Mekanisme Sistem Konduksi, Kontraksi, Suara, dan Fase Kontraksi Jantung

1. Sistem Konduksi Jantung

Jantung mempunyai sistem saraf tersendiri yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot jantung yang disebut sistem konduksi jantung. Saraf pusat melalui sistem saraf autonom hanya mempengaruhi irama kontraksi jantung. Saraf simpatis memacu terjadinya kontraksi sedangkan saraf parasimpatis menghambat kontraksi. Sistem kontraksi jantung terdiri atas :
  • Nodus Sinoatri Alkularis (NSA) terletak pada atrium kanan dan dikenal sebagai peacemaker karena impuls untuk kontraksi dihasilkan oleh nodus ini.
  • Nodus Atrioventrikularis (NAV) terletak antara atrium dan ventrikel kanan berperan sebagai gerbang impuls ke ventrikel.
  • Bundle His adalah serabut saraf yang meninggalkan NAV.
  • Serabut Bundle Kanan dan Kiri adalah serabut saraf yang menyebar ke ventrikel terdapat pada septum interventrikularis.
  • Serabut Purkinje adalah serabut saraf yang terdapat pada otot jantung.
 

2. Kontraksi Dan Irama Jantung

Kontraksi jantung disebut disebut systole sedangkan relaksasi jantung atau pengisian darah pada jantung disebut diastole. Irama jantung dimulai dari pacemaker (NSA) dengan impuls 60-80 kali/menit. Semua bagian jantung dapat memancarkan impuls tersendiri tetapi dengan frekuensi yang lebih rendah.

Bagian jantung yang memancarkan impuls diluar NSA disebut focus ektopik yang menimbulkan perubahan irama jantung yang disebut aritmia. Aritmia dapat disebabkan oleh hipoksia, ketidakseimbangan elektrolit, kafein, nikotin karena hal tersebut dapat menyebabkan fokus ektopik kontraksi diluar kontraksi dari nodus NSA.

Jika terjadi hambatan aliran impuls dari NSA menuju NAV maka impuls saraf akan timbul dari nodus NAV dengan frekuensi yang lebih rendah yaitu sekitar 40-50 kali/menit. Jika ada hambatan pada bundle his atau serabut bundle kanan dan kiri maka otot jantung akan kontraksi dengan iramanya sendiri yaitu 20-30 kali/menit. Denyut jantung 20-30 kali/menit tidak dapat mempertahankan metabolisme otot. (Baca Juga Mekanisme Kontraksi Otot Jantung)

3. Suara Jantung

Suara jantung terjadi akibat proses kontraksi jantung.
  1. Suara jantung 1 (S1) timbul akibat penutupan katup mitral dan trikuspidalis
  2. Suara jantung 2 (S2) timbul akibat penutupan katup semilunaris aorta dan semilunaris pulmonal.
  3. Suara jantung 3 (S3) terjadi akibat pengisian ventrikel pada fase diastole.
  4. Suara jantung 4 (S4) terjadi akibat kontraksi atrium.
  5. Suara jantung 3 dan 4 terdengar pada jantung anak.

4. Fase Kontraksi Jantung

Pada fase pengisian ventikel dan kontraksi atrium katup mitral dan trikuspidalis terbuka darah akan mengalir dari atrium menuju ventrikel. Pada fase kontraksi ventrikel isometric ventrikel mulai kontraksi dan atrium relaksasi, katup mitral dan trikuspidalis tertutup dan katup semilunar aorta dan pulmonal belum terbuka.

Pada fase ejeksi ventikuler, katup semilunar aorta dan semilunar aorta dan semilunar pulmonal terbuka sehingga darah mengalir dari ventrikel menuju aorta dan arteri pulmonalis. Pada fase relaksasi isovolumentrik terjadi relaksasi ventrikel dan katup semilunar aorta dan pulmonal menutup sedangkan katup mitral dan katup trikuspidalis belum terbuka. (Baca Juga Mekanisme Kontraksi Otot Jantung)

5. Cardiac Output

Cardiac Output adalah volume darah yang dipompa oleh tiap ventrikel per menit. Hal ini disebabkan oleh kontraksi otot myocardium yang berirama dan sinkron, sehingga darahpun dipompa masuk ke dalam sirkulasi pulmonary dan sistemik.

Besar cardiac output ini berubah-ubah, tergantung kebutuhan jaringan perifer akan oksigen dan nutrisi. Karena curah jantung yang dibutuhkan juga tergantung dari besar serta ukuran tubuh, maka diperlukan suatu indikator fungsi jantung yang lebih akurat, yaitu yang dikenal dengan sebutan Cardiac Index.

Mekanisme Sistem Konduksi, Kontraksi, Suara, dan Fase Kontraksi Jantung
Mekanisme Sistem Konduksi, Kontraksi, Suara, dan Fase Kontraksi Jantung
Cardiac index ini didapatkan dengan membagi cardiac output dengan luas permukaan tubuh, dan berkisar antara 2,8-3,6 liter/menit/m2 permukaan tubuh.

Stroke Volume adalah volume darah yang dikeluarkan oleh ventrikel/detik. Sekitar dua per tiga dari volume darah dalam ventrikel pada akhir diastole (volume akhir diastolic) dikeluarkan selama sistolik.

Jumlah darah yang dikeluarkan tersebut dikenal dengan sebutan Fraksi Ejeksi; sedangkan volume darah yang tersisa di dalam ventrikel pada akhir sistolik disebut Volume Akhir Sistolik. Penekanan fungsi ventrikel, menghambat kemampuan ventrikel untuk mengosongkan diri, dan dengan demikian mengurangi stroke volume dan fraksi ejeksi, dengan akibat peningkatan volume sisa pada ventrikel.

Cardiac output (CO) tergantung dari hubungan yang terdapat antara dua buah variable, yaitu: frekuensi jantung dan stroke volume. CO = Frekuensi Jantung x Stroke Volume. Cardiac output dapat dipertahankan dalam keadaan cukup stabil meskipun ada pada salah satu variable, yaitu dengan melakukan penyesuaian pada variable yang lain.

Apabila denyut jantung semakin lambat, maka periode relaksasi dari ventrikel diantara denyut jantung menjadi lebih lama, dengan demikian meningkatkan waktu pengisian ventrikel. Dengan sendirinya, volume ventrikel lebih besar dan darah yang dapat dikeluarkan per denyut menjadi lebih banyak. Sebaliknya, kalau stroke volume menurun, maka curah jantung dapat distabilkan dengan meningkatkan kecepatan denyut jantung.

Tentu saja penyesuaian kompensasi ini hanya dapat mempertahankan curah jantung dalam batas-batas tertentu. Perubahan dan stabilisasi curah jantung tergantung dari mekanisem yang mengatur kecepatan denyut jantung dan stroke volume.

Sistem Peredaran Darah Kecil dan Sistem Peredaran Darah Besar

Terdapat dua mekanisme peredaran darah pada manusia yaitu sistem peredaran darah besar dan sistem peredaran darah kecil.

1. Sistem Peredaran Darah Besar (Sistemik)

Peredaran darah besar dan kecil
Peredaran darah besar dan kecil
Peredaran darah besar dimulai dari darah keluar dari jantung melalui aorta menuju ke seluruh tubuh (organ bagian atas dan organ bagian bawah). Melalui arteri darah yang kaya akan oksigen menuju ke sistem-sistem organ, maka disebut sebagai sistem peredaran sistemik.

Dari sistem organ vena membawa darah kotor menuju ke jantung. Vena yang berasal dari sistem organ di atas jantung akan masuk ke bilik kanan melalui vena cava inferior, sementara vena yang berasal dari sistem organ di bawah jantung dibawa oleh vena cava posterior.

Darah kotor dari bilik kanan akan dialirkan ke serambi kanan, selanjutnya akan dipompa ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Arteri pulmonalis merupakan satu keunikan dalam sistem peredaran darah manusia karena merupakan satu-satunya arteri yang membawa darah kotor (darah yang mengandung CO2).

Urutan perjalanan peredaran darah besar : bilik kiri – aorta – pembuluh nadi – pembuluh kapiler – vena cava superior dan vena cava inferior – serambi kanan.

Berikut ini adalah ciri – ciri sistem sirkulasi sistemik :

  1. Mengalirkan darah ke berbagai organ tubuh.
  2. Memenuhi kebutuhan organ yang berbeda.
  3. Memerlukan tekanan permulaan yang besar.
  4. Banyak mengalami tahanan.
  5. Kolom hidrostatik panjang.

2. Sistem Peredaran Darah Kecil (Pulmonal)

Peredaran darah kecil dimulai dari dari darah kotor yang dibawa arteri pulmonalis dari serambi kanan menuju ke paru-paru. Dalam paru-paru tepatnya pada alveolus terjadi pertukaran gas antara O2 dan CO2.

Gas O2 masuk melalui sistem respirasi dan CO2 akan dibuang ke luar tubuh. O2 yang masuk akan diikat oleh darah (dalam bentuk HbO) terjadi di dalam alveolus. Selanjutnya darah bersih ini akan keluar dari paru-paru melalui vena pulmonalis menuju ke jantung (bagian bilik kiri).

Vena pulmonalis merupakan keunikan yang kedua dalam system peredaran darah manusia, karena merupakan satu-satunya vena yang membawa darah bersih.

Urutan perjalanan peredaran darah kecil : bilik kanan jantung – arteri pulmonalis – paru-paru – vena pulmonalis – serambi kiri jantung.
peredaran darah kecil

Berikut ini adalah ciri –ciri dari sistem sirkulasi pulmonal :

  • Hanya mengalirkan darah ke paru
  • Hanya berfungsi untuk paru-paru
  • Mempunyai tekanan permulaan yang rendah
  • Hanya sedikit mengalami tahanan
  • Kolom hidrostatiknya pendek
Sistem peredaran besar ataupun kecil tidak dapat berjalan sendiri tanpa ada yang menggerakkan. Organ penting dalam pergerakan sistem sirkulasi adalah jantung. Jantung tersusun oleh otot – otot jantung yang terletak di lapisan miokardium.

Otot jantung mirip dengan otot skelet yaitu mempunyai serat otot. Perbedaannya otot jantung tidak dipengaruhi oleh saraf somatik, otot jantung bersifat involunter. Kontraksi otot jantung dipengaruhi oleh adanya peacemaker pada jantung.

Kontraksi pada otot jantung juga dipengaruhi oleh metabolisme otot jantung. Metabolisme otot jantung tergantung sepenuhnya pada metabolisme aerobik. Otot jantung sangat banyak mengandung mioglobin yang dapat mengikat oksigen. Karena metabolisme sepenuhnya adalah aerob, otot jantung tidak pernah mengalami kelelahan. Pembahasan lebih rinci mengenai otot jantung dapat dilihat pada materi mekanisme kontraksi otot jantung dan materi mengenal jenis-jenis otot


Jenis-Jenis Pembuluh Darah dan Komponen Penyusun Darah

Pembuluh Darah

Berfungsi untuk mengalirkan darah menuju ke jaringan dan sebaliknya. Pada vertebrata, sistem pembuluh darah terdiri atas tiga jenis, yaitu arteri, kapiler dan vena. Arteri dan vena tersusun atas tiga lapisan jaringan melingkar, membentuk saluran/ lumen di bagian tengahnya.

Ketiga lapisan jaringan tersebut berturut – turut dari arah dalam ke luar adalah tunika intima (endotelium), tunika media dan tunika adventitia. Pembuluh kapiler hanya tersusun atas tunika intima.

1. Arteri

Berfungsi untuk mengangkut darah yang keluar jantung. Darah dalam arteri mengeluarkan tekanan yang cukup besar terhadap dinding pembuluh. Untuk menahan tekanan tersebut, arteri harus mempunyai dinding yang cukup tebal dan kuat.

anatomi struktur pembuluh darah
anatomi struktur pembuluh darah
Kekuatan tekanan darah tersebut sebenarnya berasal dari kekuatan yang dihasilkan oleh jantung saat berkontraksi. Dengan demikian, keberadaan serabut elastis pada dinding arteri sangat penting untuk memastikan aliran darah yang konstan ke kapiler.
Tekanan pada arteri ketika jantung berkontraksi dan berelaksasi disebut tekanan sistolik dan tekanan diastolik.

2. Kapiler

Merupakan pembuluh darah terkecil dalam sistem sirkulasi. Kapiler merupakan tempat terjadinya pertukaran gas serta berbagai zat lainnya anatara pembuluh darah dan sel jaringan.

Fungsi embuluh kapiler sebagai tempat pertukaran zat didukung oleh struktur pembuluh tersebut, yakni sangat tipis dan hanya tersusun atas satu lapis sel endotelial, serta total luas permukaannya yang sangat besar.

3. Vena

Vena merupakan pembuluh darah yang berfungsi untuk membawa darah dari jaringan kembali ke jantung. Venula adalah pembuluh vena paling kecil dan berhubungan langsung dengan kapiler.

Tekanan dalam venula jauh lebih rendah daripada tekanan dalam arteri, dan dinding pembuluh venapun lebih tipis daripada dinding pembuluh arteri. Sebagian besar vena dilengkapi dengan banyak klep, yang berguna untuk mencegah aliran darah kembali ke arah jaringan dan menjamin kelancaran aliran darah menuju jantung.

Berikut ini adalah perbedaan pembuluh darah arteri dan vena.

Komponen Penyusun Darah

Berfungsi mengangkut O2 dan CO2, zat-zat makanan dan sebaganya ke jaringan dan sebaliknya.
Darah tersusun atas plasma darah dan sel darah. Sel darah mencakup eritrosit, leukosit dan trombosit. Plasma darah mengandung sekitar 90% air dan berbagai zat terlarut/ tersuspensi di dalamnya. Zat tersuspensi tersebut mencakup beberapa jenis bahan berikut :

1. Protein plasma

Merupakan bahan yang penting untuk menentukan besarya tekanan osmotik dalam plasma. Kekuatan osmotik juga penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh pada hewan invertebrata, yang mempunyai sistem sirkulasi terbuka.

Pada hewan vertebrata tingkat tinggi, protein plasma dibedakan menjadi tiga yaitu : fibrinogen yang bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah, albumin yang bertanggung jawab mempertahankan volume plasma dan globulin yang betanggung jawab dalam berbagai fungsi, terutama yang berkaitan dengan reaksi kekebalan dan tarnspor molekul tertentu seperti hormon, vitamin dan zat besi.
  • Sari makanan, yaitu glukosa, monosakarida, asam amino dan lipid.
  • Bahan untuk dibuang dari tubuh, antar lain urea dan senyawa nitrogen.
  • Berbagai ion, misalnya natrium, kalium, klor, fosfat, kalsium, sulfat dan senyawa bikarbonat.
  • Bahan lain yang biasanya terdapat dalam darah, misalnya hormon, gas respiratori, vitamin dan enzim.

2. Sel Darah

A. Sel darah merah (eritrosit) berbentuk seperti cakram, tak berinti, ukuran ±7ยต, mengandung pigmen hemoglobin, pada pria jumlahnya ±5 juta per mm3, pada wanita ±4,5 juta er mm3.
Sel darah merah/eritrosit
Sel darah merah/eritrosit

B. Sel darah putih (leukosit), jumlah pada manusia normalnya berkisar antara 5.000 – 8.000 per mm3, terbagi menjadi dua golongan, yaitu :
  • Agranuler, terdiri dari limfosit (ukurannya kecil, mempunyai kromatin padat) dan monosit (ukurannya lebih besar dan kromatinnya tidak begitu padat).
  • Granuler, sitoplasmanya mengandung butir – butir granula, yang mudah menyerap zat warna. Macamnya adalah eosinofil (granulanya menyukai warna eosin), basofil (granulanya menyukai zat warna basa) dan eosinofil (bersifat netral dengan inti polimorf).

Neutrofil

Neutrofil adalah kelompok terbesar dari sel darah putih, membuat sekitar 45 sampai 75 persen dari jumlah darah putih. Neutrofil adalah fagosit, pemain utama dalam memerangi infeksi bakteri dan virus. Penurunan neutrofil di bawah 1.000 sel per mikroliter meningkatkan risiko pengembangan infeksi.

Neutrofil adalah “responden pertama” dalam peradangan: yang pertama di tempat kejadian untuk menghancurkan bakteri dan virus. Neutrofil memiliki jangka hidup yang pendek, hanya sekitar 10 jam. Neutrofil belum matang, yang disebut band, banyak di infeksi yang aktif. Penurunan neutrofil dikenal sebagai neutropenia, penyebab neutropenia termasuk pengobatan kemoterapi, infeksi bakteri dan virus, dan reaksi alergi.

Limfosit

Limfosit terdiri dari kelompok terbesar kedua dari sel-sel darah putih, 20 sampai 40 persen dari sel-sel darah putih adalah limfosit, menurut Merck. Ada tiga jenis limfosit: sel T, sel B dan sel-sel pembunuh alami. Sel B membuat antibodi yang menyerang antigen asing.

Sel T dan sel-sel pembunuh alami menyerang sel-sel asing dan juga membuat racun yang merusak penyerang. Peningkatan limfosit biasanya menunjukkan infeksi virus atau beberapa jenis infeksi bakteri. Sejumlah penurunan sel T ditemukan dalam infeksi, sel-sel tumor dan virus HIV. Limfosit yang meningkat menandakan infeksi dan penyakit seperti mononukleosis, menurut University of Nebraska at Omaha states.

Monosit

Monosit membuat 1 sampai 10 persen dari sel-sel darah putih. Monosit bergerak keluar dari aliran darah dan ke dalam jaringan, di mana mereka berubah menjadi makrofag, sel pemulung besar yang menghancurkan sel-sel asing, mengangkat jaringan mati dan membunuh sel kanker. Monosit akan meningkat saat infeksi kronis dan penyakit autoimun, kemoterapi dapat menyebabkan penurunan tingkat monosit.

Eosinofil

Eosinofil membentuk sekitar 7 persen dari sel-sel darah putih dan memulai reaksi alergi terhadap alergen. Sebuah jumlah yang meningkat dari eosinofil paling sering menunjukkan respon reaksi alergi, University of Nebraska at Omaha states, stres yang ekstrim atau invasi parasit juga dapat menyebabkan peningkatan eosinofil.

Basofil

Basofil mewakili kurang dari 3 persen dari sel-sel darah putih. Basofil berperan dalam reaksi alergi dengan melepaskan histamin, yang menyebabkan pembuluh darah membesar. Basofil juga membantu dalam memperbaiki luka dengan melepaskan heparin, yang menunda pembekuan darah sehingga lebih banyak sel dapat mencapai lokasi luka.
Leukosit
Leukosit

C. Trombosit (keping – keing darah), berfungsi dalam pembekuan darah, strukturnya berupa keping – keping kecil.
skema pembekuan darah
skema pembekuan darah

Pembagian Katup Jntung dan Lapisan-Lapisan Jantung

1. Katup-katup Jantung

Katup jantung berfungsi mempertahankan aliran darah searah melalui bilik-bilik jantung. Setiap katup berespon terhadap perubahan tekanan. Katup-katup terletak sedemikian rupa, sehingga mereka membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan tekanan, serupa dengan pintu satu arah. Katup jantung dibagi dalam dua jenis, yaitu katup atrioventrikuler, dan katup semilunar.

a) Katup Atrioventrikuler

Letaknya antara atrium dan ventrikel, maka disebut katup atrioventrikuler. Katup yang terletak di antara atrium kanan dan ventrikel kanan mempunyai tiga buah katup disebut katup trikuspid.
Terdiri dari tiga otot yang tidak sama, yaitu:
1) Anterior, yang merupakan paling tebal, dan melekat dari daerah Infundibuler ke arah kaudal menuju infero-lateral dinding ventrikel Dekster.


2) Septal, melekat pada kedua bagian septum muskuler maupun membraneus. Sering menutupi VSD kecil tipe alur keluar.

3) Posterior, yang merupalan paling kecil, Melekat pada cincin tricuspidalis pada sisi postero-inferior.

Sedangkan katup yang letaknya di antara atrium kiri dan ventrikel kiri mempunyai dua daun katup disebut katup mitral/ katup bikuspid. Terdiri dari dua bagian, yaitu daun katup mitral anterior dan posterior. Daun katup anterior lebih lebar dan mudah bergerak, melekat seperti tirai dari basal bentrikel Sinister dan meluas secara diagonal sehingga membagi ruang aliran menjadi alur masuk dan alur keluar.

b) Katup Semilunar

Disebut semilunar (“bulan separuh”) karena terdiri dari tiga daun katup, yang masing-masing mirip dengan kantung mirip bulan separuh. Katup semilunar memisahkan ventrikel dengan arteri yang berhubungan.

Katup pulmonal terletak pada arteri pulmonalis, memisahkan pembuluh ini dari ventrikel kanan. Katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta. Adanya katup semilunar ini memungkinkan darah mengalir dari masing-masing ventrikel ke arteri pulmonalis atau aorta selama systole ventrikel, dan mencegah aliran balik waktu diastole ventrikel .
pembagian katup jantung
pembagian katup jantung

2. Lapisan Jantung

Dinding jantung terutama terdiri dari serat-serat otot jantung yang tersusun secara spiral dan saling berhubungan melalui diskus interkalatus. Dinding jantung terdiri dari tiga lapisan berbeda, yaitu:

a) Perikardium (Epikardium)

Epi berarti “di atas”, cardia berarti “jantung”, yang mana bagian ini adalah suatu membran tipis di bagian luar yang membungkis jantung.
Terdiri dari dua lapisan, yaitu
1. Perikardium fibrosum (viseral), merupakan bagian kantong yang membatasi pergerakan jantung terikat di bawah sentrum tendinium diafragma, bersatu dengan pembuluh darah besar merekat pada sternum melalui ligamentum sternoperikardial.

2. Perikardium serosum (parietal), dibagi menjadi dua bagian, yaitu Perikardium parietalis membatasi perikarduim fibrosum sering disebut epikardium, dan Perikarduim fiseral yang mengandung sedikit cairan yang berfungsi sebagai pelumas untuk mempermudah pergerakan jantung.

b) Miokardium

Myo berarti “otot”, merupakan lapisan tengah yang terdiri dari otot jantung, membentuk sebagian besar dinding jantung. Serat-serat otot ini tersusun secara spiral dan melingkari jantung. Lapisan otot ini yang akan menerima darah dari arteri koroner.

c) Endokardium

Endo berarti “di dalam”, adalah lapisan tipis endothelium, suatu jaringan epitel unik yang melapisi bagian dalam seluruh sistem sirkulasi.
lapisan jantung
lapisan jantung

Letak Jantung dan Pembagian Ruang-Ruang Jantung

A. Letak Jantung

Jantung adalah organ berotot dengan ukuran sekepalan. Jantung terletak di rongga toraks (dada) sekitar garis tengah antara sternum atau tulang dada di sebelah anterior dan vertebra (tulang punggung) di sebelah posterior.

Bagian depan dibatasi oleh sternum dan costae 3,4, dan 5. Hampir dua per tiga bagian jantung terletak di sebelah kiri garis median sternum. Jantung terletak di atas diafragma, miring ke depan kiri dan apex cordis berada paling depan dalam rongga thorax.

Apex cordis dapat diraba pada ruang intercostal 4-5 dekat garis medio-clavicular kiri. Batas cranial jantung dibentuk oleh aorta ascendens, arteri pulmonalis, dan vena cava superior. Pada dewasa, rata-rata panjangnya kira-kira 12 cm, dan lebar 9 cm, dengan berat 300 sampai 400 gram.
Posisi jantung
Posisi jantung

B. Ruang Jantung

Jantung dibagi menjadi separuh kanan dan kiri, dan memiliki empat ruang, ruang bagian atas dan bawah di kedua belahannya. Ruang - ruang atas disebut atria (atrium, tunggal) menerima darah yang kembali ke jantung dan memindahkannya ke ruang – ruang bawah yang disebut ventrikel dan berfungsi memompa darah dari jantung.
Kedua belahan jantung dipisahkan oleh septum, suatu partisi otot kontinu yang mencegah pencampuran darah dari kedua sisi jantung. Pemisahan ini sangat penting, karena separuh kanan jantung menerima dan memompa darah beroksigen rendah sementara sisi kiri jantung menerima dan memompa darah beroksigen tinggi.

1) Atrium Dekster (Serambi kanan)

Dinding atrium Dekster tipis, rata-rata 2 mm. Terletak agak ke depan dibandingkan ventrikel Dekster dan atrium Sinister. Atrium Dekster merupakan muara dari vena cava. Vena cava superior bermuara pada dinding supero-posterior.

Vena cava inferior bermuara pada dinding infero-latero-posterior pada muara vena cava inferior ini terdapat lipatan katup rudimenter yang disebut Katup Eustachii. Pada dinding medial atrium Dekster bagian postero-inferior terdapat Septum Inter-Atrialis. Fungsi atrium Dekster adalah tempat penyimpanan dan penyalur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik ke dalam ventrikel Dekster dan kemudian ke paru-paru.

2) Atrium Sinister (Serambi kiri)

Terletak postero-superior dari ruang jantung lain, sehingga pada foto sinar tembus dada tidak tampak. Tebal dinding atrium sinister 3 mm, sedikit lebih tebal dari pada dinding atrium dekster.

Endocardiumnya licin. Atrium sinister menerima darah yang sudah dioksigenasi dari 4 vena pumonalis yang bermuara pada dinding postero-superior atau postero-lateral, masing-masing sepasang vena dekster et sinister. Antara vena pulmonalis dan atrium Sinister tidak terdapat katup sejati.

Oleh karena itu, perubahan tekanan dalam atrium Sinister membalik retrograde ke dalam pembuluh darah paru. Peningkatan tekanan atrium Sinister yang akut akan menyebabkan bendungan pada paru. Darah mengalir dari atrium Sinister ke ventrikel Sinister melalui katup mitralis.

3) Ventrikel Dekster (Bilik kanan)

Terletak di ruang paling depan di dalam rongga thorax, tepat di bawah manubrium sterni. Sebagian besar ventrikel kanan berada di kanan depan ventrikel Sinister dan di medial atrium Sinister. Ventrikel Dekster berbentuk bulan sabit atau setengah bulatan, tebal dindingnya 4-5 mm.

Bentuk ventrikel kanan seperti ini guna menghasilkan kontraksi bertekanan rendah yang cukup untuk mengalirkan darah ke dalam arteria pulmonalis. Sirkulasi pulmonar merupakan sistem aliran darah bertekanan rendah, dengan resistensi yang jauh lebih kecil terhadap aliran darah dari ventrikel dekster, dibandingkan tekanan tinggi sirkulasi sistemik terhadap aliran darah dari ventrikel kiri.
Letak Jantung dan Pembagian Ruang-Ruang Jantung
Letak Jantung dan Pembagian Ruang-Ruang Jantung
Karena itu beban kerja dari ventrikel kanan jauh lebih ringan daripada ventrikel kiri. Oleh karena itu, tebal dinding ventrikel dekster hanya sepertiga dari tebal dinding ventrikel sinister. Selain itu, bentuk bulan sabit atau setengah bulatan ini juga merupakan akibat dari tekanan ventrikel sinister yang lebih besar daripada tekanan di ventrikel dekster.

Disamping itu, secara fungsional, septum lebih berperan pada ventrikel sinister, sehingga sinkronisasi gerakan lebih mengikuti gerakan ventrikel sinister. Atrium dekster dan ventrikel dekster dipisahkan oleh suatu katup atrioventrikularis (AV) yakni katup trikuspidalis.

4) Ventrikel Sinister (Bilik Kiri)

Berbentuk lonjong seperti telur. Tebal dinding ventrikel sinister 2-3x lipat tebal dinding ventrikel dekster, sehingga menempati 75% masa otot jantung seluruhnya. Tebal ventrikel sinister saat diastole adalah 8-12 mm.

Ventrikel sinister harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi tahanan sirkulasi sistemik, dan mempertahankan aliran darah ke jaringan-jaringan perifer. Sehingga keberadaan otot-otot yang tebal dan bentuknya yang menyerupai lingkaran, mempermudah pembentukan tekanan tinggi selama ventrikel berkontraksi.

Batas dinding medialnya berupa septum interventrikulare yang memisahkan ventrikel sinister dengan ventrikel dekster. Rentangan septum ini berbentuk segitiga, dimana dasar segitiga tersebut adalah pada daerah katup aorta. Atrium Sinister dan ventrikel sinister dipisahkan oleh suatu katup atrioventrikularis (AV) yakni katup bikuspidalis.

Jenis-Jenis sistem Sirkulasi Darah Pada Hewan

Tidak semua hewan mempunyai sistem sirkulasi khusus. Pada hewan berukuran kecil, berbagai macam zat seperti makanan, gas respiratori, dan sisa metabolisme dapat berdifusi melalui ruang antar sel dengan mudah. Dengan demikian, struktur khusus untuk mentranspor zat – zat tersebut tidak diperlukan. Dengan kata lain, berbagai hewan kecil tidak memerlukan sistem sirkulasi khusus untuk tarnspor berbagai macam zat.

Akan tetapi, proses difusi berlangsung sangat lambat sehingga cara tersebut tidak mungkin dapat memenuhi semua kebutuhan hewan besar ( dengan ketebalan tubuh lebih dari beberapa milimeter ) dan atau hewan yang memiliki aktivitas metabolisme tinggi.

Oleh karena itu, hewan besar dan atau hewan yang memiliki aktivitas metabolisme tinggi memerlukan sirkulasi khusus. Sistem sirkulasi khusus tersebut diperlukan untuk menjamin adanya pergerakan cairan (beserta sejumlah besar zat yang terlarut di dalamnya) ke seluruh tubuh secara cepat.

Jenis – jenis sistem sirkulasi :

A. Sistem sirkulasi terbuka

Terdapat pada artropoda dan sebagian besar mollusca. Pada hewan – hewan ini, cairan sirkulasi disebut dengan hemolimfe, juga merupakan cairan interstisial. Kontraksi satu atau lebih jantung memompa hemolimfe melalui pembuluh-pembuluh sirkulasi ke dalam sinus-sinus yang saling terkoneksi, yaitu ruang-ruang disekitar organ – organ.

Di dalam sinus, pertukaran kimiawi terjadi antara hemolimfe dan sel-sel darah. Relaksasi jantung menarik kembali hemolimfe melalui pori-pori dan pergerakan tuubuh membantu mengedarkan hemolimfe melalui peremasan sinus-sinus secara periodik.
sistem sirkulasi terbuka
sistem sirkulasi terbuka

B. Sistem sirkulasi tertutup

Darah tertahan dalam pembuluh darah dan berbeda dari cairan interstisial. Satu atau lebih jantung memompa darah ke pembuluh-pembuluh besar yang becabang-cabang ke dalam pembuluh-pembuluh yang lebih kecil melalui organ-organ. Material – material dipertukarkan antara pembuluh darah terkecil dan cairan interstisial yang merendam sel – sel.

sistem sirkulasi tertutup meliputi sistem kardiovaskuler dan sistem limfatik. Annelida (termasuk cacing tanah), chepalopoda (termasuk cumi-cumi dan gurita) dan semua vertebrata memiliki sistem sirkulasi tertutup.
sistem sirkulasi tertutup
sistem sirkulasi tertutup

Tekanan hidrostatik lebih rendah yang terkait dengan sistem sirkulasi terbuka membuat sistem tersebut membutuhkan pengeluaran energi yang lebih rendah daripada sistem sirkulasi tertutup. Pada beberapa invertebrata, sistem sirkulasi terbuka memiliki fungsi – fungsi tambahan. Misalnya, pada laba – laba, tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh sistem sirkulasi terbuka memberikan tenaga yang digunakan untuk memperpanjang kaki – kaki hewan.

Manfaat – manfaat dari sistem sirkulasi tertutup mencakup tekanan darah yang relatif tinggi, yang memungkinkan pengantaran O2 dan nutrien – nutrien yang efektif menuju ke sel – sel dari hewan – hewan yang lebih besar dan lebih aktif.

Sistem sirkulasi tertutup meliputi dua sistem, yaitu :

a. Sistem kardiovaskuler : Sistem ini meliputi cor (jantung) dengan vasa-vasanya baik arteri maupun vena
b. Sistem limfatik : Sistem ini meliputi duktus limfatikus (saluran limfe) dan cairan limfe.

Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Mamalia Ruminansia

Hewan-hewan herbivora (pemakan rumput) seperti domba, sapi, kerbau disebut sebagai hewan memamah biak (ruminansia). Sistem pencernaan makanan pada hewan ini lebih panjang dan kompleks.

Makanan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh hewan pada umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem pencernaan hewan lain.
Perbedaan sistem pencernaan makanan pada hewan mammalia, tampak pada struktur gigi, yaitu terdapat geraham belakang (molar) yang besar, berfungsi untuk mengunyah rerumputan yang sulit dicerna.

Sapi, misalnya, mempunyai susunan gigi sebagai berikut:

3   3 0 0 0 0  0  0 Rahang atas
M P C I  I  C P M Jenis gigi
3  3  0 4 4  0  3  3 Rahang bawah

I = insisivus = gigi seri
C = kaninus = gigi taring
P = premolar = gerahamdepan
M = molar = geraham belakang


Berdasarkan susunan gigi di atas, terlihat bahwa sapi (hewan memamah biak) tidak mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham lebih banyak dibandingkan dengan manusia sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah makanan berserat, yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri atas 50% selulosa.
struktur gigi pada ruminansia
struktur gigi pada ruminansia
Jika dibandingkan dengan kuda, faring pada sapi lebih pendek. Esofagus (kerongkongan) pada sapi sangat pendek dan lebar serta lebih mampu berdilatasi (mernbesar). Esofagus berdinding tipis dan panjangnya bervariasi diperkirakan sekitar 5 cm.

Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimamah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan peragian.

Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot sfinkter berkontraksi.

Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus).

Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke ornasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim.

Hewan seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti pada sapi untuk fermentasi seluIosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilaksanakan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di lambung.

sistem pencernaan pada mamalia ruminansia
sistem pencernaan pada mamalia ruminansia
Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena proses pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yakni pada sekum. Sedangkan pada sapi proses pencernaan terjadi dua kali, yakni pada lambung dan sekum yang kedua-duanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu. Pada kelinci dan marmut, kotoran yang telah keluar tubuh seringkali dimakan kembali. Kotoran yang belum tercerna tadi masih mengandung banyak zat makanan, yang akan dicernakan lagi oleh kelinci.

Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 40 meter. Hal itu dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa).Enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa menjadi asam lemak, tetapi juga dapat menghasilkan bio gas yang berupa CH4 yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.

Pencernaan Karbohidrat

Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut, dimana bahan makanan bercampur dengan ptialin, yaitu enzim yang dihasilkan oleh kelenjar saliva (saliva hewan ruminansia sama sekali tidak mengandung ptyalin). Ptialin mencerna pati menjadi maltosa dan dekstrin. Pencernaan tersebut sebagian besar terjadi di mulut dan lambung. Mucin dalam saliva tidak mencerna pati, tetapi melumasi bahan makanan sehingga dengan demikian bahan makanan mudah untuk ditelan.

Mikroorganisme dalam rumen merombak selulosa untuk membentuk asam-asam lemak terbang. Mikroorganisme tersebut mencerna pula pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan protein untuk membentuk protein mikrobial dan vitamin B. Tidak ada enzim dari sekresi lambung ruminansia tersangkut dalam sintesis mikrobial.

Amilase dari pankreas dikeluarkan ke dalam bagian pertama usus halus (duodenum) yang kemudian terus mencerna pati dan dekstrin menjadi dekstrin sederhana dan maltosa. Enzim-enzim lain dalam usus halus yang berasal dari getah usus mencerna pula karbohidrat.

Enzim-enzim tersebut adalah
  1. Sukrase (invertase) yang merombak sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
  2. Maltase yang merombak maltosa menjadi glukosa
  3. Laktase yang merombak laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.
Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Mamalia Ruminansia
Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Mamalia Ruminansia

    Anonim. 2012. Sistem Organ Hewan. http://materi78.co.nr/2012/12/orga1_bio2_1.pdf. Diakses pada 5 Maret 2015. 20:00 WIB

    Campbell, N.A., Reece, J. B., Mitchell, L. G. 2002. Biologi, edisi Kelima, Jilid 3. Jakarta : Penerbit Erlangga.

    Djuhanda, Tatang. 1984. Analisa Struktur Vertebrata Jilid 2. Bandung : Armico.

    Handari Suntora, Susilo. Dkk. 1993. Materi Pokok Anatomi dan Fisiologi Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka, Depdikbud.

    Nugroho, G. 2014. Sistem Pencernaan Hewan. http://staff.unila.ac.id/. Diakses pada 5 Maret 2015. 19:00 WIB.

    Ville. 1988. Zoology umum Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

    Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Aves

    Hewan unggas memiliki pencernaan monogastrik (perut tunggal) yang berkapasitas kecil. Makanan ditampung di dalam crop kemudian dalam empedal/gizzard terjadi penggilingan sempurna hingga halus. Makanan yang tidak tercerna akan keluar bersama ekskreta, oleh karena itu sisa pencernaan pada unggas berbentuk cair.

    Unggas mengambil makanannya dengan paruh dan kemudian terus ditelan. Makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan dicampur dengan getah pencernaan proventrikulus dan kemudian digiling dalam empedal. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas.
    Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Aves
    Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Aves
    Fungsi utama alat tersebut adalah untuk memperkecil ukuran partikel-partikel makanan. Dari empedal makanan yang bergerak melalui lekukan usus yang disebut duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas.

    Pankreas tersebut mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti hanya pada spesies-spesies lainnya. Alat tersebut menghasilkan getah pankreas dalam jumlah banyak yang mengandung enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik. Enzim-enzim tersebut berturut-turut menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton. Empedu hati yang mengandung amilase, memasuki pula duodenum.


    Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan beberapa enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan protein, dan menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula mengubah disakharida ke dalam gula-gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat diasimilasi tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus.

    Unggas tidak mengeluarkan urine cair. Urine pada unggas mengalir ke dalam kloaka dan dikeluarkan bersama-sama feses. Warna putih yang terdapat dalam kotoran ayam sebagian besar adalah asam urat, sedangkan nitrogen urine mammalia kebanyakan adalah urine. Saluran pencernaan yang relatif pendek pada unggas digambarkan pada proses pencernaan yang cepat (lebih kurang empat jam).

    Pencernaan Karbohidrat

    Setelah makanan yang dihaluskan melalui empedal ke lengkukan duodenal maka getah pankreatik dikeluarkan dari pankreas ke dalam lekukan duodenal. Pada waktu yang bersamaan, garam empedu alkalis yang dihasilkan dalam hati dan disimpan dalam kantong empedu dikeluarkan pula ke dalam lekukan duodenal.

    Garam empedu menetralisir keasaman isi usus di daerah tersebut dan menghasilkan keadaan yang alkalis. Tiga macam enzim pencernaan dikeluarkan ke dalam getah pankreas. Salah satu diantaranya adalah amilase yang memecah pati kedalam disakharida dan gula-gula kompleks.

    Apabila makanan melalui usus kecil maka sukrase dan enzim-enzim yang memecah gula lainnya yang dikeluarkan di daerah ini selanjutnya menghidrolisis atau mencerna senyawa-senyawa gula ke dalam gula-gula sederhana, terutama glukosa. Gula-gula sederhana adalah hasil akhir dari pencernaan karbohidrat.

    Pati dan gula mudah dicerna oleh unggas sedangkan pentosan dan serat kasar sulit dicerna. Saluran pencernaan pada unggas adalah sedemikian pendeknya dan perjalanan makanan yang melalui saluran tersebut begitu cepatnya sehingga jasad renik mempunyai waktu sedikit untuk mengerjakan karbohidrat yang kompleks.
    Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Aves
    Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Aves

    Pencernaan Lemak

    Garam-garam empedu hati mengemulsikan lemak dalam lekukan duodenal. Lemak berbentuk emulsi tersebut kemudian dipecah ke dalam asam lemak dan giserol oleh enzim lipase, suatu hasil getah pankreas. Zat-zat tersebut merupakan hasil akhir pencernaan lemak.

    Pencernaan Protein

    Pada waktu bahan makanan dihaluskan dan dicampur di dalam empedal, campuran pepsin hidrokhlorik memecah sebagian protein ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana seperti proteosa dan pepton.

    Pada saat lemak dan karbohidrat dicerna dalam lekukan duodenal maka tripsin getah pankreas memecah sebagian proteosa dan pepton ke dalam hasil-hasil yang lebih sederhana, yaitu asam-asam amino. Erepsin yang dikeluarkan ke dalam usus halus melengkapi pencernaan hasil pemecahan protein ke dalam asam-asam amino. Zat-zat tersebut merupakan hasil akhir pencernaan protein.

    Pencernaan Zat-zat Mineral dan Vitamin

    Zat-zat mineral dalam saluran pencernaan dilarutkan, bukan dicerna. Sebagian besar zat mineral tersebut berubah dari bentuk padat ke bentuk cair di dalam empedal. Kulit kerang dan grit misalnya dilarutkan di bagian tersebut. Pencernaan dan metabolisme vitamin dalam tubuh belum banyak dapat diketahui.

    Karoten, “prekursor” vitamin A, dirubah ke dalam vitamin A dalam tubuhnya dapat membantu vitamin C dari bagian-bagian makanan yang ditelan, Kholesterol dalam tubuh dirubah ke dalam vitamin D karena penyinaran sinar matahari atau sinar ultraviolet.

    Penyerapan dan Assimilasi

    Zat-zat makanan yang dicerna masuk melalui dinding-dinding usus ke dalam peredaran darah. Sebagian besar penyerapan sangat dipertinggi dengan adanya villi yang tidak terhitung jumlahnya.

    Zat-zat makanan yang tercerna dalam bentuk gula sederhana, asam-asam amino dan zat-zat mineral yang larut, masuk melalui permukaan dinding usus kedalam kapiler-kapiler darah.

    Cara bagaimana zat-zat tersebut masuk melalui dinding usus belum banyak diketahui. Lemak yang dicerna masuk melalui dinding usus ke dalam cairan yang menyerupai susu sistema limfatik. Di sini zat-zat tersebut membentuk lemak netral.

    Lemak dalam limfa lebih banyak merupakan lemak tubuh daripada sebagai lemak yang diperoleh dari bahan makanan. Lemak bergerak bersama-sama limfa dan memasuki aliran darah vena dekat jantung.

    Pengangkutan Zat-zat Makanan

    Zat-zat makanan yang telah dicerna setelah masuk ke peredaran darah melalui kapiler-kapiler dalam dinding usus dikumpulkan di dalam vena porta. Vena porta tersebut mengangkut darah dan zat-zat makanan yang telah diserap ke hati dalam perjalanannya ke jantung.

    Setelah makanan yang dicerna masuk melalui kapiler-kapiler hati, sebagian besar glukosa dirubah kedalam glikogen untuk disimpan di dalam hati dan otot. Sebagian asam-asam amino dan hasil-hasil zat yang mengandung nitrogen dan metabolisme jaringan mengalami deaminasi pada waktu zat-zat tersebut melalui hati.

    Bagian-bagian karbohidrat dapat digunakan untuk panas dan kegunaan-kegunaan energi dan bagian zat yang mengandung nitrogen diangkut ke ginjal untuk disingkirkan. Hati memindahkan pula sebagian lemak dan aliran darah untuk disimpan. Hal tersebut dapat dilihat pada hati yang berwarna pucat kekuning-kuningan dari ayam yang gemuk dan anak ayam yang baru menetas.

    Kotoran-kotoran yang terserap dan saluran pencernaan ke dalam peredaran darah diambil oleh sel-sel hati pada waktu darah masuk melalui kapiler-kapiler hati. Bila racun ikut terserap maka konsentrasi racun yang tinggi tersebut biasanya terdapat pada hati.

    Darah yang membawa zat-zat makanan yang telah dicerna meninggalkan hati dengan perantaraan vena hepatika menuju ke jantung. Darah tersebut melanjutkan perjalanannya dari jantung ke paru-paru untuk melepaskan karbondioksida dan air dan mengambil oksigen. Darah kembali dari paru-paru ke jantung untuk kemudian dialirkan melalui arteri-arteri ke seluruh jaringan tubuh.

    Zat-zat makanan yang telah dicerna mengalir ke kapiler-kapiler ke limfa yang membasahi sel-sel jaringan. Limfa berguna sebagai medium pertukaran antara kapiler-kapiler dan sel-sel jaringan. Limfa tersebut membawa makanan yang telah dicerna ke sel dan mengangkut sisa-sisa makanan dari sel.

    Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Amfibi

    Sistem pencernaan makanan pada amfibi, hampir sama dengan ikan, meliputi saluran pencernaan.
    Contoh salah satu amphibi adalah katak. Makanan katak berupa hewan-hewan kecil (serangga).

    Secara berturut-turut saluran pencernaan pada katak meliputi:

    1. Rongga mulut : terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang mangsa dan lidah untuk menangkap mangsa.
    2. Esofagus : berupa saluran pendek.
    3. Ventrikulus : berbentuk kantung yang bila terisi makanan menjadi lebar.
    4. Lambung katak dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya esophagus dan saluran keluar menuju anus.
    5. Intestinum (usus) : dapat dibedakan atas usus halus dan usus tebal.
    6. Usus Halus : duodenum, jejunum, dan ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya.
    7. Usus tebal berakhir pada rektum dan menuju kloaka, dan
    8. Kloaka : merupakan muara bersama antara saluran pencernaan makanan, saluran reproduksi dan urin.
    Kelenjar pencernaan pada amfibi, terdiri atas hati dan pankreas. Hati berwarna merah kecoklatan, terdiri atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobulus.

    Hati berfungsi mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan dan pancreas bewarna kekuningan, melekat diantara lambung dan usus dua belas jari (duadenum). Pankreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada duodenum.
    Sistem Digesti Pada Amfibi
    Sistem Digesti Pada Amfibi

    Mengenal Lebih Dekat Sistem Pencernaan Pada Pisces

    Saluran pencernaan pada ikan dimulai dari rongga mulut (cavum oris) yang termasuk zona ingresif. Di dalam rongga mulut ikan terdapat gigi – gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah dan lidah pada dasar mulut yang tidak dapat digerakkan, serta banyak mengandung lendir tetapi tidak menghasilkan ludah.

    Glandula Mukosa atau kelenjar lendir berfungsi untuk mempermudah jalannya makanan. Peninggian dasar mulut pun terjadi, yaitu diantara mandibularis dan arcus hyoideus, dilengkapi selaput lendir, disokong rangka hyobranchial tidak dapat bergerak / gerak terbatas, tanpa kelenjar. Terdapat organ pengecap yang sering menyelimuti lidah yang berfunsi sebagai penyeleksi makanan. Pada rongga mulut

    pisces juga terdapat organ palatin yang terletak pada langit-langit bagian belakang, dan merupakan penebalan dari lapisan mukosa. Langit – langit (palatum) tidak ada hubungannya
    dengan rongga mulut dan rongga hidung. Organ ini terdiri dari lapisan otot dan serat kolagen
    dan berfungsi sebagai proses penelanan makanan dan membantu membuang kelebihan air pada makanan yang dimakan Setelah melalui mulut makanan menuju ke esophagus (Zona Progresif) melalui faring. Dalam ikan.

    Rongga mulut meneruskan diri menjadi faring dengan beberapa pasang insang sebagai jalan masuk makanan dan air. Faring yang terdapat di daerah sekitar insang ini berbentuk kerucut dan pendek. Pada faring ini berfungsi sebagai penyaring makanan. Tetapi pada faring kadang kala masih ditemukan organ pengecap, jika ada meterial yang bukan makanan maka material tersebut akan dibuang melalui celah insang Dari esophagus (kerongkongan) makanan di dorong masuk ke lambung.

    Pada ikan, esopagusnya pendek sekali dan batas dengan ventrikulsnya tidak jelas. Terdapat di sebelah dorsal trachea, dinding ototnya tersusun oleh otot polos tetapi dibagian anteriornya serabut otot polos perlahan berubah menjadi otot rangka, kemudian makanan menuju lambung (ventricilus). Lambung pada ikan mempunyai dua fungsi, selain sebagai penampung makanan, lambung juga sebagai pencerna makanan.


    Pada ikan yang tidak berlambung, fungsi penampung makanan digantikan oleh usus depan yang dimodifikasi menjadi kantung yang membesar atau sering disebut lambung palsu. Seluruh Permukaan lambung ditutupi oleh sel mucus yang mengandung mukopolisakarida yang agak asam dan berfungsi sebagai pelindung dinding lambung dari kerja asam klorida. Pada lambung juga mempunyai sel-sel penghasil cairan gastric yang terletak dibagian bawah dari lapisan epithelium yang berfungsi untuk mensekresikan peptin dan asam klorida.

    Proses pencernaan di lambung dilakukan ada yang kimiawi dan ada pula pencernaan secara mekanik juga dilkukan di lambung. Pada ikan hebivora contohnya ikan ini menggerus makanan pada lambung, lambung tersebut sering disebut gizard atau lambung khusus. Lambung pada umum-nya membesar, tidak jelas batasnya dengan usus. Pada beberapa jenis ikan, terdapat tonjolan buntu untuk memperluas bidang penyerapan makanan. Bentuknya bervariasi, ada yang berbentuk lurus, atau huruf J. Pylorus jauh lebih kecil dari pada cardianya.

    Didalam lambung ini akan terjadi proses pencernaan protein, lemak, dan karbohidrat. Pencernaan protein di lambung akan Mengalamim denaturasi ole kerja HCl dan dihidrolisis oleh enzim pepsin, sehingga protein menjadi peptid. Pencernaan protein, lemak dan karbohidrat di lambung merupakan tahap awal, tetapi secara intensif dilakukan di usus.

    Mengenal Lebih Dekat Sistem Pencernaan Pada Pisces
    Mengenal Lebih Dekat Sistem Pencernaan Pada Pisces
    Sedangkan pada ikan yang tidak mempunyai lambung, pencernaan protein dilakukan pad usu depan oleh enzim protease Dari lambung (Zona Progresif), makanan masuk ke usus (Zona Degresif) yang berupa pipa panjang berkelok-kelok dan sama besarnya. Usus bermuara pada anus (Zona Egresif). Bagian ini merupakan segmen terpanjang dari saluran pencernaan atau tractus digesti. Pada bagian depan usus ini ada yang terdapat dua saluran dan ada yang satu saluran. Dua saluran tersebut yaitu saluran yang berasal dari kantong empedu (ductus choledochus) dan saluran yang berasal dari pancreas.

    Sedangkan yang hanya mempunyai satu saluran pada depan lambung ini, karena pancreas pada ikan tertentu tersebut menyebar pada organ hati. Jadi hanya terdapat satu saluran yaitu ductus choledochus. Lapisan mukosa usus tersusun oleh selapis sel epithelium dengan bentuk prismatic. Pada lapisan ini terdapat tonjolan-tonjolan atau prisma atau villi yang membentuk seperti sarang tawon pada usus bagian depan dan akan lebih beraturan pad usus bagian belakang. Bentuk sel yang umum ditemukan di epithelium usus adalah sel enterosit dan sel mukosit.

    Sel enterosit merupakan sel yang permukaan atasnya mengarah ke rongga usus. sel ini adalah sel yang paling dominan, yang jumlahnya akan semakin meningkat kearah bagian belakang usus. Sel enterosit memiliki tonjolan kecil atau mikrovilli kecil yang berperan dalam penyerapan makanan. Sel mukosit atau sering disebut sel penghsil lender. Merupakan sel yang berbentuk seperti piala, pada permukaan sel ini juga terdapat mikrovilli.

    Lendir ini berfungsi sebagai pelumas dan pelindung dinding usus. Perbedaan intestinum pada ikan tiap jenis ikan terletak pad bentuknya. Ikan jenis herbivore memiliki usus yang menggulung dan panjang. Sedangkan untuk ikan omnivore memiliki usus yang hampir sama dengan herbivora tetapi lebih pendek. Sedangkan untuk ikan karnivora memiliki usus pendek dan tidak menggulung Glandula digesti pada ikan, meliputi hati dan pankreas. Hepar (hati) merupakan kelenjar yang berukuran besar, berwarna merah kecoklatan.

    Haepar terdiri atas 2 lobus, fungsi hati adalah untuk menghasilkan empedu yang akan disimpan dikantung empedu untuk pencernaan lemak. Hepar adalah organ penting yang mensekresikan bahan untuk proses pencernaan. Organ ini berwarna merah kecoklatan yang tersusun oleh sel-sel hati atau hepatosit. Organ ini terletak dibagian depan rongga badan dan mengelilingi usus. Hepar pada
    ikan terdiri dari 3 lobus, yaitu lobus dorsal, lobus dexter dan lobus sinister.

    Pada sel-sel lemak atau hepatosit akan membentuk asam empedu yaitu asam yang berasal dari kolesterol, yakni asam kholik, asam khenodesoksikholik, asam desoksikholik. Selanjutnya nanti akan terbentuk garam empedu. Dan Garam empedu ini yang berperan melarutkan lemak dalam air. Vesica felea (Kantung empedu) berbentuk bulat, berwarna kehijauan terletak di sebelah kanan hati, dan salurannya bermuara pada lambung.

    Fungsi vesica felea adalah menyimpan empedu dan mengalirkannya ke usus apabila diperlukan, . jika kekurangan cairan empedu dapat menurunkan kecernaan lemak dan kekurangan vitamin-vitamin yang hanya larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, K. Pankreas merupakan organ yang berukuran mikroskopik sehingga sukar dikenali, fungsi pankreas, antara lain menghasilkan enzim – enzim pencernaan dan hormon insulin.

    Pankreas terletak berdekatan dengan usus depan dan lambung. Saluran pankreati ini bermuara pada usus depan. Warnanya kekuning-kuningan. Pada pancreas ini mempunyai dua tipe sel, yang pertama adalah sel eksokrin yang berfungsi untuk mensistesis enzim. Hasil utama pancreas eksokrin adalah enzim-enzim pencernaan, seperti protease, amylase, khitinase, dan lipase.Sel yang kedua adalah sel endokrin yang berfungsi untuk mensistesis hormon.


    Campbell, N.A., Reece, J. B., Mitchell, L. G. 2002. Biologi , edisi Kelima, Jilid 3,
    Jakarta: Erlangga.

    Djuhanda, Tatang.1984.Analisa Struktur Vertebrata Jilid 2. Bandung : Armico.

    Handari Suntoro, Susilo dkk. 1993. Materi pokok anatomi dan Fisiologi Hewan .Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.

    Nugroho, G. 2014. Sistem Pencernaan Hewan. http://staff.unila.ac.id/. Diakses pada 25 Maret 2015. 15.50 WIB.

    Nurcahyo, Heru. 2005. Sistem Pencernaan Makanan (digesti). http:// staff.uny.ac.id/. Diakses pada 25 Maret 2015 Pukul 16.00 WIB

    Tim Dosen UNNES. Struktur Tubuh Hewan. Semarang: UNNES Press.

    Yuwono, Edi. 2001. Fisiologi Hewan Air. Jakarta: Sagung Seto

    Ville. 1988. Zoology umum Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

    Pembagian Zona Sistem Pencernaan dan Kelenjar Pencernaan

    Saluran pencernaan (traktus digestivus)

    Saluran pencernaan dapat dibagi menjadi empat bagian (zona) yang secara umum menggambarkkan tahap-tahap makanan itu dicerna. Zona-zona tersebut adalah zona ingresif, progresif, degresif dan zona egresif.

    a. Zona ingresif.

    Zona ingresif adalah bagian awal tempat makanan diambil dan dimasukkan. Di dalam zona ini pada beberapa hewan sudah dimulai proses pemecahan makanan baik secara mekanik maupun kimiawi menjadi fragmen-fragmen yang lebih lembut yang memudahkan ditelan, disalurkan atau dicerna pada zona berikutnya. Zona ini meliputi celah mulut (rima onis) bibir (labia) rongga mulut cavum onis gigi (dentes) dan lidah (lingua). Labia menupakan dua lipatan berotot yang membatasi rima oris dan dapat digerakkan secara aktif untuk memegang makan.


    Sedangkan mulut dapat diantikan sebagai celah (rima oris), pintu masuknya makanan, dan rongga (cavum oris) yang terletak di belakang deretan dentes. Pada cavum oris ini dapat ditemukan sejumlah kelenjar mulut: glandula lingualis, palatina, nasalis, maxillaris, sublingualis dan glandula submaxillaris. Di sepanjang permukaan dalam pipi dan permukaan luar deretan gigi dan gusi terdapat rongga yang disebut cavitas buccalis (rongga pipi).

    Pada hewan seperti kera dan hamster, rongga pipi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai kantung penyimpan. Pada tetrapoda dalam rongga mulut terdapat lidah yang berupa bangunan berotot tebal, bagian pangkal melekat pada dasar mulut dan ujungnya umumnya dapa digerakkan untuk menangkap mangsa (misalnya pada katak dan kodok), membantu memindahkan makanan, alat pengecap dan tempat dihasilkannya enzim.-enzim.

    Makanan dalam rongga mulut akan dicerna secara mekanis oleh gigi baik dengan cara dipotong, diparut, digerus dan lain sebagainya. Namun demikian gigi juga berfungsi lain seperti untuk memegang mangsa, alat pertahanan dan membantu lokomosi.

    a. Zona progresif

    Pada zona ini makanan didorong lebih jauh dalam saluran pencernaan dan mengalami pemecahan lebih lanjut. Organ-organ yang bertanggung jawab pada zona ini adalah pharyx, esophagus dan ventriculus. Pharynx adalah suatu celah yang dibatasi oleh cavum oris dan esophagus. Dalam pharynx terdapat beberapa lubang yaitu glottis, lubang yang menuju tuba eustachii dan lubang yang menuju esophagus.

    Esophagus merupakan saluran yang panjang atau bahkan sangat pendek, tergantung dari panjangnya leher hewan, menuju ke kantung cerna, ventriculus. Pada beberapa hewan seperti unggas, esophagus membentuk pelebaran tempat penyimpan makanan sementara, ingluvies. Sedangkan pada hewan yang makanannya kasar, lapisan mucosa esophagus kadang-kadang mengalami kornifikasi. Ventriculus adalah suatu saluran yang menggelembung seperti kantong, berotot tebal dan menghasilkan kelenjar makanan.

    Bagian ventriculus yang berdekatan dengan esophagus disebut cardia, dengan sel-sel columner penghasil mucus. Bagian tengah, disebut fundus, berdinding tebal dan terdapat kelenjar gastrica yang menghasilkan enzim, HCL dan mucus. Sedangkan bagian posterior yang berhubungan dengan intestinum disebut pilorus dengan kelenjar tubuler yang menghasilkan mucus.

    b. Zona degresif

    Pada zona ini makanan yang telah mengalami modifikasi kemudian dicampur dengan bilus, cairan pankreas dan sekresi sejumlah kelenjar lainnya untuk kemudian diserap dinding-dinding intestinum. Untuk menambah permukaan absorbsi, beberapa hewan melakukan berbagai modifikasi permukaan serap.

    Contohnya membentuk typtilosol (lipatan longitudinal ke lumen intestinum) berbentuk spiral yang disebut valvula spiralis pada ikan hiu, ceca pylorica berupa tonjolan-tonjolan kecil yang terdapat antara ventrikulus dan intestinum pada ikan Acipencer, ceca coli atau coecum coli atau coecum berupa tonjolan memanjang atau membesar yang terletak antara intestinum tenue dan intestinum crassum.

    Pada herbivor modifikasi permukaan absorbsi umumnya dilakukan dengan cara rnemanjangkan intestinum dibandingkan dengan karnivor.

    c. Zona egresif

    Pada zona ini organ yang berperan penting adalah intestinum crassum yang berfungsi untuk absorbsi air dan pembentukan faeces dalam bentuk bolus-bolus, disimpan sementara sebelum kemudian dikeluarkan lewat anus (mammal). Pada umumnya ujung posterior intestinum crassum disebut cloaca.
     -----------------------------------

    Glandula Digestoria (Kelenjar Pencernaan)

    Kelenjar pencernaan utama yang terdapat dalam saluran pencernaan pada vertebrata adalah hepar (plus vesica fellea) dan pancreas

    a. Hepar dan Vesica fellea

    Hepar adalah kelenjar pencernaan paling besar. Hepar berkembang dari bagian median intestinum yang kemudian membentuk 1 atau 2 diverticula hepatica. Diverticula posterior membentuk vesica fellea dan diverticula anterior meluas dan bercabang-cabang membentuk hepar.

    Hepar menghasilkan bilus, yang dicurahkan ke duodenum apabila makanan masuk ke duodenum. Kelebihan produksi bilus akan disimpan sementara dalam vesica fellea.

    Pembagian Zona Sistem Pencernaan dan Kelenjar Pencernaan
    Pembagian Zona Sistem Pencernaan dan Kelenjar Pencernaan

    b. Pancreas

    Pancreas berasal juga dari diverticula intestinum bagian dorsal dari ventral. Pertumbuhan pancreas dorsal lebih cepat dibandingkan pancreas ventral. Pertumbuhan yang tidak sama ini menyebabkan terbawanya pancreas ventral ke mesenterium dorsalis mendekati tangkai pancreas dorsal, sehingga kedua primordial tadi bersatu.

    Torsi duodenum menyebabkan ductus ventralis akan menampung ductus dorsalis dan bersama-sama membentuk ductus pancreaticus. Letak biasanya terletak di antara parsascendens dan descendens duodeni. Pancreas adalah organ yang berfungsi ganda, yaitu sebagai kelenjar eksokrin (kelenjar pencernaan) yang mencurahkan secret (enzim amylase, trypsin damn lipase) menuju intestinum dan kelenjar endokrin (bagian insula Langerhansi) yang mencurahkan hormon ke darah.

    c. Kelenjar saliva (ludah)

    Kelenjar saliva manusia terdiri atas 3 pasang:

    1. Kelenjar parotid, terletak di depan telinga, muaranya pada gusi sebelah atas.
    2. Kelenjar mandibularis (submaksilaris) terletak di dekat mandibula (rahang bawah), muaranya di bawah lidah.
    3. Kelenjar sublingualis, terletak di dasar mulut, muaranya di bawah lidah. Pada kelenjar saliva terdapat 2 jenis sel yaitu:
      1.  Sel serosa, mensekresikan cairan serous (encer) yang mengandung enzim ptyalin (amilase). Amilase berperan mengubah amilum menjadi sakarida sederhana.
      2. Sel mukosa, mensekresikan lendir.
    kelenjar saliva
    kelenjar saliva

    Campbell, N.A., Reece, J. B., Mitchell, L. G. 2002. Biologi , edisi Kelima, Jilid 3,
    Jakarta: Erlangga.

    Djuhanda, Tatang.1984.Analisa Struktur Vertebrata Jilid 2. Bandung : Armico.

    Handari Suntoro, Susilo dkk. 1993. Materi pokok anatomi dan Fisiologi Hewan .Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.

    Nugroho, G. 2014. Sistem Pencernaan Hewan. http://staff.unila.ac.id/. Diakses pada 25 Maret 2015. 15.50 WIB.

    Nurcahyo, Heru. 2005. Sistem Pencernaan Makanan (digesti). http:// staff.uny.ac.id/. Diakses pada 25 Maret 2015 Pukul 16.00 WIB

    Tim Dosen UNNES. Struktur Tubuh Hewan. Semarang: UNNES Press.

    Yuwono, Edi. 2001. Fisiologi Hewan Air. Jakarta: Sagung Seto

    Ville. 1988. Zoology umum Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

    Saluran Digesti Pada Sistem Pencernaan Manusia

    Pada umumnya saluran digesti tersusun atas:

    1. Mulut/ oral cavity

    Di rongga mulut terdapat gigi (gerigi) yang berfungsi untuk menyobek, mengunyah zat-zat makanan secara mekanis sehingga menjadi zat-zat yang lebih kecil dan memudahkan bekerjanya enzim pencernaan. Di rongga mulut terdapat bibir, lidah dan palatum (langit-langit) untuk membantu penguyahan zat makanan, dan penelanan zat makanan. Di rongga mulut terdapat muara kelenjar air liur (saliva) yang mengandung enzim ptyalin (amilase)

    2. Faring (Pharynx)

    Merupakan persilangan antara saluran makanan dan saluran udara. Epiglotis berperan sebagai pengatur (klep) kedua saluran tersebut. Pada saat menelan makanan saluran udara ditutup oleh epiglotis dan sebaliknya jika sedang menghirup nafas.

    3. Esofagus (kerongkongan)

    Sebagai saluran panjang berotot (muskuler) yang menghubungkan rongga mulut dengan lambung. Pada batas antara esophagus dengan lambung terdapat sphincter esophagii yang berfungsi mengatur agar makanan yang sudah masuk ke dalam lambung tidak kembali ke esophagus.


    4. Gastrium (lambung)

    Di lambung, makanan ditampung, disimpan, dan dicampur dengan asam lambung, lendir dan pepsin. Mukosa lambung banyak mengandung kelenjar 3 pencernaan. Kelenjar pada bagian pilorika dan kardiaka menghasilkan lendir. Kelenjar pada fundus terdapat sel parietal (oxyntic cell) menghasilkan HCl, dan chief cell menghasilkan pepsinogen.

    Proses digesti di lambung meliputi:

    1. Pencernaan pada lambung sebatas pada protein, sangat sedikit lemak, dan karbohidrat. Absorpsi zat-zat tertentu seperti; alkohol, obat-obatan
    2. Makanan setelah melewati lambung menjadi dalam bentuk bubur makanan (chyme). Dengan mekanisme dorongan dari otot lambung chyme menuju ke usus dua belas jari (duodenum).

    5. Intestinum tenue (usus halus)

    Usus halus dibedakan menjadi 3 bagian: duodenum, jejunum, dan ileum.

    Duodenum

    Pada duodenum terdapat muara dari duktus koledokus dan duktus pankreatikus. Cairan empedu dari kantung empedu dikeluarkan lewat duktus koledokus. Cairan pankreas lewat duktus pankreatikus. Cairan pancreas mengandung enzim lipase, amylase, trypsinogen dan chemotrypsinogen. Lipase untuk memecah lemak (setelah diemulsifikasikan oleh empedu) menjadi asam lemak dan gliserol.
     Amylase untuk memecah amilum menjadi sakarida sederhana.

    Saluran Digesti Pada Sistem Pencernaan Manusia
    Saluran Digesti Pada Sistem Pencernaan Manusia

    Jejunum

    Jejunum merupakan tempat absorpsi zat-zat makanan. Proses penyerapan (absorpsi) zat-zat makanan meliputi; difusi, osmosis, dan transpor aktif.
    1. Monosakrida dan asam amino melalui mekanisme difusi fasilitasi.
    2. Asam lemak melalui mekanisme difusi biasa.
    3. Vitamin melalui mekanisme difusi biasa.
    4. Air melalui mekanisme difusi dan osmose.
    5. Elektrolit dan mineral melalui mekanisme difusi, dan transport aktif.

    Ileum

    Absorpsi melalui villi usus.

    6. Intestinum crassum (usus besar)

    Usus besar terdiri atas caecum dan colon. Caecum berupa kantung. 4 kantung dengan pita (taenia) dan haustra. Colon dapat dibedakan menjadi colon ascenden (naik), transversal (mendatar), descenden (turun). Usus besar merupakan tempat untuk absorpsi air dan mineral yang tidak terserap di usus halus. Pencernaan secara mikrobiotis oleh bakteri komensal (E. coli), menghasilkan gas, dan sintesis vit. K.

    7. Rektum

    Rektum merupakan kantung yang berfungsi menampung feses. Setelah penuh terjadi perangsangan karena ekstensi (peregangan) dinding rectum sehingga timbul keinginan untuk berak (defikasi).

    8. Anus

    Anus merupakan katup muskuler (spinchter ani) berfungsi mengatur pengeluaran tinja. Kelainan saluran pencernaan:
    1. Diare, karena adanya rangsangan yang berlebihan sehingga motilitas usus meningkat.
    2. Konstipasi, karrena defekasi yang tidak teratur dan sulit.

    Fungsi dan Proses Ontogeni Sistem Pencernaan Pada Manusia

    Sistem pencernaan secara umum dapat digambarkan sebagai suatu struktur memanjang, berkelok-kelok yang diawali oleh suatu lubang, disebut mulut dimana makanan mulai dimasukkan dan lubang akhir disebut anus, tempat sisa yang tidak tercerna itu dibuang.

    Fungsi umum sistem pencernaan yaitu:

    1. Memasukkan makanan kedalam saluran pencernaan
    2. Menyimpan makanan untuk sementara
    3. Mencerna secara fisik
    4. Mencerna secara kimiawi
    5. Mengabsorbsi hasil pencernaan
    6. Menyimpan sementara makanan yang telah tercerna, untuk kemudian mengeluarkannya.

    Tahap-tahap pencernaan makanan secara fisiologis yaitu:

    1. Pengambilan makanan (ingesti)
    2. Pencernaan (digesti)
    3. Penyerapan (absorbsi)
    4.  Pembuangan sisa makanan (defekasi)
    Makanan yang dimasukkan ke dalam mulut dengan bantuan gigi dan rahang, lidah, kaki depan, bibir, paruh, serta pharink pengisap. Organ pokok yang berfungsi menyimpan makanan untuk sementara adalah ventriculus, ingluvies, dan kantong pipi.

    Pemecahan makanan melalui fisik dilakukan dengan cara:

    1. Mengunyah, memarut, atau menggiling makanan oleh gigi, ventriculus.
    2. Mencampur makanan oleh gerakan peristaltik, antiperistaltik, segmentasi ada intervenium dan ventriculus.
    3. Melembabkan, melunakkan, dan melarutkan makanan dengan bantuan cairan mulut, lambung, intestinum.
    4. Emulsifikasi lemak untuk sekresi hepar.
    Pemecahan makanan secara kimia dilakukan terutama didalam ventriculus dan intestinum oleh enzim-enzim yang dihasilkan di dalam kedua organ tersebut dan di dalam pancreas. Untuk absorbsi hasil akhir pencernaan diperlukan permukaan yang luas untuk kontak antara sari makanan dan ephitelium intestinum, tugas ini dilakukan oleh intestinum yang paling panjang, lipatan lipatan di dalam intestinum dan villi intestinumyang panjang, lipatan-lipatan di dalam dinding intestinum di dalam dinding intestinum dan villi intestinum.
    Fungsi dan Proses Ontogeni Sistem Pencernaan Pada Manusia
    Fungsi dan Proses Ontogeni Sistem Pencernaan Pada Manusia

    Ontogeni

    Proses ontogeni sistem pencernaan dimulai saat fase gastrulasi, yaitu fase tentuknya 3 lapis benih. Lapisan endoderm, yang terletak paling dalam dan dua san lain, adalah cikal bakal terbentuknya organ-organ pencennaan.

    Pada tahap ibrional, endoderm berkembang membentuk suatu tabung panjang yang pada satu ungnya membentuk mulut dan ujung yang lain membentuk anus. Pada Vertebrata, saluran pencernaan ini hanyalah berbentuk tabung lurus, namun segera melakukan lipatan lipatan, putaran kumparan dan pertunasan (diverticulum) untuk membentuk kompleks organ.

    Divertikulum yang tumbuh dan saluran antara lain adalah hepar, kantung empedu, dan pankreas, yang terletak pada bagian tengah saluran pencernaan.

    Mengenai Saya