Cara Mengatasi Kartu Simpati Tidak Bisa Internetan Meskipun Kuota Banyak


      Beberapa hari ini,  Modem ane yang menggunakan Simpati tidak bisa konek internet. Awalnya sih bisa, cuma beberapa saat setelah saya perpanjang paket Flash malah tidak bisa internetan. Jadi Kartunya saya pindakan ke Hp saya, dan saya coba pake wifi sih normal, Tethering Internet juga bisa. saya coba dengan kartu yang lain juga tidak ada masalah. Jadi bisa saya simpulkan kartunya yang bermasalah. 

Rencananya saya mau ke konter terdekat untuk menanyakan masalah ini. Lumayan antri sebentar.  Setelah tiba giliran, saya menjelaskan permasalahan ke petugasnya. Mereka kemudian memeriksa Hp saya dan berkomentar tentang masalah yang saya hadapi. Ternyata masalahnya sederhana, walaupun Anda baru beli paket internet dan kuotanya masih banyak, kartu Anda tidak akan bisa dipake internet kalau pulsanya habis. whahahaha Ternyatu itu masalahnya, dan kebetulan pulsa saya habis. langsung dah saya beli pulsa di konter tersebut yang 10ribuan. Dan ternyata !!! wahh bener kata mereka. setelah saya belikan pulsa. Internet saya langsung bisa dan normal seperti biasanya.

Jadi, Kesimpulannya ialah. Kartu Telkomsel tidak bisa konek atau internetan jika pulsa habis dan hampir habis :D

Selamat Mencoba :D . Semoga Membantu ya..........

Inilah 10 Manusia Tertinggi Di Dunia

Micro Cyber 2 - Kali ini saya akan mengajak sobat semua untuk membahas tentang hal-hal yang unik dan aneh tentang pertumbuhan tinggi badan manusia. Ketinggian memang sangat didamba-dambakan oleh setiap pribadi masing-masing, tetapi ke 10 orang ini memiliki ukuran dan badan yang sangat tinggi tetapi banyak diantara mereka yang tak lama bertahan hidup. Penasarankah dengan mereka ? Oke langsung saja !

Inilah 10 Manusia Bertubuh Raksasa : 


1. Robert Wadlow

 Robert Wadlow

Robert Wadlow adalah manusia raksasa tertinggi dalam sejarah. Dia sering disebut sebagai Alton raksasa karena ia datang dari Alton, Illinois. Pada saat kematiannya ia ditimbang 440 pon dan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti berkembang. Dia lahir tahun 1918, tertua dari lima bersaudara. Dia meninggal pada usia 22 tahun akibat infeksi yang disebabkan oleh lecet pada ankle. Peti mati-Nya ditimbang setengah ton dan 12 pallbearers diperlukan untuk melaksanakan. Dia telah dikuburkan dalam sebuah kubah solid beton, keluarganya memiliki ketakutan bilamana tubuhnya akan Diintervensi dengan rasa ingin tahu oleh para pencari berita. Dan juga orang ini pernah dibahas dan disiarkan di salah satu televisi swasta di indonesia,


2. Johan Aason

Johan Aason

Johan dilahirkan di Amerika setelah beberapa tahun ibunya pindah dari Norwegia. Menariknya ibunya juga raksasa dengan tinggi badan 7,2 kaki. Menurut sertifikat kematiannya dari Mendocino Rumah Sakit, pada saat meninggal tercatat tinggi badannya 9,2 kaki - jika hal tersebut benar, maka ia bisa dikatakan manusia paling tinggi didunia sepanjang sejarah. Dia dikuburkan di Montana.


3. John Rogan

John Rogan

John Rogan lahir pada 1868 dan dia tumbuh normal sampai umur 13 tahun dan tingginya tercatat sampai dia meninggal dunia adalah 8,9 kaki. Karena penyakit dia ditimbang hanya 175 pon. Dia meninggal di 1905 akibat komplikasi dari penyakit.


4. John F Carroll

John F Carroll

John Carroll lahir pada 1932 dilahirkan di Buffalo, New York dan dikenal sebagai Buffalo raksasa. Meskipun banyak perawatan medis, dia tumbuh di tingkat yang sangat cepat. Dia tumbuh tujuh inci dalam beberapa bulan. Dia meninggal pada tahun 1969 dan saat itu ketinggianya tidak dicatat pada saat meninggal,namum dipercaya bahwa ia memiliki tinggi badan hampir sembilan kaki.


5. Leonid Stadnyk

Leonid Stadnyk

Leonid Stadnyk lahir pada tahun 1971 di Ukraina. Dia adalah ahli bedah hewan terdaftar dan tinggal bersama ibunya. Saat ini beliau tercatat sebagai manusia tertinggi menurut Guinness Book of Records. Sekelompok pebisnis ukraina menyumbangkan antene parabola dan komputer untuk Stadnyk dan sekarang ia memiliki akses Internet.


6. Al Tomaini

Al Tomaini

Al Tomaini adalah seorang raksasa yang diklaim memiliki ketinggian 8,4 kaki tetapi Guinness Book of Records menyatakan bahwa dia hanya memiliki tinggi 7,4 kaki. Beratnya 356 pon (162 kg) dan memakai sepatu ukuran 27, Al kebanyakan hidupnya sebagai sirkus raksasa. Dia bekerja dengan sirkus di Great Lakes Exposition di Chicago, pada 1936, saat itu dia bertemu wanita yang kemudian menjadi istrinya , Jeanie Tomaini. Jeanie lahir tanpa kaki dan hanya memiliki tinggi 2 kaki 6 in (76 cm). Setelah pensiun dari sirkus, ia menetap di Jeanie sirkus komunitas Giant’s Camp, Gibsonton, Florida.


7. Ella Ewing

Ella Ewing

Ella Ewing lahir di Missouri pada tahun 1872. Dia dikenal sebagai ‘Missouri Giant’. Dia tumbuh normal sampai usia 7 tahun, yang pada waktu ia mulai tumbuh pesat.karena kurangnya catatan dia tidak terdaftar dalam Guinness Book of Records. Ia berkesempatan menampilkan sisi-aneh sampai dia meninggal pada tahun 1913 karena tuberkulosis.


8. Edouard Beaupré

Edouard Beaupré

Édouard Beaupré, lahir pada 1881,manusia kuat, dan bintang di Barnum dan Baileys. Dia adalah anak tertua dari 20 bersaudara dan dilahirkan di Kanada. saat usianya sembilan tahun tingginya sudah mencapai 6 kaki. Sertifikat kematiannya menunjukkan dia memiliki tinggi badan 8’3 “dan masih berkembang. Sebagai orang kuat, maka fitur ini crouching bawah menghalangi pengangkatan dan kuda pada bahu. Dia dilaporkan mengangkat kuda seberat 900 pound. Dia meninggal di 1904 karena tuberkulosis.


9. Väinö Myllyrinne

Väinö Myllyrinne

Myllyrinne dilahirkan di Finlandia pada 1909. Pada satu titik dia secara resmi dijuluki manusia tetinggi didunia. Pada usia 21 tingginya mencapai 7 kaki 3,5 inci, dan ditimbang 31 batu. Dia mengalami pertumbuhan lain setelah serangan yang membawanya kepada akhir ketinggian 8 kaki 3 inci. Dia meninggal pada tahun 1963.


10. Bernard Coyne

Bernard Coyne

Coyne lahir pada 1897 di Iowa, Amerika Serikat. tahun 1918 Dunia tercatat memiliki tinggi badan 8 kaki. Guinness buku catatan entri menyatakan bahwa dia menolak masuk ke perang karena dia tinggi. Pada saat kematiannya itu mungkin dia telah mencapai ketinggian 8 kaki 4 inci. Dia meninggal di 1921 karena penyakit pada hati dan masalah dgn kelenjar. Dia dimakamkan di tempat kelahirannya,peti matinya dibuat khusus ekstra besar.


Nah, itulah kiranya yang bisa saya bagikan kepada sobat semua. Bagaimana ? apakah diantara kalian ada yang menyaingi tinggi tubuh kalian !? ahahah . Semoga artikel diatas bermanfaat untuk sobat semua :) Terimakasih~

sumber:http://www.beritaunik.net/

Inilah "Planet Alien" Paling Mirip Bumi

KOMPAS.com � Sebuah planet yang mengorbit bintang di konstelasi Lyra dinyatakan sebagai planet ekstrasolar atau "planet alien" yang paling mirip Bumi. Dunia baru itu terungkap lewat penelitian astronom dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics.

Planet yang bernama Kepler 438b itu berukuran sedikit lebih besar dari Bumi. Mengitari bintang katai oranye, astronom mengatakan bahwa planet itu menerima panas dari bintangnya 40 persen lebih banyak daripada Bumi menerimanya dari Matahari.

Dengan ukurannya yang relatif kecil, astronom memperkirakan Kepler 438b adalah planet batuan seperti Bumi. Sementara itu, dari sisi jarak, planet itu dinyatakan berada dalam zona Goldlilocks, jarak yang pas sehingga mungkin terdapat air dalam bentuk cair.

Permukaan batuan dan keberadaan air dalam bentuk cair adalah beberapa faktor yang menentukan apakah suatu planet bisa mendukung kehidupan. Faktor lain di antaranya adalah keberadaan oksigen.

Kepler 438b berjarak 470 tahun cahaya dari Bumi. Satu tahun di planet itu sangat singkat, hanya 35 hari. Dengan demikian, planet itu berevolusi terhadap bintangnya 10 kali lebih cepat dari Bumi.

Menurut para astronom, planet yang berukuran lebih kecil biasanya punya kemungkinan lebih besar menjadi planet batuan. Dengan ukuran hanya 12 persen lebih besar dari planet kita, Kepler 438b punya peluang 70 persen bahwa ia merupakan planet batuan.

Penemuan planet itu dipaparkan dalam pertemuan tahunan American Astronomical Society di Seattle, Selasa (6/1/2014). Selain Kepler 438b, astronom juga menemukan 7 planet lain yang juga berpotensi mendukung kehidupan.

Semua planet ditemukan dengan teleskop Kepler milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Teleskop itu mendeteksi keberadaan planet dengan metode transit, melihat kedipan cahaya bintang induk saat planet melintas di depannya.

Planet lain yang ditemukan adalah Kepler 442b, juga berada di konstelasi Lyra. Berjarak 1.100 tahun cahaya, planet itu berukuran sepertiga Bumi dan menerima cahaya bintang dua pertiga dari yang diterima Bumi lewat Matahari. Ada peluang 60 persen bahwa dunia itu adalah planet batuan.

Guilerno Torres, seperti dikutip The Guardian, Selasa, mengungkapkan bahwa berdasarkan ukuran dan jumlah cahaya yang diterima dari bintangnya, dua dunia itu merupakan planet yang paling mirip Bumi.

Sebelumnya, planet yang paling mirip Bumi adalah Kepler 186f dan Kepler 62f. Masing-masing berukuran 10 persen dan 40 persen lebih besar dari Bumi serta menerima cahaya 33 persen dan 41 persen dari yang diterima Bumi.

Astronom belum mengetahui apakah kedua planet itu memiliki atmosfer. Namun, bila keduanya diliputi gas, suhunya bakal sekitar 60 derajat celsius untuk Kepler 438b dan 0 derajat celsius untuk Kepler 442b.

Tim Harvard Smithsonian Center for Astrophysics mengonfirmasi setiap planet yang dideteksi dengan program bernama Blender. Konfirmasi diperlukan sebab kedipan cahaya bisa juga ditimbulkan bila bintang yang dilihat adalah bagian dari sistem bintang ganda.

Dengan analisis statistik tertentu, program Blender bakal memastikan bahwa planet yang terdeteksi nyata. Dari total 12 planet yang terdeteksi oleh tim Harvard, 11 planet dinyatakan 99,7 persen eksis.

Pada masa depan, penelitian tentang "planet alien" dapat lebih detail dengan bantuan James Webb Telescope dan European Extremely Large Telescope yang kini sedang dibangun di Cile. Dengannya, manusia bukan hanya bisa menemukan planet baru, melainkan juga menganalisis atmosfernya.

Djoko Tjahjono Iskandar, Ahli Katak Indonesia yang Bikin Geger Dunia

KOMPAS.com � Ketika publikasi berjudul "A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles" muncul di jurnal PLOS ONE pada 31 Desember 2014 lalu, dunia terkejut.

Media sains dan umum di dunia internasional ramai mengutip publikasi tersebut. Sejumlah pakar reptil dan amfibi dunia menyatakan bahwa publikasi tersebut mengagumkan sekaligus sangat berharga.

Makalah memuat penemuan spesies baru katak bertaring Sulawesi, Limnonectes larvaepartus. Bukan cuma kebaruan jenis yang membuat dunia terkejut, melainkan juga kebaruan reproduksinya. Katak itu merupakan satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.

Dunia bertanya-tanya, bagaimana bisa katak yang tak memiliki penis melakukan pembuahan di dalam tubuh? Bagaimana caranya menyetor sperma ke betina? Lalu, bagaimana mungkin katak tak bertelur, tetapi langsung melahirkan kecebong?

Djoko Tjahjono Iskandar adalah herpetolog (pakar amfibi dan reptil) di balik penemuan katak itu. Dia adalah ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berkali-kali membuat geger dunia sains lewat temuan-temuannya.

Pria kelahiran Bandung, 23 Agustus 1950, tersebut memulai karier sebagai herpetolog pada tahun 1978. Pilihannya menekuni katak dan reptil sangat tidak populer. "Waktu itu belum ada ahli katak di Indonesia. Saya satu-satunya. Bisa dibilang saya pioneer," katanya.

Untuk menekuni katak-katak Indonesia, dia harus belajar dari ahli dari luar negeri. Ia berkorespondensi lewat surat, salah satunya dengan Robert Frederick Inger, ahli katak dan reptil dari Field Museum yang juga banyak mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia.

Ketekunan Djoko membuahkan hasil. Hanya tiga tahun setelah memulai kariernya, pria yang meraih gelar doktor dari Universit� Montpellier 2 di Montpellier Perancis ini menemukan Barbourula kalimantanensis, katak famili Discoglossidae pertama yang ditemukan di Borneo.

Tahun 2008, ia kembali meneliti Barbourula kalimantanensis. Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 6 Mei 2008 mengungkap fakta baru. Katak kepala pipih itu ternyata tidak punya paru-paru.

"Waktu itu geger juga. Jenis itu adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak memiliki paru-paru, bernapasnya dengan kulit," ungkap Djoko yang mengaku menemukan jenis katak itu di Sungai Pinoh, bagian dari Kapuas, Kalimantan Barat.

Studi kemudian mengungkap bahwa populasi Barbourula kalimantanensis sangat minim. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa spesies tersebut terancam punah pada 3 Juni 2013.

Selain Barbourula kalimantanensis, penemuan spektakuler Djoko lain adalah Cyrtodactylus batik. Spesies itu adalah cicak jari bengkok yang ditemukan di Gunung Tompotika, wilayah Sulawesi Tengah.

"Coraknya memang seperti batik," kata Djoko. Ia menyebutnya sebagai spesies cicak tercantik yang pernah ditemukan. Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa pada 29 April 2011.

Malang melintang dalam dunia ilmu katak dan reptil, Djoko telah menjelajahi hutan di sebagian besar wilayah Indonesia. "Saya sudah ke 30 provinsi, tinggal dua yang belum, Bangka Belitung dan Maluku Utara," ujarnya.

Sepanjang kariernya, ia telah menemukan 30 spesies katak dan reptil. Beberapa spesies menggunakan namanya, seperti Luperosaurus iskandari, Fejervarya iskandari, Collocasiomya iskandari, dan Draco iskandari.

Djoko mengungkapkan, sebenarnya banyak spesimen yang belum bisa diidentifikasi. "Saya sudah temukan 30, tetapi masih ada sekitar 150 yang belum bisa saya ungkap," katanya yang pernah menerima penghargaan Habibie Awards ini.

Alasan belum bisa terungkap, kata Djoko, adalah spesimen yang belum lengkap jantan dan betinanya serta adanya spesimen yang rusak. Jika spesimen minim, pernyataan kebaruan jenis dapat dengan mudah dibantah sebagai hanya variasi.

Usia Djoko kini sudah menginjak 64 tahun. Penjelajahan ke hutan-hutan baginya tetap merupakan kegiatan paling menyenangkan, tetapi tak lagi semudah sewaktu dia masih muda dahulu.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa menjadi tua bukan alasan untuk tidak masuk ke hutan. Tahun lalu, saat penjelajahan ke Sulawesi mengungkap spesies Limnonectes larvaepartus, ia tinggal satu bulan di hutan.

Menjelajah hutan saat usia tua, lutut Djoko sering bengkak dan butuh waktu lama untuk pulih. Secara bercanda, dia mengungkapkan, "Mungkin nanti kalau ke hutan tidak perlu satu bulan lagi, cukup satu minggu."

Dengan banyaknya spesies yang belum terungkap, baik dalam koleksi maupun di alam, Djoko berharap ada lebih banyak orang yang menaruh perhatian pada katak dan reptil. Walaupun, mempelajarinya tak akan banyak mendatangkan manfaat ekonomi segera.

Menurut dia, saat ini sudah muncul beberapa pakar katak dan repril berpotensi. Namun, ia mengatakan, perlu lebih banyak remaja yang tertarik untuk menjadi penerusnya. "Saya kan tidak mau jadi raja sendiri, perlu musuh, butuh orang yang bisa membantah saya," ucapnya.

Mempelajari keanekaragaman hayati, kata Djoko, akan membuat siapa pun sebagai warga negara merasa puas karena diakui sekaligus bangga karena telah peduli pada alam Indonesia yang mahakaya.


Apa sebenarnya yang dimaksud dengan katak yang melahirkan? Apakah pengertiannya sama dengan manusia yang melahirkan bayi? Seperti apa pula kekhasan Limnonectes larvaepartus?
Baca di tautan berikut:

Katak Baru dari Sulawesi Mengejutkan Dunia karena Bisa Melahirkan
Penemuan Limnonectes larvaepartus bukan lewat proses satu dua hari. Butuh ketekunan mengamati dan ketangguhan ketika menjelajahi  hutan selama hampir dua dekade untuk mengonfirmasinya sebagai spesies baru. Baca kisahnya di tautan berikut.


Kisah Ilmuwan ITB Menemukan Satu-satunya Katak di Dunia yang Melahirkan Kecebong

Jelajahi Hutan, Ilmuwan Ungkap 98 Jenis Kumbang yang Tak Bisa Terbang dari Indonesia

KOMPAS.com � Menjelajah hutan Sumatera hingga Sumbawa dan meneliti serasahnya, Alexander Riedel dari Natural History Museum di Karlsruhe serta Cahyo Rahmadi dan Yayuk Suhardjono dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil mengungkap 98 jenis kumbang baru.

Semua kumbang yang ditemukan termasuk dalam genus Trigonopterus. Genus ini mencakup kumbang-kumbang mini bermoncong panjang yang tidak memiliki kemampuan terbang, malas bergerak. Kumbang dalam golongan ini acap kali disebut "flightless beetle".

Trigonopterus adalah serangga yang hidup di lantai hutan, tempat lembab yang tertutupi oleh sampah organik hutan. Karena itu, upaya koleksi harus dilakukan dengan mengayak serasah dengan tangan.

"Ekspedisi sebenarnya sudah dilakukan lama. Kita mulai tahun 2004 dan beberapa kali sesudahnya. Kita targetkan misal tahun ini hutan Sumatera, ke depannya Jawa, dan seterusnya," kata Yayuk.

Penjelajahan ke sejumlah wilayah hutan di Sumatera, Jawa, Palawan, Bali, Lombok, dan Sumbawa berhasil mengumpulkan spesimen Trigonopterus dalam jumlah yang fantastis, lebih dari 4.000.

Identifikasi pun dimulai sesudahnya. "Kami lakukan identifikasi dengan melihat morfologinya. Selain itu, kita juga lakukan analisis molekuler," ungkp Yayuk saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/1/2015).

Lewat proses identifikasi, akhirnya diketahui ada 98 jenis baru kumbang mini tak bersayap. Penemuan kumbang ini dipublikasikan di jurnal Zookeys pada 22 Desember 2014 lalu.

Zookeys T baliensis. Habitus (kiri), penis (kanan)

Salah satu yang mengagumkan adalah adanya delapan spesies Trigonopterus dari Bali. Contohnya ialah Trigonopterus baliensis. Temuan ini mengejutkan mengingat sebagai wilayah tujuan wisata, Bali relatif sudah mengalami kerusakan.

Spesies lain yang ditemukan antara lain T alaspurwensis, T kintamanensis, T diengensis, dan lainnya. Salah satu spesies baru dinamai T cahyoi karena dikoleksi pertama kali oleh Cahyo Rahmadi.

Spesies lain mungkin mengajak kita untuk belajar berhitung karena dinamai dengan angka, yaitu T satu, T dua, T tiga, dan seterusnya hingga T dua belas. Ada pula spesies dengan nama gunung, yaitu T gedensis dan T halimunensis.

Untuk identifikasi morfologi, peneliti menggunakan beragam karakteristik, misalnya penis. T empat memiliki penis dengan alat transfer kecil, sementara T lima memiliki penis dengan alat transfer lebih kokoh.

Dalam publikasinya, tim peneliti mengungkapkan bahwa hasil penelitian ini akan menjadi basis data sekaligus informasi taksonomi penting dalam dunia ilmu serangga. Hasil riset juga menggarisbawahi perlunya upaya konservasi hutan sebab serasahnya pun menyimpan keragaman hayati tinggi.

Zookeys T halimunensis. Habitus (kiri), penis (kanan).

80 Tahun "Hilang", Kumbang Mini Asal Lampung Kembali Ditemukan

KOMPAS.com - Tahun 1925, K.W. Dammerman menemukan kumbang mini jantan dari Pantai Pedada, Lampung. Dia yang saat itu kurator di Museum Zoologi Bogor lalu mengoleksi hewan tersebut dan melabelinya dengan nama "Trigonopterus sp. 319�.

Trigonopetrus adalah jenis kumbang mini bermoncong panjang yang hidup di seresah tanah. Dalam bahasa Inggris, kumbang ini dikenal dengan "movingless beetle" atau "flightless beetle". Dinamai begitu sebab memang "malas" bergerak dan tidak bisa terbang.

Ciri-ciri "Trigonopterus sp. 319� kemudian dideskripsikan. Spesimen itu dinyatakan sebagai Trigonopterus amphoralis Marshall. Nama Marshall merujuk pada orang yang mendeskripsikannya sebagai spesies baru saat itu.

Ada beberapa spesimen T amphoralis yang tersebar di dunia. Dua spesimen jantan ada di Museum Zoologi Bogor (MZB). Sementara, sejumlah spesimen lain ada di British Museum of Natural History di London.

Seharusnya, upaya mempelajari spesies itu kembali mudah sebab spesimen ada di museum. Namun, ketika ahli Trigonopterus dari Natural History Museum di Karlsruhe, Alexander Riedel, hendak mempelajari spesies itu 80 tahun kemudian, situasinya jadi rumit.

Dalam publikasi di Zookeys, 22 Desember 2014 lalu, Riedel yang bekerja sama dengan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cahyo Rahmadi serta Yayuk Suhardjono, tidak berhasil menemukan spesimen hewan itu.

Ketika mencari di British Museum of Natural History, situasinya tak kalah runyam. Ada spesimen yang dilabeli dengan T amphoralis. Namun, ketika diteliti, ciri-cirinya sangat berbeda.

Demikianlah, T amphoralis "hilang". Di museum Inggris, kata peneliti, mungkin spesimen sempat terlepas dari kartu yang menerangkan identitasnya. Lalu, ketika petugas museum merapikan, spesimen dilekatkan pada kartu identitas yang berbeda.

Kerumitan berhasil dipecahkan ketika Riedel bersama Cahyo dan Yayuk melakukan serangkaian ekspedisi penelitian Trigonopterus di Jawa, Sumatera, Bali, Palawan, Lombok, Sumbawa, dan Flores.

Tim peneliti berhasil mendapatkan kembali spesimen T amphoralis di sejumlah wilayah Bukit Barisan Selatan, Sumatera. Berdasarkan spesimen itu, tim mendeskripsikan ulang spesies T amphoralis.

T amphoralis diantaranya memiliki antena dan kaki hitam, berukuran rata-rata 3,02 mm, dan tubuh memanjang. Spesies ini tersebar di wilayah Lampung, Sukaraja, P Liwa, dan wilayah Bukit Barisan Selatan lain.

Yayuk ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (6/1/2015) mengungkapkan, T amphoralis berhasil dideskripsikan ulang dalam riset yang menemukan 98 jenis kumbang Trigonopterus baru dari Indonesia.

Penemuan tersebut menggarisbawahi keragaman hayati Indonesia. Bayangkan, hanya dengan meneliti seresah di atas tanah, hampir seratus jenis kumbang dari satu genus berhasil ditemukan.

Setelah penemuan, kata Yayuk, penting untuk menjaga kelestarian lingkungannya. Penting pula untuk melakukan bioprospeksi, agar penemuan jenis baru bisa mendatangkan manfaat nyata.

Usia Bintang Bisa Ditebak dari Kecepatan Berputarnya

KOMPAS.com - Beberapa pakar astronomi mengklaim bahwa umur sebuah bintang dapat ditetapkan dari kecepatan berputarnya.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, para ahli mengetahui bahwa perputaran bintang melambat seiring dengan waktu. Namun, penelitian tersebut kurang mendapat sokongan data untuk membuat perhitungan yang tepat.

Untuk pertama kalinya, sebuah tim asal Amerika Serikat mengukur kecepatan gerakan bintang yang berusia lebih dari satu miliar tahun - dan hasilnya tepat seperti prediksi mereka.

Temuan ini menjawab pertanyaan lama dan memungkinkan para astronom memperkirakan usia sebuah bintang hingga 10 persen.

Penelitian ini dipresentasikan pada pertemuan American Astronomical Society di Seattle dan muncul dalam jurnal ilmiah Nature.

Menutup spekulasi

Menetapkan usia bintang adalah pertanyaan penting di bidang astronomi � sama halnya seperti menetapkan usia fosil sangat penting untuk mempelajari evolusi.

Metode ini berlaku untuk �bintang dingin� � bintang yang lebih kecil atau sebesar matahari. Mereka adalah bintang yang paling umum dan bertahan paling lama di galaksi kita.

�Mereka bertindak sebagai lampu, menyinari bahkan bagian tertua dari galaksi kita," kata penulis senior Dr Soren Meibom dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.

Bintang dingin juga mengelilingi beberapa planet yang mirip dengan bumi.

Karakteristik sebuah bintang - seperti ukuran, massa, kecerahan dan temperatur � kebanyakan tetap sama selama sebagian besar usianya.

Inilah yang mempersulit perhitungan usia sebuah bintang.

Solusi yang menggunakan kecepatan berputar sebagai perhitungan usia bintang pertama kali diusulkan pada tahun 1970-an dan baru diberi istilah �gyrochronology� pada 2003.

"Sebuah bintang yang dingin berputar sangat cepat ketika masih muda. Namun, seperti gasing, lama-lama gerakannya melambat,� kata Dr Meibom.

Tetapi ternyata sangat sulit untuk melihat perputaran bintang. Para astronom menggunakan bintik matahari, namun itu hanya meredupkan cahayanya kurang dari 1 persen.

Bintang yang lebih tua lebih susah dilihat karena mereka memiliki bintik yang lebih kecil dan jarang.

Tim Dr Meibom menggunakan gambar dari teleskop ruang angkasa untuk mengukur kecepatan putar 30 bintang di gugusan yang diketahui berumur 2,5 miliar tahun.

Kelompok bintang yang bernama NGC 6819 ini menjawab pertanyaan yang Dr Meilbom sebut sebagai �kesenjangan empat miliar tahun�

Penelitian setengah jadi

Sebelum misi Kepler, kita hanya memiliki data dari bintang yang sangat dingin yang berada pada gugusan yang sangat muda, semua berusia kurang dari 0,6 miliar tahun dan semua berputar cukup cepat (sekitar sekali seminggu).

Pada 2011, tim Dr Meibom menggunakan foto-foto tangkapan Kepler untuk melaporkan gugusan yang berbeda, yaitu NGC 6811 yang usianya satu miliar tahun. Bintang dingin dalam gugusan tersebut sekitar sekali setiap 10 hari.

Selain dari itu, satu-satunya bintang yang kita tahu usianya dan masa berputarnya hanyalah matahari - yang berusia 4,6 miliar tahun dengan masa berputar 26 hari.

�Jadi perhitungan masa berputar bintang dingin harus ditahan sementara,� kata Dr Meibom ketika itu.

Sekarang, adanya gugusan ini menjawab celah pengetahuan astronomi mengenai usia bintang. Bintang-bintang di gugusan baru tersebut terlihat memuaskan dan berputar setiap 18 hari.

�Data dan observasi baru ini menunjukkan kepastian,� kata Dr Meibom.

�Kami dapat menghitung usia dengan akurasi 10 persen dengan metode ini.�

Ia juga menambahkan bahwa ini adalah peningkatan yang tinggi dibandingkan metode lainnya yang memiliki batas kesalahan hingga 100 persen.

Ruth Angus, mahasiswi program doktoral yang sedang meneliti gyrochronology di University of Oxford, mengatakan bahwa hasil penelitian ini merupakan �hal yang besar�untuk bidang tersebut.

"Makin banyak bukti telah menunjukkan bahwa semua bintang tampaknya mengikuti pola ini, namun kepastian bahwa semua bintang bersifat sama belum ada," kata Ms Angus.

"Gugusan ini tentu akan membantu pemahaman kita mengenai keunggulan gyrochronology adalah sebagai metode yang valid.�

"Hal ini menunjukkan bahwa bintang-bintang tersebut hanya melakukan apa yang diharapkan dari mereka, dan itu sangat bagus."

Mengenai Saya