis tumbuhan mangrove
4
Penarikan hipotesis
Tumbuhan mangrove dapat bertahan hidup pada kondisi air asin dikarenakan adanya struktur daun yang yang mampu mengeluarkan garam dari tubuhnya
5
Eksperimen/pengujian hipotesis
Melakukan eksperimen dengan cara mengambil daun mangrove untuk kemudian di lakukan pengamatan dibawah mikroskop untuk mengetahui benar tidaknya bahwa tumbuhan mangrove memiliki struktur daun yang mampu mengeluarkan garam dari tubuhnya dengan melakukan sayatan melintang dan juga sejajar pada daun. Hasil menunjukkan bahwa tumbuhan mangrove ternyata memiliki struktur yang berbeda dengan tumbuhan pada umumny dimana tumbuhan mangrove memiliki suatu kelejar di daunnya yang mampu mengeluarkan garam berlebih dari tubuh tumbuhan mangrove
6
Penarikan kesimpulan
Tumbuhan mangrove dapat bertahan hidup dikarenakan memiliki struktur daun yang berupa kelenjar yang dapat mengeluarkan kadar garam berlebih dari dalam tubuhnya.

Tugas Kelompok: Buatlah contoh sederhana mengenai metode ilmiah seperti diatas dari mulai observasi sampai penarikan kesimpulan

Cara Membuat Kriteria Metode Ilmiah

A. Kriteria Metode ilmiah

Metode ilmiah merupakan cara mencari pemecahan masalah dengan menggunakan langkah-langkah sistematis dan objektif. Metode ilmiah merupakan prosedur yang encakup berbagai pikiran, eksperimen, tata langkah, dan cara praktis untuk memperoleh pengetahuan baru atau pengembangan pengetahuan yang ada.

 Metode ilmiah adalah suatu proses berfikir untuk mendapatkan cara penyelesaian yang mungkin terhadap suatu masalah. Jadi metode ilmiah digunakan sebagai pengetahuan dasar untuk penyelidikan ilmiah. Secara umum metode ilmiah terdiri dari empat tahap pengerjaan yaitu observasi, hipotesis, eksperimen, dan kesimpulan
metode ilmiah
Metode ilmiah digunakan untuk untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dimana ilmu pengetahuan memiliki sifat sifat, antara lain:

1. Logis atau masuk akal

Sesuai dengan logika atau aturan berfikir yang sudah ditetapkan dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Setiap ilmu pengetahuan harus sesuai dengan fakta yang di dapatkan dari pengamatan, penalaran dan penelitian yang dilakukan

2. Objektif

Ilmu pengetahuan harus berkenaan dengan sikap yang baik, tidak tergantung pada suasana hati, prasangka atau pertimbangan nilai pribadi. Objektif berarti mengandung arti bahwa kebenaran didapatkan dari pengamatan dan penalaran fenomena secara terbuka tanpa didasarkan pada nilai subjektif peneliti

3. Sistematis

Sistematis berarti harus ada konsistensi dan keteraturan internal. Kebenaran ilmu pengetahuan dicerminkan dari adanya keteraturan yang di dapatkan dari teori, hukum, prinsip, dan metodenya. Keteraturan yang ada suatu saat bisa berubah jika ditemukan penemuan-penemuan yang baru yang dapat meruntuhkan penemuan-penemuan sebelumnya.

4. Andal

Andal berarti dapat diuji kembali secara terbuka menurut persayaratan yang ditentukan dengan hasil yang yang dapat diandalkan. Ilmu pengetahuan bersifat umum, terbuka, dan universal

5. Dirancang

Ilmu pengetahuan yang ada saat ini tidak berkembang dengan sendirinya namun dikembangkan menurut suatu rancangan yang menerapkan metode ilmiah.

6. Akumulatif

Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan fakta, teori, hukum, yang terkumpul sedikit demi sedikit. Jika ada kesalahan maka dapat diganti dengan yang benar. Dimana kebenaran ilmu bersifat relative dan temporal, tidak pernah mutlak dan final sehingga ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan terbuka.
Suatu metode disebut ilmiah jika memiliki sistem, bermetode, berobjektifitas, dan berlaku umum(universal).

Beberapa karakterisktik atau kriteria metode ilmiah diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan fakta

Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian baik yang akan dikumpukan dan yang dianalisis harus berdasarkan fakta-fakta yang nyata dan bukan merupakan penemuan atau pembuktian didasarkan pada daya khayal, kira-kira, legenda, atau kegiatan sejenisnya

2. Bebas dari prasangka

Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas dari prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif dari peneilitinya

3. Menggunakan prinsip analisis

Dalam memahami serta memberi arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis. Semua data dan fakta yang ditemukan harus dilakukan analisis yang tajam dengan di cari sebab akibatnya

4. Menggunakan hipotesis

Peneliti harus dituntun dalam proses berfikir dengan menggunakan analisa. Hipotesis harus ada untuk menguatkan persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah yang tujuan yang ingin dicapai sehingga dapat mengenai sasaran yang dengan tepat

5. Menggunakan ukuran objektif

Dalam penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif . Ukuran yang digunakan tidak boleh dengan cara merasa-rasa atau menurut hati nurani. Semua yang dilakukan untuk menentukan suatu nilai ukuran haruslah dilakukan dengan cara benar-benar mengukur secara objektif.

6. Menggunakan teknik kuantifikasi

Setiap data yang didapatkan memiliki ukuran kuantitatif yang lazim digunakan, kecuali untuk beberapa data yang tidak dapat dikuantitatifkan. Ukuran kuantitatif misalnya dalah mm, per detik, ohm, kilogram, liter, dll. Kuantifikasi dalam penelitian yang paling mudah adalah dengan menggunakan ukuran nomina, ranking, dan rating.


Belum lengkap jika belum belajar ini:


Mengenai Saya